Berita

Tradisi Lebaran Sambil Naik Delman di Polewali Mandar

infobudaya.net – Bersilaturahmi dengan keluarga tentu sudah menjadi tradisi umat Islam pasca lebaran. Tetapi ada tradisi unik dari sulawesi barat saat bersilaturahmi dengan keluarga atau saudara yaitu dengan berkunjung menggunakan belasan delman atau bendi secara berkelompok. Mereka berkeliling kampung mengunjungi sanak keluarga, tokoh masyarakat dan ulama untuk membangun ukhuwah persaudaraan. Cara unik ini dianggap sebagai salah satu cara mentradisikan atau melanggengkan ciri khas Islam Nusantara yang tidak memandang latar belakang agama, adat istiadat, suku, etnis, dan budaya.

Selain mengunjungi sanak keluarga, mereka juga berziarah ke makam sanak keluarga dan makam para ulama ternama di Polewali Mandar. “Saling mengunjungi sanak keluarga, tokoh masyarakat secara berkelompok sebagai bentuk aktualisasi Islam Nusantara yang kian pudar seiring munculnya tradisi modern yang lebih cenderung mengedepankan budaya hedonistis yang individualis” kata Abdul Syahid salah satu warga pambusuang. Dengan menggunakan bendi tradisional yang masih menjadi sarana transportasi sebagian desa di Polewali Mandar, warga asal Kecamatan Pambusuang berkeliling kota dan desa menyapa sanak keluarga, tokoh masyarakat, ulama bahkan ke makam-makam Raja Balanipa pascalebaran. Abdul Syahid, salah satu warga Pambusuang yang ikut melestarikan tradisi ala desa di Polewali Mandar ini mengatakan, tradisi bersilaturahim menggunakan delman seperti ini lebih membangun suasana kebersamaan dengan sanak keluarga yang terpisah desa dan kecamatan.

Bendi silaturahmi ini selain hemat biaya juga dipercaya bisa membangun suasana kebersamaan dan kekeluargaan pascalebaran serta minim kecelakaan.tradisi bersilaturahim secara berkelompok kepada sanak keluarga yang terpisah kampung, dusun dan kecamatan ini dulu sering dilakukan warga desa pascalebaran. “Inilah salah satu bentuk aktualisasi Islam Nusantara yang tidak memandang latar belakang budaya, suku, dan agama. Sayangnya tradisi ini kian terkikis zaman akibat munculnya budaya-budaya modern,” ujar Abdul Syahid, Senin (20/7/2015).

 

Sumber

KOMPAS.COM


Lebih jauh tentang

 

Previous post

Teknologi Kampung (Harus) Tembus Swalayan

Next post

Even internasional "Festival Danau Matano"

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.