#DanauToba#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Penyelenggaraan Upacara Adat Horja Bius dan Maknanya

Danau Toba tak hanya dianugerahi alam yang menawan, selain indah dipandang dari sudut mana pun, sejarah peradaban bagaimana Batak lahir hingga ragam rutinitas adat yang dijalani sehari-hari menjadi daya tarik tersendiri. Itulah mengapa amat beruntungnya bangsa ini dianugerahi danau terbesar di Asia Tenggara. Horja Bius adalah sebuah upacara adat tradisional Suku Batak Toba khususnya yang tinggal di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Upacara adat ini merupakan sebuah adat musyawarah antar warga untuk menyelesaikan sebuah permasalahan guna menghasilkan suatu kesepakatan atau keputusan untuk dijalankan bersama-sama.

Dahulu, di dalam upacara Horja Bius selalu disertai dengan upacara Manghalat Horbo sebuah upacara ucapan syukur kepada leluhur atas upayanya dalam membuka desa bagi warga setempat dengan mempersembahkan hewan-hewan pilihan atau lebih tepatnya kerbau pilihan. Namun masa kini telah dimodifikasi menjadi sebuah teater kolosal, untuk melestarikan budaya Batak Toba yang sudah tidak dilakukan dan mendukung perkembangan potensi pariwisata Danau Toba sebagai tujuan wisata kelas dunia. Upacara Horja Bius memiliki pengaruh dari Parmalim. Sebelum Kekristenan diterima suku Batak Toba, mereka merupakan bagian dari penghayat kepercayaan Parmalim. Kini, hanya beberapa orang saja dari jutaan warga suku Batak Toba di seluruh penjuru negeri yang masih menganutnya yang pada umumnya tinggal menetap di pulau Samosir dan sekitarnya.

Berdasarkan sejarah ada tiga elemen penting suku Batak Toba yang mengatur sistem musyawarah dalam kehidupan bermasyarakat, yakni Huta, Horja dan Bius. Huta secara harafiah diartikan sebagai suatu kelompok perhimpunan. Setiap Huta dipimpin oleh Raja Huta, orang yang membuka perkampungan itu, biasanya selalu berkaitan dengan marga. Dalam pagelaran pesta Horja Bius diadakan yang namanya Hahomion. Ritual Hahomion adalah upacara yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu yang ditujukan untuk pemujaan kepada roh leluhur dan kekuatan gaib. Maksud diadakannya Ritual Hahomion untuk memberikan sesajen atau persembahan kepada kekuatan gaib dan roh leluhur. Nenek moyang kita dahulu percaya bahwa roh leluhur masih memiliki peran dalam kehidupan keturunannya. Mereka juga percaya bahwa roh nenek moyang senantiasa memantau kehidupan sosial kemasyarakatan. Persembahan ini dimaksudkan sebagai bukti nyata dari warga untuk pengakuan akan adanya kekuatan gaib yang mengiringi kehidupan.

Tujuan ritual Hahomion untuk memohon agar roh dan kekuatan gaib tetap memantau kehidupan warga dan memohon kepada Mulajadi Na Bolon agar senantiasa memelihara, mendatangkan kemakmuran, dan ketentraman hidup warga. Horja Bius terdiri dari beberapa ritual, mulai Ulaon Hahomion, Tortor Tunggal Panaluan, Tortor Parsiarabu, Marjoting, Pajongjong Borotan, Makharikkiri Horbo, ditutup Mangalahat Horbo. Ulaon Hahomion berisi ziarah ke tambak (makam) Dolok Ompu Raja Sidabutar dan mangalopas tu mual natio. Ini merupakan ritual penghormatan kepada roh-roh leluhur untuk memohon berkat perlindungan dan kelancaran dalam melaksanakan tahapan-tahapan upacara selanjutnya. Di Desa Tomok, Horja Bius menjadi salah satu acara tahunan, bagian dari Horas Samosir Festival. Dikemas dalam bentuk teater kolosal, modifikasi yang tidak melunturkan kesakralan. Pada masanya, Horja Bius Tomok adalah persembahan kepada leluhur Ompu Raja Sidabutar yang telah mendirikan Kampung Tomok.

Kepercayaan ini terpatri hingga saat ini bagi mereka yang memegang teguh budaya habatakon. Ziarah kubur penyajian sesajen seekor kambing yang dimasak dan dipotong sesuai potongan sendi tulang, juga ayam putih dan merah jantan, sagu-sagu, itak nani hopingan, itak gurgur, assimun, anggir pangurason dan aek naso ke mida mataniari. Semua persembahan dijunjung oleh perempuan Batak yang mengenakan Ulos. Gondang Sabangunan mengiringi arakan menuju makam. Aroma kemenyan yang telah dibakar menyambut, mengundang kehadiran sosok dan kekuatan gaib untuk hadir dan menyatu dalam ritual. Sajen diletakkan di atas makam, sembari mangalopas tu mual nation atau melepaskan ayam putih ke Danau Toba. Usai ragam ritual di hari pertama, masuklah ke acara puncak, yakni mangalahat horbo. Seekor kerbau akan ditombak untuk persembahan. Ini bukan kerbau sembarangan, harus yang hidup liar lalu ditangkap dari hutan. Enam pria dewasa dan seorang perempuan yang mengenakan Ulos mengarak menuju tiang tambat. Dari belakang, Raja Bius menyaksikan. Dahulu, kerbau ditombak untuk memastikan kematiannya, tapi pada Horja Bius, tombak sang Dukun tak langsung menghujam. Tusukan dilakukan hanya sekedar simbol, kerbau disembelih dengan pisau.

Mangalahat Horbo Bius dilakukan untuk mengawali atau pembukaan sebelum orang Batak turun ke sawah. Ritual ini untuk kesuburan tanah, perkembangbiakan ternak, dan kesejahteraan manusia,” kata Hartoba Tohris Sidabutar. Mangalahat Horbo punya tiga tujuan berbeda, yaitu sebagai upacara turun ke sawah, ucapan rasa syukur dan meminta keturunan, dan upacara peringatan orangtua yang sudah meninggal dunia, serta upacara perayaan tertentu. Setelah disembelih, daging kerbau dibagi-bagi kepada tuan rumah yang menggelar pesta, serta kepada yang berhak menerima sesuai ketentuan adat. Bila sabar menunggu, para tamu pun bisa menikmati daging yang telah dimasak dan makan bersama warga kampung.

Perlengkapan bahan makanan berasal dari hewan, ikan, tepung beras, buah-buahan di antaranya adalah:

  1. Satu Ekor Kambing Putih (hambing putih) yang dimasak dan dipotong sesuai potongan sendi tulang kambing, bagian kepala, leher, dada/badan, pangkal paha bagian atas, paha bagian tengah kaki bagian depan dan belakang. Daging kambing ini dimasak dengan bumbu seperti cabai, garam, jahe, lengkuas, sereh, bawang merah dan bawang putih, ketumbar gonseng, merica, buah pala, dan jintan. Semua bahan secukupnya dibuat seperti bumbu kare, disajikan, disusun sesuai urutan ketika hewan ini hidup dalam pinggan pasu/piring besar dari keramik.
  2. Ayam Putih Jantan (Manuk Putih Jantan/Manuk Mira), dipotong sesuai potongan sendi tulang ayam, potongan berupa; kepala, leher, dada, tuah/punggung, rempelo/bagian dalam perut, sayap, paha pangkal, paha bawah, kaki dan buntut dimasak dengan bumbu cabe, garam, jahe, lengkuas, sere, bawang merah, bawang putih, ketumbar gonseng, merica, buah pala dan jintan. Semua bahan secukupnya dibuat seperti bumbu kare disajikan/disusun sesuai urutan ketika hewan hidup dalam pinggan pasu atau piring biasa/piring keramik putih ukuran sedang.
  3. Ayam Jantan Merah Panggang (Manuk Mira Narara Pedar) dipotong sesuai potongan sendi tulang ayam, potongan berupa; kepala, leher, dada, tuah/punggung, rempelo/bagian dalam perut, sayap, paha pangkal, paha bawah, kaki, buntut, ayam dicuci dan dipanggang, darahnya dicampurkan ke bumbu dan dilumuri secara menyeluruh. Ayam ini yang memasak khusus suami dan hanya para suami yang boleh makan ayam ini nantinya bila ritual selesai. Disajikan dalam pinggan pasu dengan posisi ayam duduk.
  4. Ayam Jantan (Manuk Faru Basi Bolgang). Ayam ini utuh ditujukan kepada yang sakti, ayam dipotong dibelah/dikeluarkan bagian dalam perutnya, direbus/dikukus sampai matang, sebelum direbus diberi bumbu rendang tapi tak memakai santan.
  5. Sagu-sagu. Bahan kue ini dari tepung beras dimasak tanpa gula kemudian dipadatkan dan dibentuk menggumpal/membulat. Kue ini dimaksudkan sebagai lambang pemberi semangat.
  6. Itak Nani Hopingan, kue dari tepung beras dicampur dengan pisang, gula putih, gula merah ditumbuk/dicetak bisa berbentuk bulat diletakkan di piring. Di atas itak nani hopingan diberi telur, bunga raya dan roddang (kembang jagung), pisang dan menge-mangeni pining (bunga pinang). Kue ini dimaksudkan sebagai lambang minta doa restu.
  7. Itak Gurgur atau Pohul-pohul. Bahan kue ini dari tepung beras, gula putih, kelapa digongseng setengah matang dicampur sampai menyatu dan dapat dibentuk, dengan menggunakan jari/genggaman.
  8. Ihan Batak yakni ikan khusus dari danau toba yang dimasak utuh satu ekor dengan terlebih dahulu dibersihkan bagian perut dan diberi bumbu cabai, garam, jahe, lengkuas, serre, bawang merah dan bawang putih, ketumbar gonseng, merica, buah pala, dan jintan. Semua bahan secukupnya dibuat seperti bumbu kare, disajikan di atas nasi kuning yang diberi bumbu disertakan dengan pisang, itak gurgur, dan bahan lainnya.
  9. Anggir pangurason yakni air yang dicampur dengan jeruk purut, bunga raya dan dedaunan untuk penawar dan bahan lainnya kemudian ditaruh dalam wadah berupa cawan putih.
  10. Assimun pangalambohi adalah bahan yang terbuat dari timun dipotong panjang dimaksudkan sebagai penyegar perasaan.
  11. Tanduk horbo paung yang terbuat dari pisang berukuran besar-besar seperti pisang ambon/pisang Batak yang dimaksudkan sebagai penyegar perasaan.
  12. Aek Naso ke mida matani ari (air kelapa muda) air yang bersih dan steril. Cara penyajiannya kelapa muda dilubangi bagian atasnya, di atas lubang tersebut diletakkan jeruk purut dan bunga raya merah.
  13. Perlengkapan makan sirih, yaitu daun sirih, gambir, kapur, cengkeh, buah pinang dan tembakau.
  14. Perlengkapan pakaian untuk semua peserta upacara adalah memakai pakaian adat Batak Toba (Ulos). Bagi perempuan, Ulos diselempangkan atau diselendangkan sebagai pengganti baju, sedangkan bagi laki-laki, Ulos disarungkan dan diselempangkan tanpa baju.
  15. Bagi orang tertentu memakai ikat kepala menunjukkan kedudukan dalam pranata sosial. Khusus Datu memakai pakaian baju berwarna hitam, yaitu melambangkan bahwa Datu tersebut seolah-olah bertindak sebagai perlambang kehadiran Debata Batara Guru (salah satu dari Debata Na Tolu) yang merupakan wujud pancaran kasih Debata Mulajadi Na Bolon perihal kebijakan, sementara pada kepala memakai ikat kepala berwarna merah, yakni melambangkan Debata Bata Bulan yang merupakan wujud pancaran kasih Debata Mulajadi Na Bolon perihal kekuatan.
  16. Perlengkapan lainnya adalah “Dupa” tempat membakar kemenyan, yakni wadah yang diisi abu, bara api, dan ditaburkan kemenyan sedikit demi sedikit. Aroma khas kemenyan dimaksudkan untuk mengundang kehadiran mahluk gaib/kekuatan gaib untuk hadir dan menyatu dalam ritual yang dilaksanakan.
  17. Pergondangan, yaitu menyiapkan satu gordang (gondang besar), 5 buah topong (gondang yang ukurannya lebih kecil), 1 buah kesik (hesek-hesek), dan 2 buah ogungdoal (Gong), ogung ihutan dan 1 ogung oloan panggor, dan 1 buah sarune.

Upacara adat Horja Bius ini dilakukan untuk mengenang ritual yang dilakukan nenek moyang di Batak Toba terdahulu dan di samping itu mereka hendak melestarikan budaya yang mereka miliki dan juga berguna untuk menarik wisatawan ke daerah Batak. Di Pulau Samosir, ada dua perkampungan yang rutin menggelar Horja Bius, yakni Desa Tuktuk dan Desa Simanindo.


Referensi:

PDBI – Hahomion Horja Bius

Lake Toba Blog – Horja Bius, Merawat Tradisi Memikat Wisatawan

Artikel Sebelumnya

Alat Musik ini Ternyata Punya Peran Penting, lho!

Artikel Selanjutnya

Minuman Tuak Dalam Adat Batak Toba

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published.