#DanauToba#KodeNusantaraBlog

Bulu Parhalaan, Sistem Penanggalan Masyarakat Batak Toba dengan Media Bambu

Sejak dahulu, masyarakat Indonesia sudah mengenal ilmu perbintangan atau astronomi. Masyarakat zaman dahulu banyak memanfaatkan ilmu astronomi untuk membantu pekerjaan mereka, seperti menentukan arah mata angin dan menentukan datangnya bulan baru. Meskipun dilakukan secara tradisional dan turun temurun, masing-masing suku memiliki cara tersendiri dalam mempelajari dan menerapkan ilmu astronomi ini. Sehingga, masing-masing daerah memiliki sistem penanggalan yang berbeda.

Salah satu masyarakat yang memanfaatkan ilmu astronomi dan memiliki sistem penanggalan sendiri adalah masyarakat Batak Toba. Masyarakat ini memiliki perhitungan kalender yang ditulis pada bambu (Bulu Parhalaan), tulang (Holi Parhalaan), serta kulit kayu (Pustaha Parhalaan) dan disebut dengan Kalender Peramalan Batak (Parhalaan). Kalender ini juga digunakan untuk menentukan hari baik dan hari buruk untuk sebagai pedoman pelaksanaan sebuah tradisi.

Bulu Parhalaan ditulis di sepasang tabung bambu dan diukir dengan motif kalajengking besar, kadal, dan dua lipan.

Kalender Bambu Batak (Bulu Parhalaan) (Sumber: Batak Culture)

Selain kalender bambu ada pula kalender Tulang Batak (Holi Parhalaan) yang diukirkan di atas tulang kaki babi, sapi, atau kerbau dengan gambar kadal dan naga. Tulang bagian kaki dipilih karena tulang di bagian tersebut keras dan tidak mudah pecah saat diukir. Selain berisi sistem penanggalan Batak, kalender ini juga berisi sistem arah mata angin.

Motif Kadal Pada Holi Parhalaan (Sumber: Borneo Artifact)
Motif Naga Pada Holi Parhalaan (Sumber: Borneo Artifact)
Ragam Motif Ukir Pada Holi Parhalaan (Sumber: Borneo Artifact)
Sistem Arah Mata Angin Pada Holi Parhalaan (Sumber: Borneo Artifact)

Ada juga Pustaha Parhalaan, penanggalan ini biasanya menggunakan media kulit kayu yang berasal dari pohon alim atau hau alim (aquilaria malaccensis) dengan panjang dan lebar kurang lebih 40 cm dan 30 cm. Pustaha Parhalaan ditulis menggunakan alat yang terbuat dari daun enau bernama Tarugi. Kemudian, untuk membuat tinta yang dikenal dengan nama Baja, getah berbagai macam tumbuhan dicampur dengan kayu yang telah dibakar. Selain terbuat dari campuran getah dan kayu, Baja juga dapat dibuat dari endapan asap pembakaran pohon damar.

Sistem penanggalan Batak Toba memiliki nama-nama bulan, hari, dan arah mata anginnya. Dalam Parhalaan, dikenal 8 arah mata angin yang terdiri atas empat induk mata angin dan empat anak mata angin. Kedelapan nama arah mata angin ini, yaitu Purba (Timur), Anggoni (Tenggara), Dangsina (Selatan), Nariti (Barat Daya), Utara (Utara), Manabila (Barat Laut), Pastima (Barat), dan Irisanna (Timur Laut).

Nama-nama bulan dalam Parhalaan dinamai sesuai urutan angka Batak dari bulan pertama hingga bulan kesepuluh. Sedangkan bulan kesebelas dan kedua belas disebut dengan bulan li dan bulan hurung. Berikut adalah nama-nama bulan dalam penanggalan Batak Toba:

Nama Bulan dalam ParhalaanBulan ke-Bulan Masehi
Si Paha Sada1April
Si Paha Dua2Mei
Si Paha Tolu3Juni
Si Paha Opat4Juli
Si Paha Lima5Agustus
Si Paha Onom6September
Si Paha Pitu7Oktober
Si Paha Walu8November
Si Paha Sia9Desember
Si Paha Sampulu10Januari
Si Paha Sampulu Sada (Li)11Februari
Si Pada Sampulu Dua (Hurung)12Maret
Tabel Nama Bulan dalam Penanggalan Batak

Dalam Parhalaan juga diatur pembagian waktu. Masing-masing bagian waktu memiliki nama tersendiri.

  • Binsar Mata Ni Ari: Matahari Terbit
  • Tarbakta: Satu Jam Setelah Matahari Terbit
  • Tarbakta Raja: Satu Jam Sebelum Matahari Terbit
  • Moraos: Satu Jam Sebelum Siang
  • Tingkos: Siang Hari
  • Guling: Dua Jam Setelah Siang Hari
  • Guling Dao: Empat Jam Setelah Siang Hari
  • Potang: Lima Jam Setelah Siang Hari
  • Lusut Mata Ni Ari: Matahari Terbenam
  • Atia Mardahan: Senja
  • Atia Mangan: Waktu Makan Malam
  • Sampe Modom: Waktu Tidur
  • Tonga Bomging: Tengah Malam
  • Menjalang Andostrang: Subuh
  • An dos Siang: Pagi
Waktu dalam 24 JamArtinya
Binsar Mata ni AriPukul 06.00
PanguluiPukul 07.00
TarbaktaPukul 08.00
TarbaktarajaPukul 09.00
SagangPukul 10.00
HumarahosPukul 11.00
HosPukul 12.00
GulingPukul 13.00
Guling DaoPukul 14.00
Tolu GalaPukul 15.00
Dua GalaPukul 16.00
SagalaPukul 17.00
Mate Mate ni AriPukul 18.00
SamonPukul 19.00
Hatiha ManganPukul 20.00
Tungkap HudonPukul 21.09
Sampe ModomPukul 22.00
Sampe Modom na BagasPukul 23.00
Tonga BornginPukul 24.00
Haroro ni PanangkoPukul 01.00
Tahuak Manuk IPukul 02.00
Tahuak Manuk IIPukul 03.00
Buha-Buha IjukPukul 04.00
Torang AriPukul 05.00
Tabel Pembagian Waktu dalam Penanggalan Batak

Sistem penanggalan Suku Batak Toba atau Parhalaan ini digunakan sebagai penentu hari baik dan hari buruk. Hal ini dijadikan pedoman dalam melaksanakan upacara-upacara adat seperti upacara kelahiran, upacara pernikahan, upacara saat memasuki kediaman yang baru, upacara yang berkaitan dengan pertanian, dan lain sebagainya.


Referensi:

Batak Culture – Kalender Orang Batak Partingkion Ni Halak Batak

PDBI – Kalender Tulang Batak

PDBI – Kalender Bambu Batak

Market Medan – Kalender Almanak Batak Simalungun dan Parhalaan Batak Toba

Pelawi, Kencana S.; Sitanggang, Hilderia; Tobing, Nelly (1992/1993). Parhalaan Dalam Masyarakat Batak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Artikel Sebelumnya

Ungkap Rasa Syukur, Masyarakat Simalungun Gelar Pesta Adat

Artikel Selanjutnya

Bermain Sambil Mencari Jodoh!

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published.