#KodeNusantaraBerita

Pesan Bergaris Selembar Ulos Batak Toba

Ulos bukan hanya sekadar lembaran kain bermotif, namun Ulos adalah perlambang jati diri dan identitas masyarakat suku Batak. Mulai dari motif, ragam, sampai warna memiliki makna yang menyiratkan kehidupan sosial, agama, budaya, geografis, dan aspek lainnya pada suku Batak. Tercatat lebih dari 600 motif dan ragam Ulos yang tersebar ke seluruh suku Batak, salah satunya suku Batak Toba. Pada tulisan ini akan memaparkan tiga motif dan ragam kain Ulos dari suku Batak Toba.

  • Ulos Ragi Idup

Merupakan Ulos yang memiliki derajat paling tinggi di suku Batak Toba dan memiliki tingkat pembuatan yang sangat sulit. Ulos ini terdiri dari tiga bagian, yaitu dua bagian sisi dan satu bagian tengah. kedua bagian sisi Ulos ditenun bersamaan, sedangkan bagian tengah ditenun sendirian dengan cara yang sulit dan berbelit-belit.

Bagian tengah Ulos sendiri terdapat tiga bagian, yaitu satu bagian di tengah yang disebut badan dan dua bagian ujung. Bagian ujung ini menjadi tempat pigura laki-laki (pinarhalak hana) dan bagian ujung yang satunya menjadi tempat pigura perempuan (pinarhalak boru-boru). Pigura laki-laki dan perempuan juga terdapat beragam lukisan yang menyertainya, seperti lukisan antiganting, sigumang, batuni asimun, dan lain sebagainya.

Ulos Ragi Idup ketika dilihat dengan teliti dan cermat, maka warnanya, rupa lukisannya, dan coraknya seolah-olah nampak hidup. Itulah sebabnya Ulos ini dinamakan dengan Ulos Ragi Idup dengan harapan sebagai sebuah simbol kehidupan.

Setiap rumah tangga (keluarga) di Batak Toba mempunyai Ulos Ragi Idup. Bukan hanya sebagai lambang kehidupan, mereka juga percaya Ulos ini sebagai simbol doa restu untuk kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarga, terlebih dalam hal keturunan agar anak bagi setiap keluarga diberikan panjang umur.

Unsur-unsur yang tersimbolkan pada Ulos Ragi Idup selaras dengan tujuan hidup orang Batak Toba, yaitu memiliki harta (hasangapon), jabatan atau strata sosial (hamaraon) dan keturunan (hagabeon).

Ulos Ragi Idup diberikan saat pelaksanaan upacara adat perkawinan. Orangtua dari perempuan akan memberikan Ulos ini kepada ibu dari pengantin laki-laki sebagai ulos pargomgom. Maksudnya supaya besannya (ibu dari laki-laki) ini selalu dapat melalui kehidupan bersama dengan menantunya (perempuan) atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ulos Ragi Idup juga dapat diberikan oleh orangtua kepada anak perempuannya yang sedang hamil atau mengandung anak pertama (disebut ulos tondi). Maksud pemberian Ulos ini agar anak perempuan dan bayi yang tengah dikandungnya mendapat pertolongan Tuhan.

  • Ulos Ragi Hotang

Ulos ini digunakan pada saat upacara adat pernikahan yang secara simbolis diberikan oleh pihak hula-hula kepada boru dan disebutlah dengan Ulos Hela. Hula-hula merupakan posisi kekerabatan seseorang yang memberikan Ulos, sedangkan boru adalah posisi anak yang menerima Ulos. Hula-hula sebelum melakukan proses pemberian Ulos (mengulosi), orangtua melakukan proses Mandakhota atau memberikan petuah yang berisi doa, berkat, dan restu atas pernikahan anaknya.

Pemberian Ulos Hela menunjukkan bahwa orangtua perempuan telah menyetujui dan memberikan restu penuh kepada putrinya dinikahi oleh laki-laki yang kemudian disebuat sebagai hela (menantu). Pemberian Ulos Hela selalu disertai dengan pemberian Mandar Hela (sarung menantu) yang menggambarkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku seperti lelaki lajang tetapi harus berperilaku layaknya seperti orang tua. Sarung tersebut juga dapat dipakai dalam kegiatan-kegiatan adat lainnya.

Ulos Ragi Hotang mempunyai corak hotang atau rotan yang bergaris. Motif hotang bergaris ini sebuah simbol yang mengikatkan pengantin agar selalu hidup rukun dalam kehidupan berkeluarga.

  • Ulos Sibolang

Salah satu Ulos yang dapat dikategorikan sebagai Ulos dengan derajat tinggi, meskipun proses pembuatannya lebih sederhana daripada Ulos Ragi Idup. Nama Sibolang dipakai sebab diberikan kepada orang yang berjasa untuk mabulangbulangi. Maksudnya menghormati orangtua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki sebagai Ulos Pansaniot.

Saat pesta pernikahan terdapat kebiasaan memberikan Ulos Sibolang si toluntuho oleh orang tua pengantin perempuan kepada menantunya sebagai ulos hela (ulos menantu). Ulos Toluntuho coraknya jelas menggambarkan tiga kebahagiaan yang menjadi simbol dalihan na tolu.

Mangulosi menantu laki-laki bertujuan agar selalu berhati-hati dengan teman-teman semarga dan paham siapa saja yang patut dihormati, memberi hormat kepada semua kerabat istrinya, dan lemah lembut terhadap keluarganya.

Ulos ini juga diberikan kepada perempuan yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda menghormati jasanya selama menjadi istri. Ulos biasanya akan diberikan saat upacara kematian dan dengan pemberian tersebut sekaligus sebagai tanda bahwa perempuan ini telah menjadi seorang janda.


Data Terkait:

PDBI – Ulos

PDBI – Mangulosi

Previous post

Sasi Ikan Lompa, Dilarang Mengambil Ikan!

Next post

Sekaten, Media Syiar Agama Islam

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.