#KodeNusantaraBlog

Sekaten, Media Syiar Agama Islam

Sekaten merupakan rangkaian acara yang digelar untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekaten biasanya digelar oleh keraton, salah satunya Keraton Yogyakarta. Rangkaian acara Sekaten biasanya berlangsung dari tanggal 5 sampai 12 maulud penanggalan Jawa, atau dalam penanggalan hijriah sama dengan rabiul awal.

Secara etimologi, Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain yang artinya persaksian (syahadat) yang dua. Selain itu juga berasal dari beberapa kata, yaitu sahutain artinya menghentikan atau menghindari dua perkara, yaitu sifat lacur dan menyeleweng, sakhatain artinya menghilangkan dua perkara, yaitu watak hewan dan sifat setan, sakhotain artinya selalu memelihara budi luhur dan menghambakan diri pada Tuhan, sekati artinya setimbang bahwa orang hidup harus bisa menilai hal yang baik dan buruk, serta sekat artinya batas bahwa orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat dan mengetahui batas-batas kebaikan dan keburukan.

Awal mulanya Sekaten diadakan pada zaman Kesultanan Demak dengan tujuan sebagai salah satu upaya dalam menyiarkan agama Islam. Atas tujuan tersebut maka Sekaten digelar pada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Sekaten dikemas dengan memainkan alat musik gamelan agar masyarakat berduyun-duyun datang memenuhi halaman masjid untuk mendengarkan lantunan gamelan sekaligus khotbah mengenai ajaran-ajaran Islam. Gamelan menjadi media yang dipakai untuk menarik banyak orang karena pada saat ini masyarakat menyukai gamelan.

Prosesi Sekaten dimulai dengan miyos gangsa, yaitu keluarnya gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kenjeng Kiai Nagawilaga dari Keraton Yogyakarta menuju ke tempat Pagongan Masjid Gedhe pada 6 maulud penanggalan Jawa. Prosesi ini dilaksanakan pada malam hari.

Gamelan selama berada di Pagongan Masjid Gedhe terus dimainkan mulai dari pagi sampai tengah malam secara bergantian. Rentang waktu pada saat gamelan dimainkan ini disebut dengan berlangsungnya tradisi Sekaten.

Gamelan akan dikembalikan lagi ke keraton pada 12 maulud penanggalan Jawa. Prosesi kembalinya gamelan ke keraton ini disebut upacara Kondur Gangsa. Keesokan harinya dilanjutkan dengan menggelar grebeg maulud.

Tradisi lainnya yang digelar selama Sekaten, yaitu adanya pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di serambi Masjid Gedhe. Pada acara tersebut akan dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwowo X. Sri Sultan Hamengkubuwono X juga akan menyebar udhik-udhik berupa beras, biji-bijian, dan uang logam di halaman Masjid Gedhe. Peristiwa ini menjadi simbol yang menggambarkan sebuah pertemuan raja dengan rakyatnya secara langsung.


Data Terkait:

PDBI – Sekaten

Previous post

Pesan Bergaris Selembar Ulos Batak Toba

Next post

Padewakang, Cikal Bakal Lahirnya Pinisi

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.