#KodeNusantaraBlog

Kesenian Tradisional “Jelangkung” Khas Minang

Tahukah kamu Jelangkung, boneka atau orang-orangan yang digunakan untuk memanggil arwah? Arwah yang berhasil dipanggil tersebut akan masuk ke boneka dan biasanya yang memainkan akan menanyakan hal-hal yang ingin diketahui. Banyak hal yang dapat terjadi jika bermain dengan makhluk gaib, seperti kerasukan atau bahkan konon dapat membahayakan orang yang memainkannya. Berbahaya atau tidak, di salah satu daerah Minangkabau, ternyata berkembang seni pertunjukan yang tidak jauh berbeda dengan Jelangkung, lho. Seni Pertunjukan ini biasa disebut dengan nama Lukah Gilo dan berkembang di Desa Lumpo Timur, Kecamatan Ampek Baleh Juran, Kabupaten Pesisir Selatan. Lukah Gilo biasa dimainkan oleh seorang pawang atau kulipah dengan satu hingga empat orang yang memegang lukah tersebut.

Lukah Gilo adalah tradisi lama nenek moyang Minangkabau dan diperkirakan sudah ada sejak Minang masih berupa kerajaan, yang dipimpin oleh Raja Adityawarman. Seni Pertunjukan ini sarat akan pengaruh animisme dan dinamisme, sehingga ketika Islam masuk ke Minang, banyak masyarakat tertentu yang menentang Lukah Gilo. Nama Lukah Gilo diambil dari kata “Lukah,” yaitu semacam alat perangkap ikan yang terbuat dari rotan, sedangkan “Gilo” dalam bahasa Minang berarti gila. Menurut kepercayaan yang berkembang, lukah tesebut yang digunakan oleh Jin untuk dirasuki.

Lukah Gilo dimainkan dengan dibacakannya mantra-mantra yang oleh seorang pawang. Pewarisan mantra-mantra tersebut ternyata hanya diturunkan oleh pemiliknya kepada anak-cucunya saja, lho, kecuali bila seseorang berkeinginan menjadi pawang Lukah Gilo, dia harus belajar menuntut mantra dengan memberikan pisau belati, kain putih, dan ayam panggang lengkap dengan nasi kuning sebagai tebusan kepada pawang.

Properti yang digunakan dalam pertunjukan, di antaranya lukah yang merupakan alat penangkap ikan dan terbuat dari bambu atau rotan. Bentuknya memanjang menyerupai kerucut. Lukah dibuat sedemikian rupa seperti manusia. Bagian ujungnya yang lancip diberi batok kelapa yang melambangkan kepala. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi kayu melintang yang melambangkan tangan. Lukah juga dipasangi baju atau kain untuk menutupinya. Cara memainkannya, lukah ditopang dua orang di kanan dan kiri, kemudian empat orang akan mengibas-ngibaskan kain hitam ke lukah. Sementara para penonton biasanya akan membentuk lingkaran besar yang mengelilingi pertunjukan. Pawang yang bertindak pun akan melantunkan syair atau mantra dalam bahasa Minangkabau. Lama-lama lukah tersebut akan bergerak layaknya orang kerasukan atau orang gila. Itulah kenapa pertunjukan ini disebut Lukah Gilo.

Pemain yang membantu pawang pun terkadang terlempar ke tanah atau bahkan terluka tangannya dikarenakan hebatnya gerakan lukah ketika sudah dirasuki Jin. Hal tersebut rupanya terletak pada syair atau mantra yang diucapkan oleh pawang. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ada potongan syair yang bernada mengejek bahwa lukah tidur di kandang ayam bersama kotoran ayam, baju yang dikenakan lukah adalah baju pinjaman, dan minyak rambut yang digunakan lukah adalah hasil meminta pada orang lain. Kalimat-kalimat tersebutlah yang membuat lukah bergerak liar bagaikan orang gila.

Untuk menambah unsur magis dalam seni pertunjukan ini, biasanya akan diiringi oleh musik dan berbagai macam alat musik tradisional khas Minang. Kesenian ini juga identik dengan pakaian serba hitam dan dimainkan di malam hari. Selain itu, dalam pertunjukan akan dilengkapi dengan beberapa sesaji sebagai syaratnya. Sesajian tersebut di antaranya ada makanan dan minuman, kembang, darah ayam, dupa, ramuan jeruk, dan lain sebagainya.

Mistis dan lumayan mengerikan, namun kesenian ini tetap dihelat pada acara-acara yang diadakan masyarakat setempat. Bahkan tak jarang mengundang perhatian turis asing yang menyaksikan.


Diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Lukah Gilo

Artikel Sebelumnya

Harimau dan Kambing Dalam Permainan Catur Aceh

Artikel Selanjutnya

Lenggak-Lenggok "Bidadari" Dalam Tari Sintren

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.