#KodeNusantaraBlog

Harimau dan Kambing Dalam Permainan Catur Aceh

Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, permainan tradisional sudah jarang terdengar di kalangan masyarakat. Banyak permainan tradisional yang kini mulai terlupakan, salah satunya adalah Cato atau Cabang. Cato atau Cabang merupakan salah satu permainan catur tradisional yang sangat popular di Aceh pada tempo dulu. Cato kerap kali disebut juga dengan Catur Aceh. Permainan ini dimainkan di atas papan kayu ukuran kecil dengan jumlah anak bervarian mulai dari 28, 81, dan 100. Bahan yang dijadikan sebagai anak catur adalah batu. Batu berukuran besar diberi nama Rimueng (Harimau) dan batu kecil disebut Kambing.

Permainan yang dimainkan oleh dua orang ini dapat melatih kecerdasan, serta menuntut pemain untuk lebih teliti sebelum bersikap. Pada papan kayu, terdapat pola garis lintang, bujur, dan miring. Satu pemain akan memegang bidak Harimau (warna hitam) pada permainan Cato yang hanya ada dua, sedangkan pemain lainnya memegang bidak Kambing (warna putih) yang ada banyak. Harimau berhak melompati kepungan Kambing yang berusaha menutupi jalannya. Melompatnya bisa ke segala arah, baik kiri, kanan maupun miring. Syaratnya adalah bidak penutupnya harus ganjil, satu-tiga-lima dan seterusnya.

Jika bidak Harimau mampu mengalahkan atau “memakan” bidak kambing dalam lompatannya, maka pemain tersebut dinyatakan menang. Tetapi jika bidak Kambing berhasil menutupi jalan bidak Harimau, maka bidak Kambinglah yang menang. Normalnya, permainan Cato ini berdurasi sekitar 10 menit hingga mendapatkan pemenangnya. Kedua pemain akan berganti posisi dalam memainkan bidak Harimau dan Kambing agar adil satu sama lain.

Papan Catur Aceh (sumber: Steemit)

Bermain Catur Aceh memang sedikit berbeda dengan catur lainnya. Karena Catur Aceh hanya dimainkan dengan cara melompat atau melewati lawan, tetapi dalam hitungan ganjil. Puluhan tahun lalu, Catur Aceh masih digemari oleh masyarakat terutama saat bulan Ramadan atau hari libur. Masyarakat biasanya bermain di meunasah (musala) atau di warung-warung. Saat ini, permainan catur tradisional sudah berganti ke permainan catur umumnya, di mana papan hitam-putih sebagai media bermain, bidaknya pun menjadi bidak pion, kuda, luncur, banteng, dan lain sebagainya.

Permainan Cato tidak hanya membuat para pemain dan penonton terhibur, namun juga merangsang pemikiran pemain untuk selalu bersikap hati-hati sebelum bertindak, agar tidak merugikan diri sendiri. Permainan ini juga kembali dikenalkan dalam Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII pada tahun 2018 silam yang berlangsung di Museum Aceh.


Data Terkait:

PDBI – Cato

Previous post

Asal Muasal Kesenian Musik Kelintang Perunggu

Next post

Kesenian Tradisional "Jelangkung" Khas Minang

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.