#KodeNusantaraBlog

Asal Muasal Kesenian Musik Kelintang Perunggu

Kelintang Perunggu, mungkin masih asing terdengar oleh telinga sebagian masyarakat. Namun, lain halnya bagi masyarakat Melayu Timur yang tinggal di Pantai Timur Sumatera khususnya Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat (Jambi), dan Indragiri Hilir (Riau).  Musik ini juga tersebar di berbagai daerah lainnya di Jambi, hanya saja namanya berbeda dan alat pembuatan Kelintangnya pun berbeda. Kesenian ini sudah jarang dimainkan, karena sulitnya memperoleh alat kelintang, juga karena para pemain alat musik ini semakin jarang dan banyak yang sudah meninggal.

Kelintang Perunggu memiliki arti yang berharga bagi masyarakat Pantai Timur, karena selain sebagai kesenian, musik ini juga sebagai medium untuk ritual. Ritual yang dimaksud seperti ritual mandi air masin, makan di Kelung, dan malam bainai. Ritual-ritual tersebut menggunakan Kelintang Perunggu untuk kekuatan utama dalam prosesi ritual. Musik Kelintang Perunggu terdiri dari sejumlah alat musik, di antaranya:

  • Kromong atau Kelintang Perunggu Tujuh Pencon, mirip seperti Bonang dari Jawa. Hal ini diyakini karena punya kekuatan magis, yaitu juka dibunyikan secara sembarangan atau pada waktu yang tidak tepat, maka sang pemukul bisa “kesurupan.” Kini kabarnya, alat ini hampir punah dan hanya tersisa 2 unit saja;
  • Gendang Panjang;
  • Gong dari perunggu seperti Kelintang.

Komposisi alat musik tersebut didominasi oleh Kelintang Perunggu, sehingga intrumen yang dihasilkan oleh permainan musik ini dinamakan Kelintang Perunggu. Tidak ada ketentuan khusus berapa jumlah kelintang saat dimainkan. Bisa satu atau dua kelintang hingga 9 atau 12 kelintang. Semuanya dilihat dari kemampuan pemain kelintang tersebut. Ada yang mampu memainkan dua buah kelintang dan ada yang mampu memainkan tujuh buah alat kelintang.

Awalnya musik tradisional 5 nada ini berasal dari Timur Nusantara. Masyarakat Melayu Timur yang mendiami di Tanjung Jabung maupun di Inhil bangga menyebut dirinya sebagai “Orang Melayu Timur” dan berbeda dengan orang Melayu lainnya. Keberadaan musik Kelintang Perunggu juga tak terlepas dari asal usul Orang Melayu Timur. Orang Melayu Timur memercayai bahwa mereka berasal dari kawasan Tempasuk daerah Mindanao (Filipina) dan Sabah (Malaysia). Kedatangan bangsa Ilanun (Iranun) ke Pantai Timur Sumatera terkait konflik Sultan Mahmud Syah III, Penguasa Kesultanan Johor Pahang Riau dan Lingga dengan Belanda. Sultan Mahmud Syah meminta bantuan kepada penguasa Tempasuk dalam menghadapi Belanda.

Pasukan dari Tempasuk berhasil mengalahkan pasukan Belanda dan kembali ke daerahnya. Namun, ada juga yang memilih untuk tinggal di Daik Lingga dan sebagian ada yang berlayar ke Pantai Timur Sumatera, seperti daerah Tanjung Jabung, Kuala Patah Parang, Pulau Kijang, dan daerah lainnya di Indragiri Hilir. Pasukan tersebut tidak hanya membawa senjata, namun juga membawa alat kesenian dari daerahnya. Alat musik itulah yang dikenal dengan nama Kelintang Perunggu. Alat musik ini lazimnya dimainkan oleh kaum perempuan di daerah asalnya. Nampaknya hal tersebut untuk memberi semangat prajurit yang sedang berdayung berlayar mengarungi lautan besar dan juga untuk mengelu-elukan prajurit yang bertempur di medan perang.

Versi lainnya mengatakan bahwa Kelintang Perunggu nyaris ada di seluruh wilayah di Indonesia dengan nama berbeda. Kelintang Perunggu seperti halnya Kromong. Kelintang Perunggu terdiri dari 18 irama atau jenis pukulan. Pemukul yang bisa memainkan 18 nada sudah jarang ditemukan. Setiap irama atau pukulan memiliki fungsi yang berbeda. Saat ritual makan di Kelung atau mandi air masin, jenis iramanya akan berbeda.

Jenis irama dalam kelintang perunggu adalah andok andok, andok andok suluk, kedidi, surung dayung, kedincung, serame dua, tige tige, serame tige, culit belacan, udang-udang, antuk antuk terung, dendang sayang, siamang tegagau, kambing betanduk, begubang, serame, tupai begelut dan kedungkuk.

Penamaan irama ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti Kedidi adalah nama burung. Ada juga yang berasal dari nama hewan seperti siamang, tupai, dan kambing. Jenis irama Kedungkuk tidak boleh dimainkan secara sembarangan, karena diyakini mengandung unsur magisnya. Irama ini umumnya dimainkan dalam ritual makan di Kelung. Mereka yang hadir akan keserupan begitu irama Kedungkuk dimainkan. Ritual ini sudah jarang diselenggarakan.

Komposisi nada pada Kelintang Perunggu terdiri dari lima nada “So La Do Re Mi” dan tidak ada nada Fa dan Si. Kelintang yang ada di Tanjung Jabung tidak memiliki resonansi saat dipukul. Hal inilah yang membedakannya dengan alat musik sejenis, seperti Talempong, Celentang, atau Kromong. Keberadaan Kelintang Perunggu ini terancam punah. Penyebab utamanya adalah sulitnya menemukan alat Kelintang Perunggu yang sesuai dan Kelintang Perunggu yang dimainkan Orang Melayu Timur dominan dari besi campur ganza, sementara di daerah lainnya banyak perunggunya.

Kelintang Perunggu yang dimiliki oleh sejumlah sanggar, bunyinya tidak sesuai dengan standar nada Kelintang Perunggu. Selain alat musik, penyebab lainnya adalah regenerasi pemain alat musik. Para pemain yang ada saat ini sudah tua dan tidak bisa memainkan alat musik dengan baik. Sangat sedikit pelestari yang masih bisa memainkan Kelintang Perunggu. Hal ini berakibat pada beberapa ritual yang sudah lama tidak diselenggarakan lagi, seperti makan di Kelung terakhir diselenggarakan pada tahun 1979.


Referensi:

Kemendikbud

Data Terkait:

PDBI – Kelintang

Previous post

Pesta Ulat Sagu, Ritual Pesta Panen Suku Asmat

Next post

Harimau dan Kambing Dalam Permainan Catur Aceh

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.