#KodeNusantaraBlog

Lenggak-Lenggok “Bidadari” Dalam Tari Sintren

Indonesia lagi-lagi membuktikan sebagai negara dengan segudang budaya tradisi. Faktanya, negara kita ini memiliki ragam tradisi yang tak ada habisnya jika dihitung dan ditulis. Namun, di balik itu semua ternyata eksistensi kesenian tradisional secara perlahan memudar di kalangan masyarakat. Banyak masyarakat yang menilai bahwa kesenian tradisional hanya sebagai sarana hiburan semata. Salah satunya adalah Tari Sintren. Sintren merupakan kesenian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daerah persebaran kesenian ini di antaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, dan Pekalongan.

Pementasan tari ini biasanya dilakukan oleh beberapa orang dengan penari utamanya yang memakai kacamata hitam dan kostum khusus. Menariknya, penari tersebut menari dalam keadaan tidak sadar, lho, dan diiringi lantunan musik yang tidak kalah mistis. Memang dalam pementasannya, tak hanya melibatkan manusia, tapi juga roh-roh halus atau dianggap masyarakat setempat kerasukan “bidadari.”

Nama “Sintren” berasal dari kata “Si” yang berarti ‘dia’ dan “Tren” yang merupakan panggilan dari seorang “Putri.” Asal mula nama sintren, salah satunya berasal dari kata sindir dan tetaren, maksudnya adalah menyindir dengan menggunakan sajak-sajak atau syair. Sebelum terbentuk pementasan sintren seperti sekarang ini, —tarian dengan wanita di tengahnya— dahulu awal kesenian ini dipercaya dimulai dengan aktivitas berkumpulnya para pemuda yang saling bercerita dan memberikan semangat satu sama lain, terutama setelah kekalahan besar pada perang besar Cirebon yang berakhir sekitar tahun 1818. Dalam cerita lisan masyarakat Indramayu, dikenal nama Seca Branti yang dipercaya sebagai abdi Pangeran Diponegoro yang berhasil lolos dari Belanda setelah kekalahan Perang Diponegoro yang berakhir pada tahun 1830. Menurut cerita, Seca Branti melarikan diri ke wilayah Indramayu dan mulai berteman dengan para pemuda sambil membacakan sajak-sajak perjuangan. Banyak para pemuda yang ikut bergabung dan menyanyikan sajak-sajak tersebut, terlebih saat musim panen tiba.

Aktivitas ini diketahui oleh Belanda yang kemudian dilarang. Belanda hanya mengizinkan adanya sesuatu kegiatan yang diisi dengan pesta, wanita penghibur, dan minuman keras. Para prajurit Belanda senang dengan kegiatan mabuk-mabukan yang diiringi dengan para penari. Hal inilah yang melatarbelakangi digunakannya penari wanita sebagai kedok dalam pertunjukannya. Fokus utama pada pertunjukan terletak pada syair-syair perjuangan yang diucapkan oleh dalang. Dalam hal ini, kata Sintren diterjemahkan sebagai sinyo (pemuda) dan trennen (berlatih) yang artinya pemuda yang sedang berlatih.

Selain dari kisah perjuangan pemuda Cirebon, kesenian Sintren ini juga mengisahkan kisah percintaan Sulandono, seorang putra Bupati di Mataram dengan Sulasih, seorang putri dari Desa Kalisalak. Namun kisah cinta mereka tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, ayah dari Sulandono. Akhirnya, Sulandono pergi bertapa dan Sulasih menjadi seorang penari dan mereka bertemu di alam gaib. Sejarah kesenian Sintren ini pun masih menjadi misteri, karena jika berbicara tentang sejarah, maka setidaknya harus ada sesuatu yang membuktikannya.

Tari Sintren diawali dengan dupan, yaitu ritual berdoa untuk memohon perlindungan Tuhan dari bahaya yang mungkin akan muncul selama pertunjukan. Sang pawang akan melakukan paripurna, yakni menyiapkan satu orang yang akan menjadi sintren. Sintren ini akan ditemani oleh empat dayang yang diperankan oleh para penari. Nah, penari utama Sintren ini diharuskan masih gadis, lho. Hal ini dikarenakan tarian perlu dilakukan dalam keadaan suci. Bahkan para penari pun diwajibkan berpuasa agar tingkah laku dan diri mereka agar tetap “bersih.” Dengan begitu roh “bidadari” dapat masuk ke tubuh penari dengan mudahnya.

Ketika alunan musik mulai dimainkan, sang pawang akan membacakan doa-doa. Penari sebelumnya akan diikat dengan tali kedua tangannya dan menggunakan kacamata hitam. Setelah itu, pawang akan memasukkannya ke dalam kurungan tertutup dan memberikan kostum khusus. Setelah doa selesai dipanjatkan, dupa akan diputar-putarkan di atas kurungan dengan iringan musik yang tetap dimainkan. Kurungan tertutup itu pun akan dibuka dan terlihat penarinya sudah terlepas dari tali yang mengikatnya, serta sudah menggunakan kostum yang disediakan. Inilah yang menjadi daya tarik Tari Sintren.

Penari Sintren akan langsung menari tanpa kendali dalam keadaan kerasukan. Hal unik lainnya adalah setiap ada penonton yang sawer dengan cara melemparkan uang ke penari, penari akan langsung terjatuh dan berhenti menari. Sang pawang pun akan mulai membantunya berdiri lagi dengan dibacakan mantranya kembali. Pada sebagian pertunjukkan, tarian ini akan ditutup dengan tahap temohan. Tahap ini berarti penari akan membawa nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih sambil dituntun oleh pawang.

Meskipun tarian ini terkesan mistis, namun ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya, nih. Dalam kehidupan, manusia lahir dalam keadaan suci dan bersih. Kurungan juga melambangkan dunia dan tali merupakan sebuah ikatan batin kepada Tuhan. Ada juga makna filosofis yang tidak kalah menarik, yaitu ketika penari terjatuh saat penonton melempar saweran. Hal tersebut memiliki makna yang mengingatkan masyarakat bahwa seseorang bisa lupa diri karena nafsu duniawi. Wah, banyak banget ya yang dapat kita ambil dari Tari Sintren ini.


Referensi:

Cirebon Kota

Data Terkait:

PDBI – Tari Sintren

Previous post

Kesenian Tradisional "Jelangkung" Khas Minang

Next post

Sebilah Senjata Tradisional dari Bumi Serambi Mekkah

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.