#KodeNusantaraBlog

Merawat Tradisi Natal Ibukota

Puluhan tahun silam, Indonesia pernah dijajah oleh berbagai negara mulai dari Portugis, Jepang, hingga Belanda. Banyak peninggalan yang dipengaruhi oleh bangsa penjajah, salah satunya dalam kebudayaan. Bukti hasil akulturasi kebudayaan yang sampai saat ini masih rutin diadakan adalah tradisi Rabo-rabo.

Tradisi Rabo-rabo merupakan bentuk silaturahmi masyarakat yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara untuk mengucapkan selamat natal dan tahun baru ke setiap rumah tetangga dan sanak saudara lainnya. Kampung yang diperkirakan berumur 3,5 abad ini ternyata sebagian besar masyarakatnya merupakan keturunan Portugis. Masyarakat Kampung Tugu menjalankan tradisi Rabo-rabo sebagai upaya dalam menjaga keutuhan dan kebersamaan dari keluarga Portugis mereka.

Tradisi Rabo-rabo dimulai dari salah satu keluarga dan mereka melakukan ibadah atau doa bersama di gereja sebelum menjalankan tradisinya, yang kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah tetangga atau saudara lainnya. Ketika mereka datang ke rumah selanjutnya, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan cipika-cipiki.

Mereka saling cium pipi kanan dan kiri yang mereka adaptasi dari budaya bangsa Eropa, serta datang disertai membawakan sebuah nyanyian dengan diiringi lagu yang berasal dari musik tradisional, seperti Keroncong Tugu. Tak ketinggalan, mereka bersama-sama juga mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah.

Tradisi ini disebut Rabo-rabo sebab selesai berkunjung ke satu rumah, si tuan rumah atau perwakilan rumah yang telah disinggahi wajib mengikuti atau mengekor sehingga membuat rombongan semakin banyak. Sesuai dengan makna kata Rabo dalam bahasa Portugis yang berarti mengikuti atau mengekor.

Suasana dalam tradisi Rabo-rabo ini menggambarkan keceriaan dan kegembiraan karena telah melewati masa satu tahun. Maka mereka juga saling memberi salam dan meminta maaf.

Hakikat Rabo-rabo tentunya untuk memperat tali silaturahmi dan persaudaraan antar keluarga, tetangga, maupun saudara. Tradisi ini mirip seperti halal bihalal yang setiap tahun dilakukan oleh umat muslim saat lebaran.

Sebagai acara puncak dalam perayaan tradisi Rabo-rabo, masyarakat melakukan Mandi-mandi. Mandi-mandi merupakan kegiatan di mana masyarakat berkumpul bersama lalu saling mencoret wajah satu sama lain dengan menggunakan bedak putih. Coretan-coretan pada wajah mereka merupakan sebuah simbol penebus dosa dan permintaan maaf dari kesalahan satu tahun belakang dan siap menjelang tahun baru.


Data Terkait:

PDBI – Rabo-rabo

Previous post

Memupuk Toleransi Antar-umat Beragama di Pulau Dewata

Next post

Dolo-Dolo, Tradisi Penyambutan Gerhana

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.