#KodeNusantaraBlog

Memupuk Toleransi Antar-umat Beragama di Pulau Dewata

Sepekan belakangan ini, kerukunan antar-umat beragama di Indonesia tengah diguncang dengan berbagai pendapat adanya larangan umat muslim memberikan ucapan selamat natal kepada umat nasrani. Isu tersebut tentu menimbulkan banyak reaksi dari berbagai kalangan baik masyarakat maupun pejabat publik. Isu seperti ini mempunyai potensi untuk menimbulkan kegaduhan yang dapat berakibat fatal, misalnya saja konflik.

Tahukah kamu, bahwa sejak zaman dahulu Indonesia sangat menjunjung tinggi keberagamannya? Apalagi mengingat latar belakang yang membentuk negara Indonesia, mulai dari agama, ras, suku, sampai budaya tradisi. Salah satu budaya tradisi yang mengajarkan dan membangun keberagaman umat beragama ialah Menyama Braya.

Menyama Braya merupakan kearifan lokal masyarakat Bali yang memiliki konsep ajeg bali, yang artinya “aku adalah engkau dan engkau adalah aku”. Menurut masyarakat Bali, apabila kita (manusia) menyayangi dan mengasihi diri sendiri, maka kita harus berkata dan berbuat kepada orang lain sebagaimana kita berbuat pada diri sendiri.

Jika prinsip tersebut dapat dipahami dan diterapkan, kedamaian dan ketentraman hidup antar manusia dapat terwujudkan. Sebagai perwujudan konsep tersebut, masyarakat Bali telah melakukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti tradisi ngupoin, mapitulu, mejenukan, ngejot, dan lain sebagainya.

Ngupoin dan mapitulu merupakan tradisi yang dilakukan saat membantu tetangga ataupun kerabat dalam mempersiapkan upacara. Tradisi ini telah menjadi adat kebiasaan masyarakat Bali untuk saling membaur dan membantu menyukseskan acara yang akan dilangsungkan, mulai dari keamanan sampai perlengkapan. Istilah ngupoin sendiri digunakan untuk acara hajatan, sedangkan mapitulu digunakan untuk upacara keagamaan.

Sementara itu, tradisi majenukan merupakan suatu bentuk partisipasi masyarakat untuk turut menyukseskan acara yang sedang dihelat, baik acara hajatan maupaun acara ritual keagamaan di Bali.

Satu lagi, yaitu tradisi Ngejot menjadi sebuah tradisi dengan membagikan makanan kepada tetangga dan kerabat yang berada di sekitarnya. Tradisi ini biasa dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu, Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam, Hari Raya Natal bagi umat Nasrani, atau hari raya keagamaan lainnya.

Melalui kearifan lokal Menyama Brama inilah kita banyak belajar mengenai bagaimana sesama manusia berkomunikasi dan berinteraksi untuk membangun persaudaraan yang kuat di dalam kehidupan yang penuh keberagaman.


Data Terkait:

PDBI – Ngejot

Previous post

Upaya Pemerintah Jawa Timur Melestarikan Tari Tradisi di Ibukota

Next post

Merawat Tradisi Natal Ibukota

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.