Blog

Siratan Perjuangan Martha Christina Tiahahu

Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari Pahlawan menjadi hari ketika kita membangkitkan kembali ingatan akan jasa para pahlawan yang dengan ikhlas hati mengorbankan pemikiran, jiwa dan raga, serta darah untuk melawan para penjajah demi mempertahankan Indonesia. Tak ayal untuk membahas salah satu dari sedikit pahlawan nasional perempuan yang secara tidak langsung menerobos budaya patriarki di masa pra-kemerdekaan dengan ikut berperang melawan Belanda.

Martha Christina Tiahahu namanya. Lahir pada tahun 1800 di suatu desa bernama Abubu di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Ia merupakan putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku.

Dalam usia sangat belia, Martha terkenal sebagai gadis yang berkemauan keras, pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya. Ia selalu mendampingi ke mana pun Ayahnya pergi, termasuk menghadiri rapat perencanaan perang, bahkan angkat senjata untuk mengusir penjajah di Pulau Nusa Laut maupun di Pulau Saparua.

Martha dan Ayahnya, bersama dengan Kapitan Pattimura bertempur dalam pertempuan melawan Belanda di Pulau Saparua, tepatnya di Desa Ouw, Ullath. Martha tidak putus-putus memberikan kobaran semangat kepada pasukan Nusa Laut untuk membinasakan musuh. Pekikan semangat Martha telah meradangkan semangat kaum perempuan untuk turut mendampingi kaum laki-laki di medan pertempuran. Baru di medan ini lah Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur.

Namun, dalam pertempuran sengit di Desa Ouw-Ullath, sebelah tenggara Pulau Saparua, pasukan rakyat kalah akibat ketidakseimbangan persenjataan. Banyak pejuang yang ditawan dan harus menjalani berbagai hukuman; salah satunya adalah Ayah Martha yang dijatuhi hukuman mati.

Dalam suatu Operasi Pembersihan pada bulan Desember 1817, Martha bersama 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan kapal Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Pun dalam perjalanan ini diwarnai dengan pemberontakan melawan Belanda.

Martha menemui ajalnya di atas kapal karena kondisi kesehatannya semakin memburuk. Ia menolak makan dan pengobatan. Akhirnya pada tanggal 2 Januari 1818 (usia 17 tahun), Martha menghembuskan nafas terakhir. Jenazah Martha disemayamkan dengan penghormatan militer di Laut Banda.

Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional. Berkat pengorbanannya, pemerintah Maluku membuat monumen untuk mengenang jasa Martha. Monumen ini sebagai bukti sejarah keberanian gadis Maluku dalam membela tanah air.

Peperangan senantiasa menyisakan kisah sedih di baliknya. Namun, apa yang Martha lakukan ialah pengorbanan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ia tidak memandang dirinya hanya seorang perempuan. Ia bahkan mampu mengajak kaum perempuan untuk bersama-sama memerangi penjajahan.


Data diolah dari berbagai sumber.

Sumber: https://adira.co.id/
Artikel Sebelumnya

Tradisi Merti Bumi, Simbol Cinta Alam Warga Tunggularum

Sumber: https://budaya-indonesia.org/Sasando
Artikel Selanjutnya

Petikan Merdu, Sasando dari Pulau Rote

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published.