#KodeNusantaraBlog

Tradisi Merti Bumi, Simbol Cinta Alam Warga Tunggularum

Warga dusun Tunggularum, Kabupaten Sleman, Yogyakarta saat ini masih memegang erat tradisi merti bumi. Tradisi merti bumi diharapkan dapat mendatangkan keselamatan dan ketentraman bersama bagi warga. Tradisi ini dilakukan satu kali dalam setahun. Warga biasanya menggelar tradisi ini pada bulan Sapar.

Tradisi merti bumi berangkat dari ide warga Tunggularum setelah mendapatkan panen yang melimpah dan tidak ada bencana alam yang melanda warga setempat. Beberapa tahun sebelumnya, warga terkena dampak dari lahar gunung merapi sehingga pemukiman harus berpindah tempat menuju ke lokasi yang tidak terdampak lahar.

Kepindahan tersebut membuat warga merasa tenang dan sekarang hampir tidak ada lahar panas. Lahan pemukiman dulu bahkan tanahnya menjadi subut karena dilewati oleh lahar panas. Akhirnya warga memutuskan untuk memanfaatkan tanah tersebut untuk bercocok tanam karena hasil bumi sangat melimpah. Secara spiritual, merti bumi dapat digambarkan sebuah tradisi yang bertujuan memohon keselamatan dan lindungan dari mara bahaya sekaligus wujud rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi merti bumi erat kaitannya dengan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Hubungan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan harus selalu dijaga hubungannya agar terjadi keseimbangan. Keseimbangan yang akan membawa keselarasan. Keselarasan ini lah yang membawa suasana damai, aman, tanah subur, dan hasil bumi melimpah.

Tradisi merti bumi digelar setiap bulan Sapar. Merti bumi diawali dengan pengambilan air di sendhang pancuran. Warga Tunggularum memaknai prosesi ini untuk penyucian diri baik lahir maupun batin. Air sendhang pancuran dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Penyucian dilakukan sehari sebelum pelaksanaan kirab pusaka Kyai Tunggul Wulung dan tumpeng kembar gunungan salak.

Pengambilan air suci dilakukan oleh para pamong desa, kemudian dilanjutkan dengan kirab pusaka Kyai Tunggul Wulung dan tumpeng lanang wadon serta gunungan ulu metu. Makna tumpeng lanang dan wadon adalah persembahan rasa syukur warga kepada Tuhan TME dan juga kepada penjaga desa Tunggularum dari bahaya gunung merapi.

Tradisi merti bumi juga menyuguhkan makanan khas dusun Tunggularum yaitu nasi jagung. Menurut mereka nasi jagung adalah kegemaran penjaga gunung merapi sehingga harus ada di setiap ritual. Selama prosesi merti bumi ada beberapa larangan yang harus dipatuhi warga yaitu warga tidak berbicara yang tidak baik ketika prosesi kirab pusaka Kyai Tunggul Wulung, warga berpakaian rapi dan sopan, panitia diharuskan memakai pakaian kejawen, dan pakaian yang dipakai jangan memakai pakaian yang berwarna gadhung melati karena dianggap sama dengan pakaian kanjeng ratu kidul.


Data diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Yogyakarta

Sumber: Wikimedia
Previous post

Gambang Kromong, Wujud Akulturasi Betawi dan Tionghoa

Sumber: Republika
Next post

Siratan Perjuangan Martha Christina Tiahahu

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.