#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Rujak Cingur: Rujak Bukan Sembarang Rujak

Sebuah kota indah nan asri di sebelah timur Pulau Jawa, merupakan kota sejuta cerita dengan ikon jembatan Suramadunya yang futuristic dan eksotik. Banyak pelancong yang datang dan pergi hanya untuk menikmati suasana di kota ini.

Surabaya bukan cuma kebudayaannya saja lho yang unik, kulinernya pun tidak kalah dicari oleh pendatang. Kalau di Yogyakarta ada gudeg, di Solo ada Tengkleng, nah Surabaya tidak mau kalah kalau soal kuliner, mereka mempunyai makanan unik bernama Rujak Cingur. Eits, jangan salah, rujak di sini bukan sembarang rujak ya. Makanan khas ini unik karena lebih mirip pecel dibanding rujak pada umumnya.

Yuk, kita kenalan! Rujak Cingur merupakan makanan khas dari Surabaya, Jawa Timur. Tidak seperti rujak pada umumnya, makanan ini mempunyai bumbu khas yang tidak dapat kamu jumpai di daerah lain.

Bahkan di beberapa daerah di Jawa Timur juga ada yang menyediakan menu Rujak Cingur, tapi biasanya rasa yang dihasilkan sulit untuk menyaingi Rujak Cingur orisinil dari Surabaya.

Menurut kabar yang beredar dari mulut ke mulut, Makanan khas ini diyakini berasal jauh dari Negara Mesir. Raja Firaun Hanyokrowati yang pada saat itu masih menjadi Raja Mesir dan sedang berulang tahun, memanggil seluruh juru masak kerajaan untuk menyajikan masakan yang istimewa untuknya. Tapi sayang tidak ada makanan yang cocok untuk lidahnya.

Setelah Sang Raja kecewa munculah orang bernama Abdul Rojak dengan membawa makanan dengan bungkus pisang, setelah dicek oleh keamanan kerajaan, Sang Raja pun memakannya dengan lahap. Setelah puas, Raja lalu menghadiahkan Abdul Rojak sebuah Kapal Laut, sebidang tanah kosong, dan bahkan ingin diangkat menjadi juru masak kerajaan. Singkat cerita Abdul Rojak hanya menerima kapal dan berkelana hingga sampai ke pelabuhan Tanjung Perak kemudian menyebarkan resep tersebut.

Dilansir dari Wikipedia, Cingur dalam bahasa Jawa berarti “mulut”, hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Rujak Cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi (krai, yaitu sejenis timun khas Jawa Timur), bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kecambah/taoge, kangkung, dan kacang panjang.

Semua bahan tadi dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula/gula merah, cabai, kacang tanah yang digoreng, bawang goreng, garam, dan irisan tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang klutuk). Semua saus/bumbu dicampur dengan cara diulek, itu sebabnya Rujak Cingur juga sering disebut Rujak Ulek.

Benar atau tidaknya cerita yang beredar tersebut kita harus bangga dengan salah satu makanan khas Indonesia yang lezat ini. Jangan sampai ada bangsa lain yang mengaku Rujak Cingur sebagai ikon mereka.


Data diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Asal Muasal Rujak Cingur

PDBI – Rujak Cingur

Previous post

Mengenal Tari Remo Khas Jawa Timur

Next post

Tonya, Hantu “Berbudaya” dari Bali

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.