#KodeNusantaraBlog

Ritual dalam Proses Pembuatan Perahu Sandeq

Perahu Sandeq dalam pembuatannya diiringi dengan prosesi atau ritual khusus yang membuat Sandeq terasa istimewa. Suku Mandar memandang bahwa Perahu Sandeq sebagai benda bernyawa yang akan menemani nelayan Mandar ketika melaut. Mereka percaya semakin baik dalam memperlakukan saat pembuatan dan perawatan sandeq, maka semakin baik juga hasil yang akan diperoleh. Berikut ritual atau prosesi dalam proses pembuatan Perahu Sandeq.

Tahap pertama, yaitu tahap awal pembuatan perahu. Tahap ini ditandai dengan adanya ritual mambaca-baca, yaitu acara syukuran dan memohon doa keselamatan dalam proses pembuatan perahu, sekaligus secara simbolis memulai pembuatan perahu sandeq.

Tahap kedua, tahap proses pembuatan perahu, dimulai dengan ritual mattobo, yaitu prosesi pemasangan awal papan dinding perahu oleh tukang perahu. Pemasangan papan pertama dinilai menentukan keberhasilan perahu sehingga harus dilakukan sendiri oleh kepala tukang dengan rangkaian mantra dan ussul tertentu.

Selanjutnya ritual memasang pallayarang, yaitu memasang tiang layar sebagai penggerak utama perahu diiringi dengan ussul sebagai pengharapan kuatnya tiang layar yang digunakan.

Tahap ketiga merupakan ritual setelah pembuatan perahu selesai. Diawali dengan ritual mapposiq, yaitu membuat lubang kecil di bagian dasar tengah perahu sebagai pusat perahu sandeq dan tempat pengisi jiwa perahu. Dilanjutkan dengan ritual kuliwa, yaitu acara syukuran peresmian perahu dan pertanda perahu sudah dapat digunakan untuk berlayar.

Setelah itu, ritual makkotaq sanggilang, yaitu pembuatan lubang kemudi yang dilakukan langsung oleh kepala tukang. Terakhir, peluncuran perahu (mapparondong), yaitu mendorong atau mempertemukan perahu ke laut untuk pertama kalinya.

Secara garis besar, ritual atau prosesi yang dilakukan terdapat tiga tahap yang mengiringi proses pembuatan perahu sandeq. Seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, sedikit banyak telah mempengaruhi proses pembuatan perahu sandeq hingga saat ini. Meskipun demikian, para nelayan suku Mandar masih menganggap hal yang wajar dan diterima, karena perubahan tersebut tidak mengubah esensi budaya dalam perahu sandeq.


Data diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Perahu Sandeq

Previous post

Layangan Sanderen, Si Pemilik Suara Unik “Ngeng.. Ngeng.. Ngeng”

Next post

Pernikahan Adat Batak Toba: Rumit, tapi Sarat Makna

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.