#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Refleksi Kehidupan Penjual Nasi dalam Tari Boran

Tari Boran adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tari ini merupakan kesenian yang paling sering ditampilkan dalam acara-acara penting di Kabupaten Lamongan. Kata “Boran” berasal dari “Boranan” yaitu tempat nasi –semacam bakul yang terbuat dari anyaman bambu– yang digunakan penjual untuk menaruh segala kebutuhannya untuk membuat nasi boran. Nasi boran (sego boran) sendiri merupakan kuliner khas Lamongan yang berupa nasi dengan pilihan berbagai lauk pelengkap yang bisa dipilih pembeli seperti tempe, tahu, telur, sate uretan, pletuk, ikan sili, empuk, serta rempeyek kacang atau teri, dan lain-lain. Nasi dengan lauk tersebut diberi tambahan urap seperti yang biasanya ada pada nasi pecel, lalu diberi parutan kelapa dengan sambal khasnya untuk kemudian dilumuri kuah khas yang memberikan sentuhan rasa pedas. Selain adanya empuk, pletuk, dan ikan sili yang tidak akan dijumpai pada menu selain pada nasi boran, keunikan lain dari kuliner khas kota yang mendapat julukan Kota Soto ini ialah ada pada cara penyajiannya.

Nasi boran tidak pernah disajikan menggunakan piring, namun disajikan pada selembar kertas minyak yang dilapisi daun pisang lalu dibuat berbentuk kerucut. Makanan ini memang tidak sepopuler soto atau tahu campur yang juga berasal dari Lamongan. Namun makanan ini mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat Lamongan. Begitupun para penjualnya yang hampir bisa ditemui 24 jam di setiap sudut di Kabupaten Lamongan, yang akhirnya menginspirasi seniman Lamongan menciptakan Tari Boran ini sebagai wujud apresiasi terhadap para penjual nasi boran.

Tari Boran dibawakan secara berkelompok dengan gerakan yang sederhana namun penuh makna. Setiap gerakan dilakukan mengikuti ritme tertentu dengan iringan musik gamelan hingga terjalin sebuah cerita yang mampu melukiskan bagaimana aktivitas para penjual nasi boran. Mulai dari menyiapkan dagangan sejak subuh, berkeliling menjajakan dagangan dengan membawanya pada bakul yang ditaruh di atas kepala mereka, sampai interaksi yang terjalin saat melayani para pembelinya. Tarian ini mempunyai filosofi yang sangat mendalam tentang bagaimana kegigihan serta perjuangan para penjual nasi boran untuk dapat menghadapi ketatnya persaingan dan berjuang mencari rezeki demi menghidupi kehidupannya. Kostum yang dikenakan dalam menarikan tari boran ialah busana tradisional berupa baju kemben lengan panjang, celana sepanjang bawah dengkul yang warnanya sama dengan warna kebaya, kain batik khas Lamongan untuk di bagian pinggang, kupluk untuk digunakan di bagian kepala, serta yang tak kalah penting ialah properti berupa boran itu sendiri.


Referensi:

PDBI – Tari Boran

Artikel Sebelumnya

Berkenalan dengan Teman-Teman dari Suku Anak Dalam

Artikel Selanjutnya

Upacara Bersih Sendhang: Tradisi Merawat Lingkungan

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published.