#KodeNusantaraBlog

Gasing Sisimulue: Permainan Asik yang Tergilas Zaman Dari Aceh

Apakah kalian familiar dengan gasing? atau bahkan pernah memainkannya? Jika iya, maka Anda adalah orang yang beruntung dapat bermain permainan tradisional tersebut, sebagai mana kita tahu bahwa gasing sudah jarang dimainkan pada zaman modern seperti saat ini.

Sejarah gasing kebudayaan masyarakat Simelue Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bermula sejak kurang lebih 150 tahun yang lalu, untuk siapa yang menciptakan dan siapa yang membawa permainan tersebut juga masih menjadi misteri sampai saat ini. Namun tersebut kabar bahwa  pada saat Belanda masuk ke Simelue, permainan ini sudah menjadi seni permainan yang dilombakan dan populer di zamannya.

Koleksi Museum Aceh, tepatnya di foto dari benda budaya di Rumoh Aceh (20/11/2012).

Gasing sendiri berbahan dasar dari kayu, sebenarnya kayu apa saja bisa dijadikan gasing. Tapi orang lebih sering membuat gasing dengan kayu pohon waru, kayu pohon jambu klutuk. Dan terdapat bahan tambahan berupa besi runcing yang ditanamkan di bawah gasing agar dapat berputar.

Terdapat 2 jenis gasing, yaitu: Gasing Laga dan Gasing Putar. Untuk gasing putar cara memainkannya dengan cara membuat arena permainan berbentuk lingkaran. Lingkaran ini dibentuk oleh para penonton. Sedangkan para pemain berada pada lingkaran tersebut. Di tengah-tengah dibuat lingkaran kurang lebih berdiameter 30 cm. Kemudian di tengah lingkaran kecil dibuat satu titik biasanya titik itu ditandai oleh sobekan kecil daun kering. Apabila dari satu permainan seorang peserta melemparkan gasingnya persis pada sobekan kecil daun kering di tengah lingkaran kecil tersebut dengan mengeluarkan suara desingan kencang dan terus berputar lama sekali dari peserta yang lainnya, maka peserta dinyatakan sebagai pemenang.

Nah untuk gasing laga, sebelum diadakan permainan akan dilakukan pengundian (suit) untuk menentukan siapa yang lebih dulu melakukan lemparan sementara peserta yang lain meletakkan gasingnya di tengah lingkaran gasing yang telah dibuat terlebih dahulu. Di dalam permainan gasing laga biasanya peserta dua orang atau berkelompok dalam satu kali permainan.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, Kenapa gasing sudah jarang dimainkan oleh anak-anak era milenial saat ini? Apa karena bermain handphone lebih asik? Atau mungkin bermain gasing sudah ketinggalan zaman? Mungkin semua pernyataan di atas benar dan tidak dapat dielak lagi. Akan tetapi kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan zaman, seharusnya orang yang lebih dewasa dapat menanamkan bahwa gasing merupakan permainan yang tidak kalah asiknya dengan gadget.

Apalagi banyak manfaat yang akan diperoleh dengan bermain gasing tradisional, seperti:

  • Dapat mempererat silaturahmi antar tetangga/warga, karena permainan ini harusnya dimainkan secara beramai-ramai.
  • Menyehatkan badan, dikarenakan kita membutuhkan tenaga ekstra untuk membanting dan memutar gasing, maka itu sama saja dengan kita berolahraga melatih lengan.
  • Tidak akan punah tradisi dan budaya yang sudah ada pada zaman dahulu. Dan akan memberikan kesempatan anak cucu kita untuk bermain permainan asik tersebut di masa depan.

Tertarik untuk memainkan permainan tradisional tersebut? Jangan malu untuk memainkannya, seharusnya kita bangga karena Indonesia memiliki  permainan tradisional tersebut. Dan jangan lupa untuk memberi tahu teman dekat, sanak saudara, dan keluarga di rumah untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.


Data Terkait:

PDBI – Gasing

Previous post

4 Keindahan Alam yang Wajib Dikunjungi di Banyuwangi

Next post

Layangan Sanderen, Si Pemilik Suara Unik “Ngeng.. Ngeng.. Ngeng”

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.