#KodeNusantaraBlog

Pawukon, Sistem Penanggalan Asli dari Jawa dan Bali

Baru saja tahun berganti. Pergantian tahun adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang di seluruh dunia. Pergantian tahun kemarin adalah pergantian tahun sesuai dengan kalender Masehi yang dipakai oleh hampir seluruh manusia. Selain kalender masehi, mungkin kita juga pernah mendengar kalender Hijriyah yang dipakai oleh muslim. Namun, ternyata Jawa dan Bali memiliki sistem penaggalan asli yang pernah dipakai pada zaman dahulu. Sistem penanggalan ini disebut dengan Pawukon.

Pawukon merupakan kalender tradisional yang digunakan oleh masyarakat Jawa dan Bali. Kalender tradisional ini memiliki banyak kegunaan, di antaranya sebagai pedoman untuk menentukan hari-hari suci umat Hindu, hari pasaran, hari perayaan pribadi, menentukan hari baik dan hari buruk, menjabarkan watak-watak manusia berdasarkan hari lahirnya, dan  sebagainya. Kelebihannya terletak pada menjabarkan watak manusia, bahkan tidak hanya sampai di situ. Pawukon juga memberi gambaran secara umum kondisi fisik, karakter, atau watak seseorang, tetapi juga menentukan waktu dan jenis naas (pengapesan) atau pantangan yang harus dihindari seseorang, serta proyeksi nasibnya di masa datang.

Memiliki 210 hari dalam setahun, Pawukon memiliki siklus hari yang diberi namasaptawara, pancawara, dan juga pasaran. Di mana untuk pancawara dimulai dari hari Senin sampai hari Sabtu, sedangkan untuk pancawara dan pasaran, yaitu setiap hari dengan siklus 5 harian. Memang untuk orang yang awam, akan sangat bingung untuk bisa memahami kalender Jawa kuno ini. Hanya orang-orang yang sudah ahli saja yang bisa membacanya.


Sumber:

  • 1001Indonesia. (2016, maret 21). 1001Indonesia Tradisi. Retrieved from 1001Indonesia: https://1001indonesia.net/pawukon/
  • Aneh, K. (2017). Kejadian Aneh Mitologi. Retrieved from Kejadian Aneh: https://www.kejadiananeh.com/2017/06/pawukon-kalender-jawa.html
  • hamzahmutaqinf. (2019, januari 10). PDBI Naskah Kuno dan Prasasti. Retrieved from PDBI: https://budaya-indonesia.org/Pawukon/
Previous post

Di balik Tradisi Karapan Sapi, Diet Hewan dan Meningkatnya Nilai Jual Sapi

Next post

Saramben, Kalung Sakral Wadian Bawo

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.