#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Bertoleransi dengan Tradisi Ngejot

Toleransi merupakan hal yang seharusnya lumrah disaksikan di Indonesia. Keberagaman budaya, suku, agama, ras dan juga golongan lah yang memunculkan tradisi itu. Oleh karena itu, bertoleransi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di Bali, ada sebuah tradisi yang dapat dijadikan contoh untuk kita semua bertoleransi. Tradisi itu bernama Ngejot.

Kata “Ngejot” sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bali yang memiliki arti “memberi.” Jenis pemberiannya bisa berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan. Secara khusus, Tradisi Ngejot di Bali terbagi ke dalam Ngejot ketika hari raya dan Ngejot ketika seseorang memiliki hajatan atau suatu acara adat atau agama tertentu. Salah satu saat pelaksanaannya adalah menjelang Hari Raya Idul Fitri. Adapun makna dari Ngejot adalah suatu tradisi berbagi makanan dan minuman masyarakat (dalam konteks ini adalah masyarakat di beberapa daerah di Bali) kepada tetangga dan kerabatnya. Makanan atau minuman yang dibagikan saat Ngejot dinamakan jotan.

Tradisi Ngejot berawal dari pemeluk agama Hindu di Bali. Mereka membagikan makanan dan minuman ke tetangga dan kerabat ketika menjelang perayaan Nyepi, Galungan, dan Kuningan. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang ke pemeluk agama Islam. Masyarakat muslim Bali, Ngejot menjelang Idul Fitri kepada kerabat dan tetangga di sekitarnya. Biasanya dimulai seminggu sebelum Idul Fitri. Kemudian pemeluk agama lain, misalnya Hindu, akan membalas Ngejot saat perayaan Nyepi, Galungan, dan Kuningan.

Begitulah keindahan bertoleransi dalam budaya tradisi Ngejot di Bali. Tidak hanya Ngejot, masih banyak tradisi-tradisi yang mencerminkan toleransi di Indonesia ini. Tradisi-tradisi tersebut menggambarkan bahwa keberagaman bukan halangan untuk berbuat baik. Jangan lihat perbedaannya tapi lihat persamaannya, yaitu Indonesia.


Sumber:

  • Oase. (2014, Desember 11). PDBI Ritual. Retrieved from PDBI: https://budaya-indonesia.org/Ngejot/
  • Ramadhani, Y. (2017, Juni 28). Tirto Sosial Budaya. Retrieved from Tirto: https://tirto.id/menjaga-kerukunan-di-bali-dengan-tradisi-ngejot-crmr
Previous post

Gegerit, Kisah Perjuangan Perempuan dalam Tarian

Next post

Menjaga Kebersamaan dengan Tradisi Megibung

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.