#KodeNusantaraBlog

Teknologi Di balik Arsitektur Rumah Sunda

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki keragaman yang unik. Dari segi bentuk, fungsi, makna, serta filosofinya memiliki hal yang berbeda berdasarkan alam tempat ia dibangun. Setiap suku di Indonesia memiliki teknologinya sendiri dalam membangun rumah dan setiap suku di Indonesia sudah mengerti bagaimana Ia bisa bersinergi dengan alam dalam membangun pemukiman ataupun rumah tinggal. Arsitektur rumah suku Sunda dikenal dengan bentuk bangunannya yang sangat sederhana serta menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, kita dapat melihatnya secara kasat mata dari mulai lantai sampai atap bahannya diambil langsung dari tumbuhan yang dapat dengan cepat beregenerasi, yaitu bambu.

Arsitektur bangunan tradisional Sunda yang paling khas adalah imah panggung, yaitu rumah yang memiliki kolong di bawah lantai sekira 40-60 cm. Panggung berasal dari kata pang dan agung artinya yang diletakkan paling tinggi atau tertinggi. Dalam pandangan Orang Sunda, rumah merupakan lambang wanita, karena seluruh aktivitas di dalamnya dilakukan oleh wanita. Panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik.

Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar (Adimihardja, 2008). Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan Orang Sunda, bahwa dunia terbagi tiga: ambu handap, ambu luhur, dan tengah. Tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke ambu handap (dunia bawah/bumi) dan ambu luhur (dunia atas/langit). Dengan demikian, rumah harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus diberi alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah, yaitu berupa batu yang disebut umpak (Adimihardja, 2008).

Struktur dan konstruksi imah panggung Masyarakat Sunda (Nuryanto, 2015)

Struktur dan konstruksi rumah panggung Masyarakat Sunda terlihat ringan dan sederhana, karena bahan-bahan yang dipakai seluruhnya berasal dari alam sekitar dan dibuat sendiri (Gambar 1). Hal tersebut dapat dilihat pada pondasi dari batu belah yang langsung diambil dari sungai, bukit, atau gunung; dinding terbuat dari bilik bambu yang dianyam atau papan kayu; lantai dari talupuh atau palupuh, yaitu bambu yang dirajang (belah-belah) atau dari papan; atap rangkanya dari bambu campur kayu serta penutupnya dari hateup kiray (nipah) dan injuk (ijuk). Walaupun terlihat ringan dan sederhana, tetapi tetap kuat dan kokoh. Hal tersebut terbukti dari beberapa peristiwa gempa bumi yang pernah dan sering menimpa Tatar Sunda, tetapi rumah-rumah tersebut tetap berdiri kokoh. Kondisi ini dapat dilihat pada Kampung Baduy, Naga, Kasepuhan Ciptagelar, dan Dukuh, rumah-rumahnya kokoh, tidak ada yang roboh.

Tree trunk regions in compression and tension (Brostow dkk, 2010)

Berdasarkan material bangunan, bangunan tradisional sunda telah memenuhi salah satu persyaratan bangunan tahan gempa yang terbuat dari material yang ringan, yaitu terdiri dari kayu dan bambu. Keunggulan kayu sebagai material bangunan diungkapkan oleh Brostow dkk (2010) bahwa kayu terdiri dari dua bagian, bagian tengah dapat melawan kompresi dan bagian luar dapat melawan tension. Kayu yang memiliki kadar air rendah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melawan kompresi. Sel kayu dapat meneruskan tekanan kompresi. Kayu merupakan bahan struktur yang mendukung pengembangan green arsitektur.

Bambu merupakan material ramah lingkungan yang sudah lama dipkai suku Sunda (Sumber foto: liestinaagustin.blogspot.com)

Bahan lain yang banyak digunakan pada bangunan tradisional sunda adalah bambu. Menurut Sharma dkk (2015) bambu memiliki banyak keunggulan sebagai bahan konstruksi, yaitu merupakan bahan yang cepat terbarukan dan memiliki sifat mekanik seperti kayu. Serat bambu bervariasi sehingga dapat digunakan untuk bahan interior maupun eksterior bangunan. Selanjutnya Tomas (2014) menyatakan bambu merupakan sumber daya yang sangat fleksibel dan banyak tersedia perlu diadopsi sebagai bahan rekayasa untuk pembangunan rumah dan bangunan lainnya. Secara umum, sistem kekuatan pada rumah panggung Masyarakat Sunda menggunakan ikatan, sambungan pupurus, dan paseuk (pasak). Pada rangka lantai, dinding, dan kuda-kuda, balok-balok yang dipasang dan disambung, baik secara vertikal maupun horizontal menggunakan sambungan pupurus (pen dan lubang), sedangkan hubungannya menggunakan ikatan dengan tali ijuk atau rotan, serta pasak kayu. Tidak ada paku, mur, dan baut, karena dilarang oleh adat dan bertentangan dengan aturan leluhur mereka (tabu). Menurut Felix (1999) sambungan pasak memiliki tingkat efisiensi 60% dan lebih baik dibandingkan dengan sambungan baut yang memiliki tingkat efisiensi 30%, maupun sambungan paku yang memilki tingkat efisiensi 50%.

Struktur dan konstruksi memiliki kaitan erat, karena salah satu tidak ada, maka bangunan tidak dapat diberdirikan; ”euweuh rarangka teu bisa ngarangka, euweuh ngarangka wangunan teu bisa ngadeg”, artinya tidak ada kerangka maka rumah tidak dapat didirikan (dibangun). Pembagian struktur dan konstruksi rumah Masyarakat Sunda didasarkan pada bentuk panggung, mereka membaginya ke dalam dua jenis: handap dan luhur. Handap merupakan struktur yang terletak di bawah lantai rumah terdiri dari lelemahan/lemah (tanah dasar), dan umpak/tatapakan (pondasi). Luhur merupakan struktur yang terletak di atas lantai rumah seperti pangadeg/adeg (dinding), lalangit/palapon (langit-langit), dan rarangka (kuda-kuda). Struktur merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari konstruksi, karena fungsinya saling mendukung sebagai kekuatan bangunan.

Struktur handap yang terdiri dari lelemahan dan pondasi umpak Sumber: Nuryanto, 2006.

Di atas permukaan tanah didirikan umpak, yaitu pondasi dari batu dengan teknik pemasangan yang telah ditentukan. Warga mengenal tiga jenis umpak: buleud, lisung dan balok. Buleud adalah umpak dengan bentuk bulat, lisung berbentuk trapesium sedangkan balok menyerupai kubus. Secara umum, mereka menggunakan umpak bulat. Menurut warga, umpak dapat dipasang dengan dua cara: dina luhur taneuh, yaitu di atas permukaan tanah dan dina jero taneuh, artinya dikubur sebagian di dalam tanah. Pada umumnya, mereka memasang umpak dengan cara dikubur sebagian di dalam tanah. Berdasarkan hasil analisis terhadap persyaratan bangunan tahan gempa, pondasi yang digunakan pada bangunan tradisional sunda sudah memenuhi persyaratan. Mereka menggunakan pondasi setempat yang satu sama lain sudah terikat.

Lantai talupuh dan lantai papan pada imah panggung Sumber: Nuryanto, 2006.

Struktur luhur dibedakan ke dalam dua bagian: pangadeg, lalangit, dan rarangka. Struktur pangadeg merupakan kerangka rumah yang disusun berdasarkan dua komponen: dinding dan lantai. Struktur dinding disusun berdasarkan tiga komponen utama: tihang pangadeg/tihang adeg, pananggeuy dan tihang nu ngabagi. Dinding terbuat dari bilik bambu yang dianyam dengan sistem kepang, dan dinding papan dengan sistem susun sirih. Konstruksi pananggeuy dan tihang adeg menggunakan teknik sambungan pupurus (penlubang) dan bibir miring berkait diperkuat dengan paku, pasak dan tali, demikian juga pada sunduk awi.

Pada struktur lantai, masyarakat tradisional Sunda mengenal tiga jenis lantai, yaitu: talupuh, papan dan bilik. Talupuh atau palupuh merupakan lantai yang terbuat dari bambu yang dirajam dengan ukuran tertentu sesuai kebutuhan. Bambu yang dipakai biasanya dari jenis gombong atau wulung berdiameter ± 15-20 cm, dan tebal ± 12-15 mm, sehingga pada saat dibelah dan dirajam lebarnya bisa mencapai ± 30 cm. Menurut mereka, lantai talupuh memiliki beberapa keuntungan, di antaranya: mudah dalam cara pembuatan dan pemasangan, ringan, murah dan terlihat lebih indah.

Struktur luhur yang terdiri dari pangadeg dari bilik dan papan Sumber: Nuryanto, 2006.

Struktur lalangit dan rarangka merupakan struktur suhunan merupakan rangka atap yang disusun berdasarkan dua komponen: kuda-kuda dan langit-langit. Kuda-kuda terdiri dari dua komponen, yaitu: nu mikul dan nu dipikul. Nu mikul merupakan kerangka kuda-kuda utama, sedangkan nu dipikul sebagai kerangka pendukung. Seluruh struktur suhunan menggunakan kuda-kuda dari kayu dan bambu dengan bentuk kuda-kuda segi tiga. Pada sruktur nu mikul, warga menggunakan makelar adeg (10×15 cm) diletakkan tegak lurus di atas pamikul. Pamikul (8×15 cm) dipasang horizontal yang menghubungkan antar makelar adeg. Di kanan dan kiri makelar adeg dipasang jure suhunan dengan kemiringan ± 30-45. Jure suhunan (8×15 cm) menghubungkan balok pamikul yang terletak di bawahnya dengan makelar adeg pada ujung atasnya. Di atas makelar adeg, sebagian warga memasang nok (5×10 cm) secara horizontal. Untuk memperkuat posisi jure suhunan, dipasang sokong (8×12 cm) di kiri dan kanan makelar adeg. Pada struktur nu dipikul, terdapat gordeng atau gording (6×12 cm) yang diletakkan di atas jure suhunan secara horizontal sesuai ukuran bentang kuda-kuda.

Pada sebagian atap, ada juga yang tidak memakai gordeng. Di atas gordeng, warga memasang layeus atau kaso (5×7 cm) secara vertikal searah jure suhunan. Layeus menghubungkan pamikul yang ada di bawah dengan nok di atasnya. Di atas layeus, ereng atau reng (2×3 cm) diletakkan sejajar dengan balok jure suhunan mulai dari bawah hingga ke atas. Pada umumnya, digunakan layeus dan ereng dari bambu. Untuk memperkuat posisi jure suhunan, warga juga memasang sisiku siku-siku (5×5 cm) di bawahnya dengan kemiringan tertentu. Sebagian warga tidak menggunakan gapit, lesplang, pangeureut, panglari, nunjang, ikatan angin dan balok kunci, karena menghemat bahan. Setelah kerangkanya selesai, maka penutup atap dapat dipasang. Pemasangan penutup atap dari hateup lebih mudah dibandingkan injuk, karena konstruksinya tidak terlalu rumit. Pada konstruksi hateup, ereng tidak diperlukan lagi karena penutup atap tersebut telah distel terlebih dahulu sesuai jarak layeus ± 45-50 cm. Teknik sambungan kayu yang dipakai pada umumnya jenis bibir lurus-berkait, miring-berkait dan pen-lubang serta diperkuat dengan teknik ikatan tali ijuk dan rotan. Teknik sambungan dan ikatan memerlukan pemikiran dan perhatian yang besar, karena apabila salah akan fatal akibatnya.

Pada struktur suhunan atau atap imah panggung masyarakat tradisional Sunda, seperti di Baduy Kajeroan, Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Naga, dan Dukuh pantang menggunakan penutup atap dari genteng (tanah), karena dilarang oleh adat leluhur, mereka menyebutnya teu wasa atau teu wani. Dalam sistem kosmologi mereka, menggunakan atap genteng sama artinya mengubur diri hidup-hidup, karena hanya orang mati yang pantas dikubur; ”jelema hirup keneh kunaon kudu di ruang”, artinya orang hidup kenapa harus dikubur. Di samping itu, menggunakan atap dari tanah sama artinya berzinah dengan ibu, karena menurut mereka tanah artinya bumi yang memiliki makna ka indung; ”manusa hirup tina saripatina taneuh”, artinya manusia hidup dari saripatinya (inti) tanah. Taneuh atau tanah juga memiliki makna kematian. Bagi mereka yang berani menggunakan atap dari genteng akan kabendon (mendapat murka) dari leluhur, seperti: sakit, sial, dan susah hidupnya. Hal ini juga berlaku bagi jenis material lain, selain genteng, seperti: asbes, seng, dan sejenisnya yang bersumber dari saripati tanah, semuanya dilarang karena bertentangan dengan aturan adat leluhur.

Struktur atap bangunan tradisional sunda menggunakan material yang ringan, hal ini sejalan dengan ketentuan konstruksi bangunan tahan gempa. Sebagai contoh rumah adat di Cikondang yang terletak di RT 003 RW 03 kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, masih berdiri kokoh, kendati daerah tersebut terkena dampak gempa berkekuatan 7,3 SR yang terjadi Rabu 2 September 2009. Kearifan lokal mencuat dari bangunan berwarna coklat sederhana itu, seakan menjawab tantangan, tak goyah diterjang gempa (Pikiran Rakyat, 7 September 2009).

Arsitektur sunda adalah mahakarya warisan budaya leluhur yang menyimpan berbagai macam pesan hubungan manusia dengan alam, hal ini dapat kita lihat berdasarkan pemaparan di atas dimana semua aspek dalam bangunan tradisi Sunda dibangun melalui riset oleh nenek moyang suku sunda yang sudah turun temurun diwariskan.


Sumber:

Pusat Kajian Arsitektur

Arsitektur Sunda

Previous post

Marbinda, Tradisi Natal di Tanah Toba

Next post

Semangat Gotong Royong Komunitas Adat Pasang

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.