#KodeNusantaraBlog

Semangat Gotong Royong Komunitas Adat Pasang

Indonesia terkenal dengan semangat gotong royongnya. Salah satunya tercermin dari ritual salah satu komunitas adat Pasang di Desa Pasang, Kecamatan Malwa, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Terdapat ritual mendirikan rumah atau yang biasa disebut ma’patindak bola.

Ma’patindak sendiri dapat diartikan mendirikan, sementara bola adalah rumah. Keunikan acara ini adalah terlibatnya banyak orang untuk ikut membantu, tanpa harus diminta oleh si pemilik rumah

Jika ada informasi sebuah rumah hendak didirikan, maka tanpa diminta orang-orang dari seluruh penjuru kampung akan berdatangan untuk membantu, tidak hanya orang tua, namun anak-anak mudanya, laki-laki dan perempuan. Semangat gotong-royong sangat terasa dalam ritual ini.

Ma’patindak bola ini sendiri memiliki sejumlah proses. Setelah rumah siap didirikan, maka di lokasi pendirian rumah terlebih dulu dilakukan acara doa dan pembacaan barzanji, berisi puja-puji pada Nabi Muhammad dan keluarganya. Tradisi di komunitas adat Pasang memang sangat dipengaruhi ajaran Islam.

Setelah prosesi barzanji ini dilakukan, yang diakhiri dengan doa keselamatan untuk pemilik rumah, maka di lokasi yang sama dilanjutkan dengan ritual maccera bola. Maccera biasanya diidentikkan dengan mengorbankan sesuatu, apakah itu ayam, kambing atau sapi. Untuk acara ma’patindak bola ini, yang dikorbankan adalah ayam dari tiga jenis, yaitu ayam berwarna hitam, putih dan bakka atau ayam dengan tiga warna, merah, hitam dan putih.

Ritual Maccera Bola (Sumber : Mongabay.co.id)

Ayam hitam adalah persembahan untuk tanah, ayam putih untuk rumah atau bangunan, sementara ayam bakka untuk penghuni rumah agar selalu sehat dan sejahtera atau berkembang atau bakka,

Setelah ritual maccera bola dilakukan, dilanjutkan dengan pemasangan tiang-tiang dan rangka rumah. Proses inilah yang kemudian melibatkan banyak orang, yang bisa mencapai ratusan orang. Proses pemasangan tiang dan rangka ini sangat vital karena akan menentukan bangunan awal rumah. Setelah pemasangan tiang dan rangka ini selesai akan dilanjutkan dengan pemasangan dinding, lantai dan atap. Setelah bangunan rampung dan sebelum digunakan atau ditinggali oleh pemilik rumah maka ada ritual terakhir yang harus dilakukan, yaitu ritual kesyukuran atau ritual masuk rumah. Biasanya disertai dengan pemotongan ayam atau kambing untuk dikonsumsi bersama.

Ma’patindak Bola (Sumber : Mongabay.co.id)

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam ritual ma’patindak bola ini adalah pemilihan waktu. Jika tidak tepat maka diyakini akan berakibat fatal bagi kesehatan, kesejahteraan dan keselamatan pemilik rumah dan keluarganya. Proses penentuan rumah ini biasanya melibatkan orang-orang tua yang memahami konsep hari baik.

Kuatnya semangat gotong-royong di komunitas adat Pasang tak terlepas dari masih sangat kuatnya masyarakat adat Pasang dalam memegang pasang atau pesan leluhur. Ada empat inti dari pesan leluhur melalui pasang ini, yaitu malelu sipakainga’, artinya siapapun yang keliru itu harus diingatkan. Kedua, mali’ siparappe’, yang berarti kalau ada yang hanyut maka harus diselamatkan, sebagai kewajiban seluruh warga. Itulah makanya gotong royong di sini sangat kuat. Lalu ada juga pesan berupa ra’ba sipatokkong yang berarti bahwa jika ada yang rugi atau tidak mampu maka harus dibantu. Ketika sudah mampu maka harus bekerjasama, yang disebut tokkong sipakarudani, sebagai pesan terakhir.

Menarik, kan? Saat kebanyakan orang merasa semangat gotong-royong kita semakin terkikis seiring waktu, ternyata semangat itu tidaklah punah, masih ada masyarakat Indonesia yang melestarikannya dalam bentuk ritual-ritual adat yang masih berlangsung hingga saat ini. Pesan-pesan moral yang disampaikan oleh para leluhur komunitas adat Pasang tentunya dapat kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber:

Serunya Tradisi Mendirikan Rumah di Komunitas Adat Pasang

Info lanjut:

PDBI – Ma’Pindak Bola Semangat Gotong Royong Adat Pasang

Artikel Sebelumnya

Teknologi Di balik Arsitektur Rumah Sunda

Artikel Selanjutnya

Anak Gunung Sindoro yang Menangis

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.