#KodeNusantaraBlog

Noken, Tas Dari Kulit Pohon Khas Papua

Tak pernah ada habisnya jika kita berbicara mengenai kesenian yang ada di ujung timur Indonesia tepatnya di Papua. Provinsi yang dijuluki sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi ini ternyata memiliki banyak sekali kesenian yang sangat unik. Salah satunya adalah noken.

Noken merupakan tas anyaman yang terbuat dari kulit kayu yang dikeringkan dan dipilin kemudian dianyam menjadi sebuah tas yang memiliki kekhasan dari tradisi budaya Papua. Kulit kayu yang digunakan untuk membuat noken pun bervariasi seperti kulit kayu pohon manduan, pohon nawa maupun anggrek hutan.

Biasanya, noken digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk membawa kayu baka dan hasil panen berupa ubi-ubian maupun sayur-sayuran. Bahkan di era modern saat ini tas noken sering dijadikan sebagai tas kampus ataupun tas bepergian oleh anak-anak muda di Papua. Disamping itu dalam sistem adat Papua, noken sering digunakan dalam pemilihan kepala daerah. Tradisi ini masih dilakukan di beberapa kampung-kampung adat Papua.

Meskipun noken terlihat sangat sederhana, tapi untuk membuatnya butuh ketelitian dan tidak sembarang orang dapat membuatnya. Hanya perempuan Papua sajalah yang dapat menyulam serat-serat dari pelepah kulit kayu ini menjadi sebuah tas. Apabila perempuan Papua belum bisa membuat noken maka ia dianggap belum dewasa dan belum layak untuk menikah.

Apakah laki-laki juga bisa membuat noken? Jawabannya adalah tidak. Menurut adat Suku Papua, laki-laki tidak diperbolehkan membuat noken karena noken merupakan simbol kesuburan bagi kandungan seorang perempuan.

Untuk kalian yang ingin berkunjung ke Papua, wajib hukumnya untuk membeli tas noken sebagai buah tangan. Tas noken ini tidak kalah bagus dan menarik loh dengan tas-tas diluar sana. Selain modelnya yang bervariasi, harga dari tas noken ini sangat terjangkau dan yang pasti awet dan tahan lama.

Data terkait

PDBI – Noken Seni Tradisional Masyarakat Papua

Artikel Sebelumnya

Legitnya Lemper Pengkang Khas Pontianak.

Artikel Selanjutnya

Candi Sewu: Bentuk Toleransi Dari Para Leluhur

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.