#KodeNusantaraBlog

3 Cerita Rakyat untuk Teman Ngabuburit

Ngabuburit tidak harus selalu keluyuran di luar rumah memburu takjil, kegiatan menunggu azan magrib ini bisa diisi di rumah sambil bersantai dan menambah wawasan dengan membaca cerita rakyat. Yuk, langsung saja simak 3 cerita rakyat yang menarik di bawah ini!

  • Batu Menangis
Batu Menangis (sumber foto: penuliscilik.com)

Berasal dari Kalimantan Barat, cerita rakyat ini menceritakan tentang Darmi, seorang gadis desa yang cantik dan hobi bersolek. Walaupun cantik, Darmi tidak memiliki perilaku yang baik, ia gadis yang pemalas, ia sering kali menyuruh-nyuruh ibunya yang sudah tua dan miskin.

Suatu hari, Darmi menyuruh ibunya untuk membelikan kosmetik untuk memenuhi hobi bersoleknya, namun, ibunya tidak mengerti kosmetik yang ingin dibeli anaknya itu sehingga ia meminta anaknya untuk ikut ke pasar untuk mencari kosmetik tersebut. Dengan berat hati, Darmi menyetujui untuk ikut ke pasar dengan satu syarat, ibunya harus berjalan di belakangnya.

Tiba di pasar, Darmi berharap teman-temannya tidak melihatnya berjalan bersama ibunya karena ia malu jika teman-temannya tahu bahwa ibunya miskin dan tua. Namun, sial bagi Darmi, salah satu temannya melihat mereka dan bertanya siapa ibu-ibu yang berjalan dibelakangnya. Darmi berbohong dan berkata bahwa ibu-ibu tersebut adalah pembantunya. Mendengar perkataan anaknya, hati Ibu Darmi seperti disayat pisau.

Ibu Darmi merasa lelah, ia berhenti sebentar untuk istirahat duduk di pinggir jalan. Bukannya membantu, Darmi malah membentak ibunya yang sedang istirahat agar cepat kembali berjalan. Hati Ibu Darmi yang masih terluka, kembali tersakiti oleh bentakan anaknya, ia sudah tidak kuat lagi menahan semuanya hingga ia pun berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan anak hamba, hukumlah dia!” Tidak lama setelah Ibu Darmi melontarkan doanya, turun hujan dan petir dengan tiba-tiba. Darmi kaget melihat badannya mulai berubah menjadi batu di tengah-tengah hujan deras. Ia meminta maaf dan mohon ampun pada ibunya agar badannya kembali normal, namun, bagai nasi sudah menjadi bubur, Darmi sudah terlanjur berubah menjadi batu. Setelah Darmi berubah menjadi batu, hujan berhenti, dan batu tersebut terlihat mengeluarkan air mata sehingga kini terkenal dengan sebutan Batu Menangis.

  • Pahit Lidah
Ilustrasi Pahit Lidah (sumber foto: ceritarakyatnusantara.com)

Dikisahkan di suatu daerah bernama Sumidang, hidup seorang keturunan raksasa bernama Serunting. Serunting memiliki rasa iri pada adik dari istrinya, Aria Tebing. Mereka berdua memiliki ladang yang bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh pohon besar. Di pohon besar tersebut tumbuh cendawan, cendawan yang menghadap ke ladang Aria Tebing tumbuh emas, sedangkan cendawan yang menghadap ke ladang Serunting hanya ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan tak berguna.

Serunting menganggap Aria Tebing telah menggunakan ilmunya untuk menumbuhkan tumbuhan yang tidak berguna di ladangnya, sehingga ia menantang Aria Tebing untuk berkelahi. Dalam perkelahian Aria Tebing dikalahkan oleh Serunting hingga hampir meninggal.

Aria Tebing tidak terima dengan kekalahan dalam perkelahian tersebut, ia memaksa kakaknya (istri Serunting) untuk membocorkan rahasia kekuatan Serunting. Setelah diberi tahu bahwa kekuatan Serunting berada di ilalang yang bergetar, Aria Tebing kembali menantang Serunting untuk berkelahi. Dalam perkelahian yang kedua, Aria Tebing hampir terkalahkan lagi, namun ia melihat ilalang bergetar dan langsung menusuknya dengan tombak. Seketika, Serunting terjatuh dan terluka karena sumber kekuatannya ditusuk dengan tombak.

Serunting merasa dikhianati oleh istrinya karena ialah satu-satunya orang yang mengetahui tentang ilalang bergetar. Serunting mengembara ke Gunung Siguntang dan meminta kesaktian kepada Hyang Mahameru. Hyang Mahameru memberikan kesaktian kepada Serunting berupa lidah yang dapat merubah apapun yang ia katakan menjadi sebuah kutukan.

Serunting kembali ke Sumidang dan mengutuk apapun yang ia lewati. Saat melewati Sungai Jambi, Serunting mengutuk semua orang menjadi batu. Kelakuan Serunting yang jahat ini membuatnya dijuluki sebagai Si Lidah Pahit.

Banyak kerusakan yang disebabkan oleh Serunting dengan kesaktiannya. Ia merasa bersalah atas hal tersebut dan ingin menebus kesalahannya dengan mengubah Bukit Serut menjadi hutan kayu yang produktif. Walaupun warga sekitar senang dengan hutan kayu tersebut, Serunting tetap dijuluki Si Lidah Pahit.

  •  Batu Golog
Ilustrasi Batu Golog (sumber foto: daerahkita.com)

Alkisah, hidup seorang ibu bersama suami dan kedua anaknya di daerah Padamaran dekat Sungai Sawing. Keluarga ini miskin, pekerjaan kedua orang tua adalah buruh tani.

Suatu hari Ibu, Inaq Lembain namanya, sedang bekerja menumbuk padi milik warga. Ia membawa kedua anaknya untuk menemaninya bekerja. Kedua anaknya duduk di atas sebuah batu ceper yang tiba-tiba naik terus-menerus semakin tinggi.

“Ibu, batu ini semakin tinggi!” Teriak si sulung yang tidak digubris ibunya karena sedang sibuk bekerja. Batu yang mereka duduki terus naik hingga setinggi pohon kelapa. Anak-anaknya terus berteriak, namun, ibunya hanya menyuruhnya untuk menunggu dengan tenang.

Inaq Lembain telat menyadari bahwa anak-anakknya sudah terbawa batu tersebut hingga ke awan-awan. Dia menangis tersedu-sedu dan berdoa agar dapat kembali mengambil anaknya. Doa itu terjawab, ia diberi kekuatan gaib. Dengan sabuknya, ia dapat memenggal batu tersebut. Benar saja, dengan sekali tebasan, batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong oleh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian kedua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.

Kedua anak Inaq Lembain tidak turun ke bumi, mereka berubah menjadi dua ekor burung. Si sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena berasal dari manusia, kedua jenis burung itu tidak mampu  mengerami telurnya.


Referensi:

PDBI – Batu Menangis

PDBI – Pahit Lidah

PDBI – Batu Golog

Previous post

Lamaran dari Perempuan, Begini Rangkaian Pernikahan Adat Minang

Next post

Mencicipi Gulai Belacan Khas Kepulauan Riau

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.