#KodeNusantaraBlog

Tucu’: Hasil Pengetahuan Tradisional Masyarakat Borneo

Dataran tinggi Borneo menyimpan keunikan yang belum kita ketahui, yaitu banyaknya mata air garam yang tersebar di lembah-lembah alluvial yang relatif datar. Mata air garam sebagian besar berada di daerah rawa yang rendah yang mengalir dari kaki-kaki bukit di hutan dan bercampur dengan air sungai. Sampai saat ini terdapat 33 mata air garam yang diketahui terdapat di dataran tinggi Krayan. Namun tidak semuanya dapat digunakan untuk memproduksi garam gunung atau dalam bahasa lokal disebut tucu’.

Garam gunung (tucu’) berasal dari air yang mengandung salinitas tinggi yang mengalir dari dalam tanah. Air tersebut sudah ada di dalam tanah sejak jutaan tahun yang lalu ketika dataran tinggi di sana masih ditutupi oleh laut.

Seiring bergulirnya waktu, masyarakat mampu mengidentifikasi mata air garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan yang dapat dikonsumsi oleh satwa liar. Dengan kecerdasan dan ketrampilan yang dimiliki, masyarakat mampu mengubah air yang memiliki salinitas tinggi menjadi garam dan dapat dijual ke daerah lain.

Meskipun kita tidak tahu kapan persisnya masyarakat di sana mulai mengambil garam dari mata air, melalui catatan etno-historis kita dapat mengetahui bahwa garam menjadi salah satu komoditas yang paling berharga dan dapat diperjualbelikan di pedalaman Borneo. Garam merupakan sebuah produk yang bernilai tinggi dan pada jaman dahulu satu balok garam dapat ditukarkan dengan sebuah pisau logam di Apo Kayan.

Proses produksi garam terjadi sepanjang tahun. Namun menjadi sedikit berkurang saat bersamaan dengan datangnya masa tanam dan panen padi. Di krayan, secara bergiliran mereka memproduksi garam dan mampu menghabiskan dua sampai tiga minggu di lokasi produksi pada suatu waktu jika lokasinya cukup jauh dari desa tempat mereka tinggal.

Garam berkembang menjadi sebuah komoditas utama sebagai konsumsi sehari-hari dan juga untuk dijual. Metode yang digunakan merupakan metode tradisional yang dikembangkan secara lokal, dengan sedikit sentuhan inovasi baru, yaitu menggunakan tong logam untuk memasak dalam jumlah yang lebih besar dan dapat mengekstrak garam dalam waktu yang lebih singkat.

Garam dikemas secara tradisional dengan cara memanaskan garam yang sudah dipadatkan ke dalam bambu di atas tungku api dan kemudian dibungkus menggunakan daun. Biasanya garam disimpan dalam tumpukkan kayu bakar di atas perapian di dapur. Dengan cara ini balok-balok garam akan tetap keras dan kering sehingga dapat digunakan selama bertahun-tahun.

Proses produksi garam gunung adalah bagian penting dari warisan sejarah dan budaya masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Borneo. Garam gunung sering diberikan kepada pengunjung sebagai cinderamata ketika berkunjung ke rumah keluarga yang tinggal di daerah dataran rendah. Masyarakat dari etnis lain juga mencari garam gunung karena mereka percaya bahwa garam gunung dapat berfungsi sebagai obat. Sampai saat ini, garam tetap menjadi komoditas perdagangan dan sebuah simbol identitas bagi masyarakat Krayan.

Baru-baru ini, garam gunung Krayan terdaftar di Slow Food Ark of Taste. Ini merupakan sebuah pengakuan produk yang tidak hanya memiliki karakteristik unik dan cita rasa lokal, namun, juga sebuah produk yang termasuk langka dan istimewa.


Referensi:

World Wildlife Fund (WWF)

Data Terkait:

PDBI – Borneo

Previous post

Kuliner Tradisional Rakyat Betawi

Next post

Camilan Unik dari Tanah Liat khas Pulau Jawa. Tertarik Mencoba?

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.