#KodeNusantaraBlog

PROSES PANJANG MENDIRIKAN RUMAH MASYARAKAT BUGIS

Masyarakat Bugis mempunyai adat istiadat berupa upacara adat yang digelar saat mendirikan rumah maupaun pindah ke rumah baru. Upacara wajib dilakukan oleh sang tuan rumah mulai dari waktu persiapan bahan-bahan bangunan, saat proses pembangunan rumah, ketika rumah selesai dibangun, sampai rumah tersebut dapat dihuni oleh pemiliknya.

Pada tahap persiapan bahan-bahan bangunan rumah, digelarlah upacara Makkarawa Bola. Makkarawa Bola berasal dari kata makkarawa yang berarti memegang dan bola yang berarti rumah.

Secara harafiah, upacara ini bermaksud untuk memegang, mengerjakan, dan membuat peralatan rumah yang akan didirikan sebagai rumah. Upacara adat ini sebagai bentuk permohonan restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan keselamatan dan perlindungan selama proses pembangunan rumah.

Upacara Makkarawa Bola memiliki tiga tahapan pelaksanaan, pertama tahap makkatang yaitu waktu untuk melicinkan tiang dan peralatan. Kedua tahap mappa, yaitu waktu untuk mengukur dan membuat lubang pada tiang dan peralatan. Dan ketiga tahap mappatama arenteng, yaitu waktu untuk memasang kerangka rumah.

Tuan rumah juga menyiapkan berbagai bahan dalam melaksanakan upacara Makkarawa Bola, seperti dua ekor ayam yang harus disembelih dan mengambil darahnya, tempurung kelapa, dan daun waru yang berjumlah minimal tiga lembar. Daun waru ini dijadikan sebagai pelapis tempurung kelapa yang akan digunakan sebagai wadah darah ayam.

Darah ayam dioleskan pada bahan-bahan yang dikerjakan sebagai bahan bangunan rumah. Bagian pertama yang diolesi darah ayam adalah tiang pusat rumah. Pengolesan disertai dengan niat agar rumah yang sedang dikerjakan oleh tuan rumah dan tukang diberikan keadaan yang baik dan sehat.

Di sisi lain, tuan rumah juga menyuguhkan berbagai sajian kue tradisional kepada para tamu yang datang, misalnya suwella, sanggara, onde-onde, roko-roko, dan lain sebagainya.

Pada saat proses mendirikan rumah, tuan rumah kembali melakukan upacara adat, yaitu upacara Mappatettong Bola. Upacara dilakukan di rumah yang tengah dibangun ini sebagai wujud permohonan doa restu kepada Tuhan untuk diberikan keberkahan dan perlindungan dari gangguan roh-roh jahat yang dapat mengganggu penghuni rumah.

Mereka percaya bahwa upacara tersebut dilakukan untuk menyampaikan kepada roh-roh penjaga tempat itu bahwa orang yang dahulu pernah memohon izin sekarang datang untuk mendirikan rumahnya.

Tuan rumah perlu menyiapkan dua ekor ayam bakka (jantan dan betina) dalam melaksanakan upacara Mappatettong Bola. Kedua ayam tersebut disembelih dan darahnya diambil untuk dioleskan pada tiang pusat rumah. Tuan rumah berharap agar dapat terus berkembang baik dari segi harta maupun keturunannya.

Selain itu, terdapat berbagai jenis bahan yang ditanam pada bagian pusat rumah (posi bola) dan aliri pakka, yaitu periuk tanah atau tembikar (awali), sudut tikar dari daun lontar (sung appe), anyaman bakul (balu mabbulu), bawang (penno-penno), kelapa (kaluku), gula merah (golla cella), kayu manis (aju cenning), dan buah pala.

Semua bahan tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam kuali yang kemudian ditanam di tempat dimana aliri posi bola (bagian pusat rumah) akan didirikan. Peletakkan tersebut sebagai harapan tuan rumah agar dapat merasakan hidup bahagia, aman, tentram, dan selalu tercukupi.

Saat semua tiang rumah telah didirikan, tuan rumah juga menyediakan berbagai bahan yang di simpan di posi bola, seperti kain putih (kain kaci) sepanjang satu meter yang diikatkan pada posi bola, dua ikat padi, gula merah (golla cella), kelapa (kaluku), nyiru (saji pattapi), sendok sayur (sanru), pisau (piso), dan kukur kelapa (pakkeri).

Bahan-bahan tersebut dijadikan satu kemudian disimpan dalam balai yang berada di dekat posi bola. Bahan-bahan ini sebagai simbol pengharapan kehidupan dalam rumah agar serba lengkap dan tercukupi.

Proses upacara Mappatettong Bola selesai, dilanjutkan dengan upacara Mappanre Aliri. Pada upacara ini, tuan rumah memberikan makan kepada orang-orang yang telah bekerja mendirikan tiang-tiang rumah.

Makanan yang disuguhkan terdiri dari ketan (sokko) dan palise. Makanan yang disajikan dipercaya mengandung doa dan harapan agar ketika tuan rumah hidup di dalam rumah baru selalu mendapatkan keadaan yang serba cukup.

Rumah selesai dibangun dan tuan rumah menggelar upacara Maccera Bola. Tujuan mengadakan upacara ini sebagai pemberitahuan tuan rumah kepada keluarga dan tetangga desa bahwa rumahnya sudah selesai dibangun. Upacara ini juga sebagai pemanjatan doa selamat agar rumah baru mendapatkan berkah dan terlindung dari berbagai macam bencana.

Bahan yang disiapkan dalam pelaksanaan upacara Maccera Bola yaitu dua ekor ayam putih jantan dan betina, loka manurung, pisang (otti), nangka (panasa), kelapa (kaluku), gulu merah (golla cella), tebu (tebbu), dan nenas yang sudah tua (panreng).

Rumah Adat Suku Bugis (sumber: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)

Semua bahan disimpan pada tempatnya masing-masing, yaitu loka manurung, kaluku, golla cella, tebbu, panreng, dan panasa berada di tiang posi bola; sedangkan loka manurung disimpan di masing-masing tiang sudut rumah.

Lantar tuan rumah menaiki rumah baru dengan membawa ayam yang telah disiapkan. Sang istri membawa ayam jantan dan sang suami membawa ayam betina. Mereka diarahkan oleh sanro bola atau tetua adat dari keluarga yang ahli mengenai adat mendirikan rumah.

Tuan rumah sampai di atas rumah lalu melepaskan ayam yang meeka pegang. Kedua ayam tersebut menggambarkan penjaga rumah baru tersebut dan sebelum rumah berumur satu tahun maka ayam tidak boleh disembelih.

Warga yang datang dalam upacara tersebut disuguhkan berbagai makanan atau kue tradisional seperti suwella, jompo-jompo, curu maddingki, lana-lana, konde-konde, sara semmu, doko-doko, dan lame-lame.

Malam harinya tuan rumah menggelar pembacaan kitab berzanji yang dipimpin oleh imam kampung. Selesai acara tersebut, tuan rumah tidur di ruang depan lantar keesokan malamnya baru boleh pindah ke ruang tengah yang memang disediakan untuk tuan rumah.

Pembacaan kitab berjanzi menjadi tahapan akhir dalam upacara mendirikan rumah. Seluruh tahapan yang dilakukan oleh tuan rumah menjadi simbol pengharapan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa akan keberlangsungan hidup yang lebih baik di rumah baru tersebut.


Referensi:

Makassar Terkini

Kemendikbud

Data Terkait:

PDBI – Rumah Tradisional Suku Bugis

Previous post

PENDAP BENGKULU MAKANAN KESUKAAN PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA

Next post

Filosofi dalam Hidangan Tumpeng

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.