#KodeNusantaraBlog

Kupas Tuntas Si Genggong

Salah satu alat musik tradisional yang unik dan langka dalam karawitan Bali adalah genggong. Alat musik tradisional ini terbuat dari dari kayu, tepatnya dari pelepah enau. Zaman dahulu, genggong dimainkan oleh para petani saat melepas lelah setelah bekerja di sawah, terkadang dimainkan di rumah, atau bahkan digunakan untuk menarik perhatian kekasihnya.

Alat musik genggong bukan hanya dimainkan secara tunggal, melainkan sebagai sebuah barungan gamelan yang dipadukan dengan alat musik lainnya. Maka genggong tidak sekadar digunakan untuk menyajikan musik-musik instrumental, tetapi juga digunakan untuk mengiringi tarian.

Sebagai awalan dalam membuat genggong yang bagus memerlukan bahan dengan kualitas yang bagus juga. Sebagian besar instrumen dalam gamelan Bali terbuat dari perunggu atau logam, namun genggong justru terbuat dari bahan kayu jaka atau enau (Arenga Pinnata). Inilah salah satu letak keunikannya.

Bagian kayu yang diambil adalah carang sebelah bawah, yang mereka sebut pugpug. Pugpug dipilih karena bagian ini tidak terlalu keras maupun lemah, sehingga dapat menghasilkan kualitas suara yang diinginkan, serta mempermudah dalam proses pengerjaannya.

Pugpug yang sudah didapatkan kemudian dipotong secara kasar menjadi beberapa bagian yang akan dijadikan sebagai bakalan genggong. Potongan-potongan tersebut lantas dijemur sampai benar-benar kering, sebab tingkat kekeringan pugpug mempengaruhi kualitas suara dari genggong.

Pengeringan dilakukan dengan metode tradisional, yaitu menjemur di bawah sinar matahari. Proses penjemuran akan memakan banyak waktu mulai dari tiga bulan sampai delapan bulan tergantung cuaca saat menjemurnya. Apabila mereka ingin mempercepat proses pengeringan, maka dapat pula dengan menggunakan api.

Bakalan genggong yang telah kering kemudian dilanjutkan ke tahap ngerot. Bakalan dibentuk kotak dengan ukuran panjang 20 cm, lebar 2 cm, dan tebal 0,5 cm. Hasil bentukan kotak lantas dibuat skets untuk membatasi wilayah pelayah dan ikuh capung pada bagian basang. Pelayah memiliki panjang 6,5-7 cm, sementara ikuh capung panjangnya 2,5-4 cm. Fungsi keduanya sebagai penentu jangkauan nada yang dapat dicapai oleh genggong.

Sketsa yang telah dibuat tadi dilubangi dengan menggunakan pahat (paet). Pelubangan tidak sampai menembus lapisan bakalan genggong sehingga hanya seperti kedalaman dan tidak sampai berlubang.

Langkah berikutnya, bakalan yang sudah ada bagian pelayah dan ikuh capung ditipiskan dan dibersihkan. Ngerotin (menipiskan) menggunakan pisau kecil hingga membentuk cekungan “U” pada genggong. Dan tidak semua bagian pada pugpug ditipiskan, salah satunya bagian yang terletak di antara pelayah dan ikuh capung. Bagian yang memiliki panjang 3,5 cm ini berfungsi sebagai penyeimbang dan pemberi tekanan agar ikuh capung dapat bergetar. Proses penipisan apabila dirasa cukup maka dibuatkan lubang pada bagian tengah pada genggong.

Proses selanjutnya adalah mencari bentuk suara genggong. Hal pertama yang dikerjakan, yaitu memasang tali pada lubang  dengan menggunakan paku yang telah dimodifikasi. Tali yang telah dimasukkan lantas diikat agar tidak terlepas dari lubang, sedangkan ujung tali lainnya diikatkan pada bambu.

Tali yang dipasang memiliki panjang 8-9 cm dan panjang bambu yang dipakai sekitar 11-12 cm. Tali yang dipasang tidak boleh terlalu panjang ataupun pendek, sebab akan mengganggu bermainnya. Apabila terlalu panjang maka sulit memainkan variasi dengan tempo yang cepat, sedangkan terlalu pendek maka akan susah ditariknya.

Penyetelan suara pada genggong dilakukan dengan menarik-narik tali yang telah dipasang sehingga dapat mengatur dan mengukur kualitas getarannya. Genggong yang telah mencapai kualitas getaran yang baik, diteruskan dengan mencari kualitas suaranya.

Memerlukan kemampuan pengrajin genggong dalam memainkannya untuk mengetahui nada genggong yang dihasilkan tersebut telah sesuai dengan nada yang diharapkan atau belum.

Genggong yang telah selesai tahap penyetelan suara maka siap untuk dimainkan. Pemain yang akan memainkan genggong ternyata harus memperhatikan posisi badannya.

Seorang pemain saat bermain genggong harus duduk bersila dengan badan tegak, sebab posisi badan yang baik menentukan kekuatan pemain. Apabila pemain dalam posisi membungkuk, maka tenaga pemain akan cepat habis dan tidak mampu menghasilkan suara genggong yang baik.

Jika pemain dalam posisi miring ke samping, maka akan mempengaruhi kecepatan menarik genggong. Posisi yang tidak tepat akan mengakibatkan pemain sulit menyesuaikan variasi saat memainkan genggong.

Selanjutnya pemain juga harus memahami cara memegang genggong yang benar. Pemain memegang katik (bambu) untuk menarik genggong dengan menggunakan tangan kanan. Sementara tangan kiri memegang ujung yang berlawanan.

Bambu yang dipegang tangan kanan, posisinya berada di antara jari telunjuk dan jari tengah. Posisi tersebut untuk memudahkan tarikan untuk menghasilkan suara yang bagus. Posisi tangan kiri sejajar dengan bibir dan harus dalam satu garis dengan genggong dengan siku membentuk sudut 90 derajat. Genggong dijepit antara jari jempol dan jari telunjuk dan harus dipegang dengan erat. Pegangan yang erat untuk menghindarkan genggong terlepas atau terlempar akibat tarikan tangan kanan.

Terdapat beberapa teknik dalam membunyikan genggong, salah satunya dengan teknik mentil. Mentil merupakan suatu teknik untuk menggetarkan genggong dengan cara manarik-narik katik bambu.

Katik bambu ditarik-tarik untuk mendapatkan getaran yang dihasilkan oleh ikuh capung. Teknik mentil yang baik, yaitu dengan menarik katik bambu ke arah kanan dan tangan kiri tetap menggenggam genggong. Memerlukan kekuatan yang tepat agar ikuh capung menghasilkan getaran yang baik.

Arah dalam menarik katik bambu juga turut diperhatikan. Arah yang baik dengan menarik sedikit agak di depan genggong dengan kisaran 5 derajat dari ujung kanan genggong. Arah yang tidak tepat akan mengakibatkan genggong tidak mengeluarkan suara dan tangan menjadi cepat sakit. Maka diperlukan latihan mentil secara konsisten agar arah tarikannya benar.

Saat ini seiring derasnya arus globalisasi berdampak pada eksistensi genggong di Bali. Hal ini dikarenakan kurangnya pertunjukkan genggong baik untuk hiburan maupun upacara adat.


Referensi:

I Gde Made Indra Sadguna dan I Wayan Sutritha, “Genggong dalam Karawitan Bali: Sebuah Kajian Etnomusikologi dalam Jurnal Segara Widya Volume 3 Tahun 2015”, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Data Terkait:

PDBI – Genggong

Artikel Sebelumnya

Tolak Bala Melalui Kebo-Keboan

Artikel Selanjutnya

Ritual Wajib Perempuan Buton Sebelum Menikah

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.