#KodeNusantaraBeritaBlog

Bahas Bahasa Uis Batak Karo

Masyarakat suku Batak Karo menyebut ulos dengan sebutan Uis Gara. Secara terminologi, kata Uis Gara berasal dari bahasa Karo. Kata “Uis” yang berarti kain dan kata “Gara” yang berarti merah. Maka secara keseluruhan dapat dipahami bahwa Uis Gara merupakan kain berwarna merah.

Warna merah merupakan warna yang paling dominan ketimbang kedua warna utama yang lain, seperti warna hitam dan kuning. Ketiga warna utama ini dipercaya sebagai warna yang melambangkan pemimpin yang berani dan selalu jaya dalam kehidupannya. Secara keseluruhan, warna yang terdapat pada Uis Gara memiliki makna yang merepresentasikan tentang kehidupan sosial, budaya, agama, dan aspek kehidupan masyarakat Batak Karo lainnya.

Uis Gara terdapat warna dan motif yang berhubungan dengan penggunaan dalam pelaksanaan kegiatan/acara adat dan kehidupan sehari-hari. Namun, terdapat beberapa ragam dan motif Uis Gara yang sekarang sudah tergolong langka sebab uis hanya digunakan pada saat ritual adat yang berkaitan dengan kepercayaan animisme yang saat ini sudah tidak dilakukan lagi.

Salah satu contoh dari jenis Uis Gara, yaitu Uis Beka Buluh yang memiliki warna, ragam, dan motif yang memiliki kegunaan sesuai dengan kegiatan yang dilakukannya. Uis Beka Buluh yang memiliki ukuran kain 166 x 86 cm. Uis ini menggambarkan perasaan gembira dan menjadi perlambang kewibawaan serta tanda kebesaran bagi pemakain uis ini.

Uis Beka Buluh digunakan sebagai beberapa bentuk sesuai kegiatan yang dilakukan. Uis untuk penutup kepala yang digunakan saat pesta adat. Uis ini dikenakan oleh putra Karo sebagai mahkota di kepalanya. Uis dilipat lalu dibentuk menjadi bentuk mahkota pada saat pesta pernikahan, peresmian rumah baru, maupun upacara kematian bagi orang tua yang meninggal dunia dalam keadaan lanjut usia. Penggunaan uis sebagai mahkota tersebut menandakan bahwa dialah yang menyelenggarakan pesta atau acara adat.

Uis sebagai pertanda (cengkok-cengkok) yang dikenakan atau disampirkan pada pundak sampai bahu dengan bentuk lipatan segitiga. Selain itu, Uis juga sebagai maneh-maneh digunakan oleh putra Karo yang diberikan ketika pemberkatannya oleh kalimbubu (paman, saudara laki-laki dan ibu, atau pihak yang dihormati). Penggunaan tersebut sebagai pengharapan agar dia berhasil dalam kehidupannya.

Pada saat upacara adat kematian, pihak keluarga akan membayar berkat yang diterima tersebut dengan menyerahkan tanda syukur yang paling berharga kepada pihak kalimbubu dengan mahkota yang biasa dikenakannya.


Data Terkait:

PDBI – Uis Karo

Previous post

Simbolisasi Telingaan Aruu Suku Dayak

Next post

Sasi Ikan Lompa, Dilarang Mengambil Ikan!

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.