#KodeNusantaraBlog

Nasionalisme Suku Biak Saat Mengantar Mas Kawin

Ada tradisi unik di Ararem, Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Ararem adalah tradisi mengantar mas kawin keluarga pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Tradisi ini selalu dijaga oleh suku Biak hingga sekarang. Ada beberapa tahapan dalam tradisi Ararem, di antaranya:

Tahap Pertama

Pertemuan antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan untuk membicarakan tentang jumlah mas kawin yang akan diberikan kepada keluarga perempuan. Jenis mas kawin biasa digunakan adalah guci, piring antik (ben bepon), manik-manik, gelang perak, gelang kulit kerang (samfar), babi, hasil kebun, hasil laut, hewan hasil buruan, serta benda lainnya yang berharga. Dalam pertemuan ini akan dicari kesepakatan tentang jumlah dan jenis mas kawin yang akan diberikan. Jika sudah ada kesepakatan kedua belah pihak tentang mas kawin, maka selanjutnya keluarga laki-laki akan mempersiapkan hasil kesepakatan tersebut untuk diantar kepada keluarga perempuan. Kalau belum ada kesepakatan, akan diadakan pertemuan berikutnya guna membahas hal yang sama.

Tahapan Kedua

Keluarga laki-laki mengundang keluarga perempuan untuk memperlihatkan semua benda yang sudah disiapkan sebagai mas kawin sesuai kesepakatan awal. Pertemuan ini diadakan di rumah keluarga laki-laki. Jika semua mas kawin yang akan diantar sudah sesuai, maka tahapan selanjutnya bisa dilanjutkan.

Tahapan Ketiga

Tahap penyerahan mas kawin kepada keluarga wanita. Keluarga laki-laki akan melakukan arak-arakan ke rumah perempuan bersama para kerabat keluarga serta diiringi nyanyian dan tarian. Komposisi barisan juga diperhatikan pada arak-arakan ini. Barisan terdepan diisi oleh perempuan dari pihak laki-laki. Mereka membawa piring-piring besar (ben be pon) yang memiliki nilai sejarah tinggi dan bendera merah putih sebagai bentuk nasionalisme. Barisan kedua diikuti oleh campuran laki-laki dan perempuan. Mereka sebagai pengiring rombongan dan membawa piring-piring kecil sebagai pelengkap mas kawin. Barisan ketiga juga diisi campuran antara laki-laki dan perempuan sebagai pengiring. Diisi oleh para penyanyi dan penari baik tua maupun muda. Tarian untuk mengiringi tradisi Ararem disebut Yospan atau Yosim Pancar.


Data Terkait:

PDBI – Ararem

Previous post

Kidungan Jawa Timuran, Seni Menyampaikan Pesan dan Kritik

Next post

Pemanfaatan Limbah dalam Parade Busana Daerah TMII 2019

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.