#KodeNusantaraBlogEvent

3 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Reyog Ponorogo

Reyog Ponorogo dikenal sebagai salah satu seni pertunjukan yang dijaga kelestariannya oleh Kabupaten Ponorogo. Ketenaran Reyog Ponorogo yang sudah mendunia, tidak lepas dari peran serta pemerintah dan juga masyarakat dalam mementaskannya. Namun, apakah kamu tahu seperti apa Reyog Ponorogo itu? Infobudaya rangkum 3 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Reyog Ponorogo.

Video Pementasan Kesenian Reyog Ponorogo di Anjungan Jawa Timur TMII, Minggu (20/10/2019)

Sejarah Reyog Ponorogo

Reyog Ponorogo sangat kental dengan hal-hal berbau mistik dan ilmu kebatinan. Namun, di balik itu semua, ternyata Reyog Ponorogo menyimpan berbagai macam versi sejarah yang berkembang dalam kalangan masyarakat. Cerita yang tim Infobudaya akan sampaikan adalah cerita versi Kerajaan Bantarangin. Bapak Judha selaku Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo menceritakan kisah seorang putri yang parasnya sangat cantik jelita, Ia adalah Dewi Songgolangit, Minggu (20/10/2019).

Dewi adalah sebutan bagi seorang putri dari Kerajaan Kediri yang sangat terkenal. Karena parasnya yang cantik jelita, banyak pangeran dan raja-raja besar yang berkeinginan untuk menikahi atau mempersunting Dewi Songgolangit.

Sang Raja Kediri pun bertanya kepada Sang Dewi, apa yang menyebabkan Dewi Songgolangit selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Dewi Songgolangit pun mengatakan bahwa sebenarnya ada persyaratan yang Ia inginkan, namun belum tahu pasti apa persyaratan tersebut, dan akhirnya Sang Dewi meminta ijin untuk melakukan semedi demi menemukan persyaratan yang bisa Ia berikan kepada calon suaminya.

Empat hari berlalu, Dewi Songgolangit pun langsung menemui Raja Kediri untuk mengutarakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon suaminya kelak. Dewi mengatakan bahwa Ia menginginkan calon suaminya dapat memberikan pertunjukan menarik yang di dalamnya terdapat hewan berkepala dua, serta 140 ekor kuda kembar.

Mendengar persyaratan tersebut, banyak pangeran dan raja yang mulai menyerah karena dirasa persyaratan tersebut sangat sulit untuk mereka penuhi. Namun, ada 2 lelaki yang ingin mencoba untuk mewujudkannya, yaitu Singobarong yang berasal dari Kerajaan Lodaya dan Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin.

Prabu Klono Sewandono sebenarnya bisa memenuhi persyaratan dari Dewi, hanya satu yang belum berhasil, yaitu mendapatkan hewan berkepala dua. Ia pun dalam perjalanannya dari Ponorogo ke Kediri bersama para Warok, prajurit beserta patihnya terus berusaha mencari hewan berkepala dua sampai pada akhirnya di tengah hutan di Gunung Klotok (sebelah barat Kediri), Klono Sewandono bertemu dengan Singobarong dan terjadilah peperangan karena Singobarong tidak ingin jika Dewi Songgolangit dipersunting oleh lawannya.

Singobarong terkenal sebagai raja yang sangat pemberani dan tidak pantang menyerah. Pasukan Klono Sewandono hampir berhasil dikalahkan, namun dengan kesaktiannya, Ia berhasil memecuti Singobarong dengan senjatanya berupa cemeti pusaka Samandiman. Singobarong pun berhasil ditaklukan dan berubah menjadi hewan berkepala dua. Dengan demikian, Klono Sewandono berhasil memenuhi persyaratan terakhirnya dan melakukan pertunjukan dnegan hewan berkepala dua yang membuat masyarakat sangat menyukainya.

Video Pementasan Kesenian Reyog Ponorogo di Anjungan Jawa Timur TMII, Minggu (20/10/2019)

Tokoh-tokoh Dalam Reyog Ponorogo

Tokoh pertama ada Jathil, merupakan prajurit berkuda. Jathilan adalah tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda.

Tokoh kedua ada Warok. ‘Warok’ berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi Warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.

Tokoh ketiga, adalah Barongan atau Dadak Merak. Barongan (dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain: kepala harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit harimau gembong.

Tokoh keempat adalah Prabu Klono Sewandono. Prabu Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Pecut Samandiman.

Dan tokoh terakhir dalam kesenian reyog adalah Bujang Ganong. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

Video Pementasan Kesenian Reyog Ponorogo di Anjungan Jawa Timur TMII, Minggu (20/10/2019)

Pesan Sakral di balik Kesenian Reyog Ponorogo

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Reyog Ponorogo memuat nilai kerohanian atau unsur-unsur batiniah seperti penjiwaan pada setiap pemain reyog yang meliputi nilai dakwah, nilai kelestarian, nilai kepercayaan, dan nilai magis.

Selain itu Reyog Ponorogo memiliki nilai spiritual yaitu memuat hal-hal yang melahirkan gairah dan getaran jiwa yakni nilai budaya, nilai keindahan, nilai moral, nilai seni, nilai simbolik, dan nilai superioritas.

Tata nilai selanjutnya adalah unsur-unsur lahiriah yang berkaitan dengan keperluan hidup keseharian meliputi nilai kepahlawanan, keadilan, dan nilai kesejahteraan.

Yang tidak kalah penting, Reyog Ponorogo lekat dengan nilai kesenangan yang memuat unsur-unsur pada pembiasan hidup positif meliputi nilai hiburan, nilai kepuasan, nilai kompetitif, nilai material, dan nilai pertunjukan.


Data Terkait:

PDBI – Sejarah Reyog Ponorogo

PDBI – Reyog Ponorogo

Previous post

Karena Reyog Juga Perlu Regenerasi

Next post

Ludruk, Teater Tradisional Masyarakat Jawa Timur

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.