#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Cara Mensyukuri Hasil Panen Ala Suku Indonesia

Semua Petani pasti memiliki harapan yang besar akan hasil panen yang dia dapatkan di setiap tahunnya. Sama halnya dengan petani-petani di Indonesia, mereka selalu berharap bahwa hasil kerja kerasnya di sawah akan membuahkan hasil yang melimpah. Saat waktu panen tiba mereka akan menyambutnya dengan rasa syukur dan suka cita. Bahkan beberapa suku di Indonesia sampai membuat upacara adat atau ritual sesuai dengan kepercayaan mereka. Ritual panen ini biasanya mereka lakukan sesudah panen yang besar dilakukan. Para petani dan masyarakat akan membuat kegiatan-kegiatan ritual atau persembahan sebagai wujud rasa syukur mereka kepada sang Maha Kuasa. Berikut ini beberapa upacara panen yang dilakukan berbagai suku di Indonesia.

  • Upacara Kerja Tahun, Masyarakat Tanah Karo

Hampir semua masyarakat Karo sejak dulunya dikenal mengandalkan perekonomiannya di bidang pertanian. Hal tersebut dikarenakan letak tempat tinggal mereka yang berada dataran tinggi. Jenis tanaman yang biasa mereka tanam, yaitu padi, buah-buahan, sayuran, kopi, dan lain-lain. Namun tanaman yang paling utama dan terpenting bagi mereka adalah padi, karena mengandung makna ekonomi juga keterkaitan terhadap unsur religi dan sosial. Bahkan mereka memiliki panggilan khusus terhadap tanaman padi sebagai bentuk penghargaan, yaitu Siberu Dayang. Agar hasil panen mereka memuaskan semua proses penanaman dari awal hingga akhir diberikan penghargaan dan disyukuri.

Kata “kerja” dalam bahasa Karo bermakna pesta. Jadi Kerja Tahun dapat diartikan sebagai pesta yang diselenggarakan masyarakat setahun sekali. Kerja Tahun ini berdasarkan kegiatan tanaman padi. Di beberapa daerah terdapat perbedaan pelaksanaan. Ada yang merayakan di masa awal penanaman, pertengahan pertumbuhan, ataupun masa panen. Tata cara dan perlengkapannya pun memiliki perbedaan di setiap fase. Ada tiga aspek yang mereka lakukan di ritual ini. Pertama, aspek religi, yaitu mengucap syukur kepada Tuhan. Kedua, aspek sosial, yaitu mengundang kerabat dari jauh untuk menyambung tali silaturahmi. Ketiga, yaitu seni atau hiburan bernuansa Karo berupa seni tari ataupun musik.

  • Upacara Mappadendang, Adat Suku Bugis

Mappadendang adalah pesta panen yang berasal dari adat Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Pesta panen ini merupakan suatu bentuk pesta syukur atas keberhasilan masyarakat dalam menanam padi kepada yang Maha Kuasa. Mappadendang diadakan dalam skala yang sangat besar. Dimulai dengan acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya. Acara Mappadendang juga dinilai memiliki nilai yang magis. Maka dari itu perlu disucikan terlebih dahulu gabah yang akan dipakai. Karena menurut masyarakat, gabah masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nanti akan menyatu dengan manusia. Mappadendang biasanya dilakukan setelah panen raya ketika memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama. Sebenarnya Mappadendang adalah berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti pada saat menumbuk padi. Komponen utama dalam acara ini, yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional, yaitu Baju Bodo.

  • Upacara Penti, Masyarakat Flores

Penti adalah upacara adat panen yang biasa dilakukan oleh warga Wae Rebo di Flores. Upacara ini dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang mereka dapatkan. Upacara Penti biasa dilakukan pada pertengahan bulan November, sebagai bulan awal bercocok tanam dan pergantian tahun. Selain turis lokal, Upacara Penti ini juga menarik perhatian turis mancanegara. Masyarakat Flores sudah melakukan upacara ini secara turun menurun. Ritual Penti ini dilakukan setiap tahun. Pada saat pagi hari warga desa sudah disibukkan untuk menyiapkan acara ini. Dan tamu-tamu yang datang akan berkumpul di depan Rumah Gendang, yaitu rumah utama mereka. Acara dimulai dengan suara yang berasal dari alat musik tradisional dan nyanyian daerah.

Upacara Penti dilakukan di 3 lokasi. Dimulai dengan pemberkatan terhadap sumber mata air, yang bertujuan untuk keselamatan kampung dari roh jahat. Setelah itu, memberikan persembahan untuk para leluhur dengan cara mengorbakan hewan. Dilanjutkan dengan pertunjukkan tarian yang bernama Caci, yaitu tari perang masyarakat Manggarai. Puncak acara berlangsung pada malam hari, masyarakat akan berkumpul di rumah utama dan melakukan Tundak Penti dengan menyembelih babi jantan dan betina. Kemudian diakhiri dengan Sanda atau nyanyian tanpa henti yang tidak menggunakan iringan musik.

Rasa syukur dan suka cita dapat dilakukan dengan cara apapun. Hal ini patut dilestarikan dan dicontoh agar kita selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan oleh yang Maha Kuasa. Meskipun zaman sudah berkembang lebih modern, upacara panen ini tidak pernah dilupakan dan masih tetap dilakukan setiap tahunnya. Upacara adat seperti ini juga telah menambah ragam budaya Indonesia. Dan hal ini akan menambah ketertarikan para turis mancanegara akan kebudayaan yang kita miliki juga untuk berkunjung ke Indonesia.


Sumber:

merga-silima

bululowa

travel detik.com

Info Lanjut:

PDBI – Tanah Karo

PDBI – Tari Caci

PDBI – Suku Bugis

PDBI – Flores

Previous post

Ritual dan Upacara Panen Sarang Burung Walet

Next post

Nikmatnya Kopi Ijo Khas Tulungagung

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.