#KodeNusantaraBlog

Mengenal Smong, Pengetahuan Tentang Tsunami Masyarakat Simeulue

Di awal 2019 ini, lima belas tahun yang lalu masih teringat dengan jelas gempa berkekuatan 9,2 SR yang menimbulkan tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Tsunami tersebut menerjang wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan beberapa wilayah di Sumatera Utara, bahkan terdeteksi hingga ke luar negeri dan menimbulkan ratusan ribu korban jiwa.

Namun, hal berbeda terlihat di sebuah pulau yang berjarak kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, tepatnya Kabupaten Simeulue. Jumlah korban jiwa dampak dari gempa dan tsunami tahun 2004 tercatat enam orang meninggal dunia. Jumlah korban jiwa tersebut tentunya sangat jauh kontras kan dengan di lokasi lainnya? Kok bisa?

Peristiwa gempa dan tsunami ternyata pernah melanda Kabupaten Simeulue pada tahun 1907 dan hampir 70% penduduknya menjadi korban jiwa. Belajar dari kenangan pahit tersebut, leluhur-leluhur masyarakat Kabupaten Simeulue kemudian membuat cerita tentang tsunami yang dikenal dengan nama Smong. Smong hingga kini masih diceritakan turun temurun dan tidak hanya melalui cerita, tetapi juga melalui syair lagu yang masih dilantukan oleh budayawan, tokoh adat  dan seniman dari Simeuleu. 

Enggel mon sao curito… (Dengarlah sebuah cerita)

Inang maso semonan… (Pada zaman dahulu)

Manoknop sao fano… (Tenggelam satu desa)

Uwi lah da sesewan… (Begitulah mereka ceritakan)

Unen ne alek linon… (Diawali oleh gempa)

Fesang bakat ne mali… (Disusul ombak yang besar sekali)

Manoknop sao hampong… (Tenggelam seluruh negeri)

Tibo-tibo mawi… (Tiba-tiba saja)

Anga linon ne mali… (Jika gempanya kuat)

Uwek suruik sahuli… (Disusul air yang surut)

Maheya mihawali… (Segeralah cari)

Fano me singa tenggi… (Tempat kalian yang lebih tinggi)

Ede smong kahanne… (Itulah Smong namanya)

Turiang da nenekta… (Sejarah nenek moyang kita)

Miredem teher ere… (Ingatlah ini betul-betul)

Pesan dan navi da… (Pesan dan nasihatnya).

Masjid yang terkena gempa dan smong 2004 di Simeulue (sumber: Mongabay.co.id)

Hasilnya? Penerapan pendidikan mitigasi bencana yang secara tidak sadar tertanam di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Simeulue ternyata mampu menekan jumlah korban jiwa. Kembali lagi kita dihadapkan pada fakta bahwa cerita-cerita atau nyanyian yang kita kira hanya sekedar dongeng belaka ternyata memiliki kode-kode Nusantara yang menyimpan pengetahuan leluhur mereka, sehingga mampu menyelamatkan sebagian besar masyarakat Kabupaten Simeulue, di mana di saat yang sama di lokasi yang berbeda korban jiwa berjatuhan karena minimnya pengetahuan tentang mitigasi bencana.


Sumber:

Rahman, A. 2018. Indigenous knowledge management to enhance community resilience to tsunami risk: lessons learned from Smong traditions in Simeulue island, Indonesia. Earth and Environmental Science. IOP Science.

Info Lanjut:

PDBI – Smong, Peringatan Tsunami dari Leluhur Simeuleu

Previous post

Tari Bambangan Cakil, Tarian Tradisional Khas Jawa Tengah

Next post

Bentuk Syukur Para Nelayan di Cilacap

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.