#KodeNusantaraBlog

Mau Nikah Harus Tahu Tenun Dulu

Suku Kajang adalah salah satu suku yang tinggal di pedalaman Makassar, Sulawesi Selatan. Secara turun temurun, mereka tinggal di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Bagi mereka, daerah itu dianggap sebagai tanah warisan leluhur dan mereka menyebutnya, Tana Toa. Tanah Toa adalah desa di kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Perempuan Kajang adalah perempuan yang taat pada tradisi. Tradisi yang diturunkan secara turun-temurun dari para leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun. Salah satu tradisi yang diturunkan dan dikerjakan oleh perempuan suku Kajang adalah menenun kain khas suku Kajang, di mana Suku kajang memilik ciri khas mereka dalam kehidupan kesehariannya berpakaian serba hitam dan tidak menggunakan warna lain. Hitam itu merupakan warna adat yang kental dan akan kesakralan dan bila kita mau memasuki kawasan Adat Amma Toa maka kita harus mengikuti ketentuan yang adat di mana kita harus berpakaian serba hitam dan melepas alas kaki. Membahas tentang tenun, berarti sangatlah erat kaintannya dengan perempuan. Perempuan-perempuan tanah air memiliki tangan-tangan terampil yang lahir secara alamiah. Di tangan perempuanlah lahir kain-kain Nusantara yang mencerminkan corak suatu komunitas atau kebudayaan.

Kain-kain yang digunakan adalah hasil tenunan kaum wanita Suku Kajang sendiri, benang ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional bukan dengan mesin. Tidak ada ritual khusus untuk membuat kain tenun khas Suku Kajang, di mana proses pembuatan kain tenun khas suku Kajang itu harus dibuat dengan wanita kajang karena adat dari suku kajang itu setiap wanita Suku kajang itu harus mengetahui cara bertenun karena salah satu persyaratan dari aturan adat untuk nikah yang dari dulu sampai sekarang dan masih dipertahankan oleh orang suku kajang, yaitu wanita Suku Kajang harus tahu bagaimana cara menenun kain khas Kajang dan wanita Kajang itu mulai belajar cara menenun dimulai dari umur 13 tahun. Menurut sumber yang didapat dari wanita Suku Kajang proses pembuatan kain itu dimulai dari pembelian Benang Putih di pasar tradisional yang biasa disebut pasar butung (Benang putih itu merupakan hasil dari proses pengolahan kapas dari Suku Kajang yang diolah oleh pihak luar sehingga menjadi benang). Benang yang digunakan dalam satu kali tenun, yaitu lima gulung besar benang. Sebelum menenun benang katun yang berwarna putih terlebih dahulu diberi pewarnaan alami dengan bahan baku sejenis dengan daun kelor namanya tarum/daun nila/indigo yang dicampur dengan air panas, proses perendaman itu dilakukan selama semalam dan keesokan harinya benang itu peras kemudian benang dikeringkan setelah benang kering barulah digunakan untuk menenun. Menurut narasumber, waktu pengerjaan kain tenun itu tergantung dari kondisi si penenun apabila dia rutin setiap hari menenun maka kain tenunnya bisa selesai dalam waktu satu minggu, dan apabila si penenun melakukannya di selang waktu luangnya maka kain tenun itu biasa selesai dalam jangka waktu yang lama, bisa sampai satu bulan lamanya.

Alat tenun suku kajang (Pattannungang) yang terbuat dari kayu hasil dari hutan kawasan Kajang. Alat pembuatan kain tenun itu biasanya dibuat oleh orang tua (Ayah) wanita Kajang atau suaminya, inilah daftar  nama dari bagian bagian alat tenun Suku Kajang:

  1. Tanrang ajeng
  2. Pappakang
  3. Panggepe
  4. Balira/Baliro digunakan untuk menyentak benang
  5. Tumpa
  6. Pappasolongang adalah tempat penyimpangan alat kecil untuk menenun semacam benang, dan sebagainya
  7. Pakkarakang
  8. Kara
  9. Palili
  10. Taropong merupakan tempat pengulungan benang yang digunakan dalam menenun
  11. Bu’rung
  12. Suru
  13. Book-boko
  14. Sisiri
  15. Pari

Kelebihan dari kain tenun Suku Kajang pada saat pencucian pertama kainnya tidak luntur dan pencucian hanya menggunakan air murni tanpa sabun atau detergen. Motif kain Suku Kajang menggambarkan pelajaran hidup, berdampingan dengan alam dan merupakan wujud dari kesederhanaan bagi Suku Kajang. Masyarakat Kajang masih mempertahankan motif kuno warisan leluhur, yakni motif Ratu Puteh, Ratu Gahu dan Ratu Ejah. Motif ini hadir berupa garis geometris halus yang membelah sarung tenung secara vertikal. Benang berwarna biru itu menjadi penghias kain tenun yang jarak antara benang biru dan benang hitam mengikuti pola dari nenek moyang terdahulu.


Sumber:

PDBI – Kain Tenun Suku Kajang

Previous post

Anak Gunung Sindoro yang Menangis

Next post

Karinding, Alat Musik yang Bisa Mengusir Hama

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.