#KodeNusantaraBerita

‘Pelukan Cium’ Setelah Hari Raya Nyepi

Suasana seperti apa yang terbayangkan olehmu ketika mendengar perayaan Hari Raya Nyepi?

Bali?

Perayaan Hindu?

Tak ada listrik?

Tak ada internet?

Jalanan raya sepi?

Sunyi?

Gelap?

Mungkin kebanyakan orang akan berpikir demikian. Tapi tahukah kalian, ternyata ada sesuatu yang unik di perayaan Hari Raya Nyepi!

 

Ada serangkaian tradisi yang dilakukan umat beragama Hindu menjelang dan sesudah Hari Raya Nyepi. Dua atau tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, umat beragama Hindu akan melakukan sebuah tradisi yang bernama Melasti untuk menghilangkan segala macam hal buruk untuk kebaikan, keheningan, dan keharmonisan alam semesta. Kemudian, sehari sebelum Hari Raya Nyepi, dilakukan upacara Pecaruan atau Yadnya atau pengorbanan yang disebut Tawur Kesanga. Upacara ini bertujuan membebaskan alam semesta dari bhuta kala dan malapetaka. Kemudian pada malam harinya, dimulailah ritual yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Bali, terutama muda-mudinya, yaitu Pengerupukan. Ketika ritual ini, orang-orang keluar membawa obor dan mengarak ogoh-ogoh, simbolis dari bhuta kala, keliling desa dan kota. Masyarakat menyerukan teriakan, bebunyian, dan gamelan sambil membawa ogoh-ogoh untuk kemudian dibakar dan dihancurkan.

 

Ogoh-Ogoh

Keesokan harinya, mulai pukul 6 pagi, dimulailah Hari Raya Nyepi dengan melakukan catur barata, empat hal yang pantang dilakukan umat Hindu. Yang pertama, tidak boleh menyalakan api (amati geni), yang kedua tidak boleh melakukan pekerjaan baik ringan maupun berat termasuk makan dan minum (amati karya), yang ketiga tidak boleh bepergian atau keluar rumah (amati lelungan), dan keempat tidak boleh bersenang-senang (amati lelanguan) selama 24 jam.

 

Omed-Omedan

Nah, ada yang lebih unik lagi dari serangkaian ritual perayaan Hari Raya Nyepi.

Besoknya setelah selesai menjalankan ritual catur barata, umat Hindu merayakan Ngembak Geni yang artinya bebas menyalakan api. Ada sesuatu yang unik pula di ritual Ngembak Geni, yaitu Omed-Omedan. Tradisi turun-temurun yang hanya dilakukan oleh warga banjar Kaja  Sesetan, Denpasar, ini dilakukan oleh pemuda-pemudi lajang berusial minimal 17 tahun. Tradisi Omed-Omedan yang bermakna ‘tarik-menarik’ ini dimulai dengan sembahyang bersama dan pementasan Tarian Barong Bangkung, kemudian muda-mudi dibagi menjadi 2 kelompok yang saling berhadap-hadapan. Setelah diberi aba-aba, kedua kelompok saling berpelukan dan berciuman sambal disiram air oleh masyarakat.

Omed-Omedan

Tradisi Omed-Omedan sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan tetap dilestarikan. dan dimaknai sebagai perayaan kegembiraan anak-anak muda setelah panen sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa persaudaraan.

Meskipun dalam perjalanannya tradisi ini banyak menuai kontroversi karena dianggap sebagai ajang ‘ciuman massal’, secara historis tradisi ini sarat akan nilai-nilai luhur dan budaya

Tradisi ini muncul pada awal abad ke 17 di mana seseorang yang memerintah di Desa Sesetan bernama Anak Agung Made Raka jatuh sakit dan sulit diobati. Beliau melarang seluruh rakyatnya untuk menjenguknya. Hal ini membuat seluruh warga kecewa dan melakukan sejenis aksi protes dengan melakukan aksi saling Tarik menarik yang disebut dengan Omed-omedan. Mengetahui hal ini Anak Agung Made Raka  marah sekali dan seketika itu juga memerintahkan keluarganya untuk menghantarkan beliau ke depan puri dengan maksud untuk mengusir abdinya agar tidak melakukan keributan di depan puri. Namun seketika saja rasa sakit yang dirasakan hilang sama sekali, bahkan beliau merasa sehat seperti sediakala. Beliaupun mengurungkan niatnya dan berbalik mengizinkan agar tradisi Omed-Omedan terus dilaksanan sepanjang tahun pada hari Nyepi.

Selanjutnya, pada tahun 1984, I Gusti Ngurah Oka Putra, salah satu tokoh masyarakat di Banjar Kaja, Sesetan, berusaha menghentikan tradisi Omed-Omedan karena dianggap termasuk perbuatan yang tidak senonoh dengan saling berpelukan dan ciuman depan umum. Namun, warga Banjar Kaja tetap menjalankan tradisi tersebut dan seketika, I Gusti Ngurah Oka Putra merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh leluhurnya, Anak Agung Made Raka. Pada akhirnya, tradisi Omed-Omedan tetap terus dilestarikan hingga saat ini dan bahkan menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara.

 

 

Sumber:

IDN Times

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Portal Garuda

Kompas.com


Info lebih lanjut:

Omed-Omedan

Melasti

Ogoh-Ogoh

Previous post

Serupa Bali, Tidore Nyepi Dengan Tradisi Paca Goya

Next post

Aturan Bali Dalam Membuat Bangunan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.