#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Mengintip Tradisi Petik Laut di Banyuwangi

Sebagai negara bahari dan maritim yang besar, Indonesia memiliki banyak budaya tradisi lokal yang patut diacungi jempol. Tak terkecuali dengan tradisi yang digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan di daerah Jawa Timur. Tradisi ini dinamakan Tradisi Petik Laut. Salah satu daerah yang terkenal menyelenggarakan tradisi ini ialah Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Laut adalah sumber rezeki bagi masyarakat pesisir Jawa Timur yang bermata pencahariannya sebagai nelayan. Tidak ada yang tahu persis kapan tradisi Petik Laut Muncar ini diadakan. Namun, menurut penuturan para tetua, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1901. Para nelayan yang berasal dari suku Madura memulai tradisi ini dibantu oleh nelayan yang kesehariannya juga menangkap ikan di kawasan perairan Muncar. Mulanya tradisi ini hanya sebagai wujud rasa syukur atas hasil laut yang melimpah, namun kini Petik Laut menjadi acara tahunan di berbagai daerah di Jawa Timur.

Kata Petik Laut diambil dari bahasa Maduta, yaitu Rokat Tase’. Rokat merupakan kata serapan dari bahasa Arab, Ruwat yang bermakna syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Indonesia, arti kata “Petik” adalah “ambil atau pungut” yang merupakan kepanjangan dari memetik atau memungut hasil usaha laut, dalam bahasa Jawa dapat berarti “ngunduh”, dimaksudkan dalam artian “memetik hasil dari kelestarian kehidupan ikan di laut.”

Penyelenggaraan Petik Laut di Muncar sendiri diadakan pada 15 Syuro kalender Jawa atau 15 Muharram pada penanggalan Islam. Pelabuhan Muncar, Banyuwangi akan dipenuhi oleh lautan manusia pada hari itu. Sebagai informasi, Muncar merupakan bandar ikan laut terbesar kedua di Indonesia setelah Bagan Siapi-api, lho. Banyak penduduk di daerah tersebut yang bermata pencaharian sebagai nelayan, bahkan datang ke daerah tersebut untuk menjadi nelayan. Konon jika tidak menyelenggarakan tradisi Petik Laut, akan mengalami bencana. Sehingga masyarakat tidak pernah melewatkannya.

Rangkaian kegiatan pada tradisi Petik Laut sendiri memerlukan persiapan yang cukup lama. Pasalnya, sebulan sebelum penyelenggaraan, para nelayan akan membuat Gitik. Gitik merupakan sebuah perahu kecil sepanjang sekitar lima meter. Gitik akan digunakan untuk membawa sesaji yang dilarung ke laut pada puncak tradisi Petik Laut. Gitik akan dibuat semenarik mungkin dengan dihiasi bendera-bendera kecil dan dicat warna-warni seperti perahu layar pada umumnya. Pada Gitik juga biasanya terdapat ornamen-ornamen asal Madura. Setelah selesai, Gitik akan disimpan di salah satu rumah tetua adat.

Mendekati hari penyelenggaraan, Gitik akan diisi sesaji lengkap dengan ugo rampe (material) seperti buah-buahan, candu, pisang saba mentah, pisang raja, nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, kinangan sirih, dan beragam hasil pertanian dan perkebunan lainnya, serta beragam kue. Pada tradisi Petik Laut juga terdapat kepala kambing dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup.

Filosofi isi sesaji yang banyak ini mengibaratkan nelayan seakan-akan sebagai raja lautan yang gagah berani, pantang menyerah mengarung lautan meski berselimutkan angin. Kinangan sirih mengibaratkan masyarakat harus selalu ingat akan petuah dan menghormati para leluhur. Sedangkan, kepala kambing mengibaratkan manusia dalam bekerja yang tidak hanya menggunakan tangan dan kaki saja, tetapi juga menggunakan pikirannya sehingga lebih berhati-hati dalam memilih ikan yang baik. Ayam hidup disertakan dengan harapan dapat mengemudi perahu dengan baik. Ayam tersebut diibaratkan sebagai nakhoda.

Satu hari sebelum sesaji dilarung ke laut, biasanya akan diadakan upacara Ider Bumi atau putar Bumi menjelang pukul 14.00 WIB. Gitik yang dipenuhi sesaji akan dibawa keliling desa atau wilayan Muncar hingga sore hari. Usai dibawa keliling, Gitik akan dikembalikan ke tempat penyimpanannya. Pada malam hari, masyarakat juga melakukan salat Magrib bersama-sama dan ruwatan dengan doa bersama dan macapatan. Dalam macapatan, masyarakat akan membaca dan menyanyikan syair-syair doa.

Keesokan harinya, para nelayan dan masyarakat sudah siap untuk mengikuti tradisi larung sesaji ini. Dalam tradisi ini, yang bertugas mengawal sesaji hingga mengatur warga yang seringkali berebut naik ke atas perahu disebut Sakera. Para Sakera ini akan berpakaian dengan baju dan celana hitam-hitam, ditambah celurit di pinggangnya khas orang suku Madura.  Penamaan Sakera diambil dari penyebutan tokoh pejuang asal Pasuruan sekitar permulaan abad ke-19.

Puluhan perahu tersebut akan menuju ke Plawangan, sebuah lokasi berair tenang di dekat Semenanjung Sembulungan. Sesepuh nelayan siap melarung sesaji yang telah disiapkan ke samudera. Setelah dilarung, biasanya puluhan nelayan tersebut juga ikut terjun ke laut untuk mengambil sesajinya, seperti buah-buahan untuk mendapatkan berkah. Terkadang, nelayan juga menyiramkan air laut ke badan perahunya dengan harapan semoga berkah dan dijauhkan dari malapetaka. Sementara itu, kepala kambing akan dibiarkan di lautan lepas.

Arak-arakan perahu akan bergerak ke Sembulungan, semenanjung kecil di tengah perairan laut Muncar untuk melarung sesaji yang kedua kalinya, kemudian bersama-sama ziarah ke makam Sayid Yusuf –orang yang pertama kali membuka lokasi di Tanjung Sembulungan. Sekembalinya ke Muncar, masyarakat akan mandi dengan harapan mereka akan memperoleh berkah yang melimpah dari Sang Hyang Iwak atau Dewi Laut.

Selain di Muncar, tradisi Petik Laut juga diadakan di Malang, Sumenep, Bulusan, bahkan di Jember.


Artikel diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Tradisi Petik Laut

Previous post

Filosofi Pamali yang Melekat Pada Masyarakat Indonesia

Next post

Mengintip Cara Membuat Ilabulo, Si "Kembar" Pepes Khas Gorontalo

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.