#KodeNusantaraBlog

Nilai Religius Suku Mandar Dalam Perahu Sandeq

Perahu Sandeq merupakan perahu tradisional yang dimiliki oleh suku Mandar. Mayoritas suku Mandar mendiami daerah Sulawesi Barat. Suku Mandar sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam, sehingga banyak nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Salah satunya dalam membuat perahu tradisional mereka, yaitu Sandeq. Perahu Sandeq terdiri dari 5 bagian inti, yaitu dasar lambung (balakang), kepala perahu (paccong), petaq perahu, sanggar kemudi (sanggilang) dan layar perahu.

  • Dasar Lambung Perahu atau Balakang

Balakang menjadi bagian paling dasar dari lambung Sandeq. Bagian ini terbuat dari kayu utuh yang dikeruk tengahnya. Bagian inilah yang menjadi dasar ukuran panjang dan besarnya Perahu Sandeq. Balakang dapat dikatakan sebagai pondasi dalam struktur Perahu Sandeq.

Masyarakat Mandar memiliki pondasi keyakinan yang digunakan sebagai dasar dari pembuatan, arah, dan laju Perahu Sandeq, yaitu ussul, pamali, dan mantera. Mereka meyakini ketiga pondasi keyakinan tersebut merupakan kekuatan batin dan spiritualitas yang integral.

Ussul adalah kebiasaan yang dianjurkan, pamali merupakan sesuatu yang dilarang, dan mantera adalah bacaan yang diyakini memiliki kekuatan. Ketiganya sebagai bagian dari nilai ketuhanan yang dipadukan dengan praktik-praktik kebudayaan suku Mandar.

  • Kepala Perahu atau Paccong

Paccong adalah bagian terdepan Perahu Sandeq yang berbentuk limas segitiga runcing dan posisinya menjulang ke atas. Paccong berfungsi sebagai panduan arah haluan Perahu Sandeq. Bentuk dan posisi paccong yang didesain sedemikian rupa membuat nelayan mudah melihat dari belakang meskipun perahu dalam posisi sedikit turun ke laut.

Paccong merepresentasikan cara kerja pikiran suku Mandar untuk menggerakkan hidup dari perahu. Masyarakat Mandar lebih mengedepankan cara-cara rasional dalam mencari rejeki, yang dikemas dengan ajaran-ajaran Islam. Paccong dengan posisi menjulang ke atas bermakna posisi manusia ketika berdoa kepada Tuhan.

  • Petaq Perahu

Petaq adalah lubang berbentuk segi empat yang terletak di antara kalandara, yang berfungsi sebagai geladak. Petaq terdiri dari tiga tempat, yaitu petaq depan, tengah, dan belakang. Petaq depan sebagai tempat barang yang menyimbolkan harapan akan banyaknya tangkapan hasil laut. Petaq tengah menjadi pusat dari aktivitas kerja manusia. Petaq belakang menjadi ruang bagi pemimpin Sandeq. Ketiga petaq ini juga dimaknai dengan nabi, yaitu Nabi Sulaiman as, Nabi Ibrahim as, dan Nabi Nuh as.

Simbolisasi tersebut menunjukkan bahwa suku Mandar dalam menjalankan kehidupannya berlandaskan pada ajaran agama Islam. Selain itu, mereka juga memegang teguh keteladanan nabi dalam menerapkan kehidupan sehari-hari. Penanaman makna tersebut menjadi bukti ajaran Islam sangat dipegang teguh dalam segala aktivitas kehidupan mayoritas suku Mandar. Ajaran Islam telah melingkupi seluruh orientasi ekonomi dan keselamatan yang ada dalam perahu.

  • Sanggar Kemudi atau Sanggilang

Sanggilang terdiri atas dua balok yang melintang atas dan bawah. Dua balok melintang sebagai sanggar kemudi bagi nelayan merupakan sesuatu yang berpasangan. Sanggilang yang di atas adalah sanggilang moane yang merepresentasikan laki-laki dan sanggilang di bawah merupakan sanggilang baine yang merepresentasikan perempuan.

Simbol sanggilang moane dan baine menggambarkan konsep hidup dalam budaya suku Mandar yang disebut sebagai siwali parri, di mana peran laki-laki dan perempuan bersama-sama sebagai tumpuan arah hidup ekonomi keluarga.

  • Layar Perahu

Layar terbuat dari kain atau plastik dengan bentuk segitiga. Bentuk segitiga menggambarkan pemaknaan akan hubungan antara Allah SWT, Nabi Muhammad saw, dan Nabi Adam as. Ketiga unsur tersebut tidak dapat dilepaskan dari aktivitas masyarakat Mandar dalam berlayar.

Layar juga dimaknai sebagai hati pada Perahu Sandeq. Seperti halnya manusia, angin bagi Sandeq diibaratkan sebagai nafas, jadi keluar masuknya angin pada layar, sama seperti keluar masuknya nafas pada hati manusia. Jadi, kemampuan menggerakkan layar sama halnya juga kemampuan mengelola dan menggerakkan hati Perahu Sandeq untuk memaksimalkan daya hidup, seperti kemampuan manusia dalam mengelola dan menggerakkan hatinya.


Data diolah dari berbagai sumber.


Data Terkait:

PDBI – Perahu Sandeq

Previous post

Pernikahan Adat Batak Toba: Rumit, tapi Sarat Makna

Sumber: Wikimedia
Next post

Gambang Kromong, Wujud Akulturasi Betawi dan Tionghoa

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.