#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Make Tamui, Upacara Panjat Bambu Sebelum Menanam

Jauh di pedalaman Bengkayang, Kalimantan Barat, terdapat tradisi unik yang dimiliki oleh Suku Dayak Bidayuh. Tradisi tersebut adalah Nyobeng, berupa ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang. Sejatinya, Nyobeng merupakan ritual meminta restu langit saat hendak panen padi atau bentuk syukur atas panen yang berlimpah. Kementerian Pariwisata atau yang sekarang bernama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia memasukkan tradisi Nyobeng ke dalam agenda kepariwisataan internasional. Tepatnya pada 15-16 Juni 2019 lalu, dihelat International Nyobeng Dayak Bidayuh Festival.

Ngayau merupakan tradisi perang dan mengambil kepala musuh untuk dibawa pulang ke desa sebagai bukti kemenangan, yang mana tengkoraknya akan diawetkan. Saat ini, mengayau sudah tidak dilakukan lagi. Ternyata selain keasrian alamnya, kita juga akan disuguhkan oleh ritual mistis dan horor ya.

Dalam tradisi Nyobeng, warga akan memandikan atau membersikan tengkorak manusia dalam upacara adat yang disebut upacara Make Tamui atau upacara naik bambu. Di Kabupaten Bengkayang, tepatnya di Desa Rambai, suasana kekeluargaan dapat kita rasakan, karena warga menerima tamunya dengan tangan terbuka. Make Tamui memang sangat dinanti, saat prajurit desa membuka pintu langit untuk memohon perlindungan pada tahun tersebut. Bertani bagi Suku Dayak merupakan hal yang sakral dengan menggunakan cara-cara kearifan lokal. Suku Dayak dan alam memang tidak dapat dipisahkan, karena bercocok tanam merupakan upaya penghidupan, juga menjaga alam yang sudah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Tradisi Nyobeng juga tidak selalu dikaitkan dengan menaman padi saja, tetapi juga menanam ubi, timun, terung, pisang, dan beberapa jenis palawijaya. Dalam Make Tamui, para pria yang memanjat adalah orang-orang yang telah dipilih melalui serangkaian seleksi adat. Para pemanjat akan memanjat bambu seukuran empat meter yang disandarkan pada sebuah pohon. Ketika matahari mulai meninggi, Upacara Make Tamui segera dimulai. Warga yang datang dan melihat berpakaian rapi, khususnya Ibu-ibu berpakaian kebaya dan kaki-kaki mereka bergemerincing gelang yang terbuat dari tembaga. Meraka berbaris rapi diikuti di belakangnya beberapa pria gagah.

Beberapa sesaji seperti babi, ayam, ikan, serta tuak yang difermentasi juga turut disiapkan. Para pemanjat juga diolesi oleh darah sesaji. Hal ini menggambarkan bentuk suka cita menyambut ritual Gawai atau Tipaiak’ng dalam bahasa Bidayuh. Hal yang menarik adalah para pemanjat berada di alam bawah sadar ketika akan memulai upacara. Prosedur dalam melakukan ritual ini dimulai dengan pemanjat muda, kemudian dilanjutkan oleh pemanjat senior. Pemanjat yang berhasil naik ke pohon melalui bambu, mulai membersihkan sesaji tahun lalu dan menggantinya dengan sesaji yang baru. Hal itu menandakan bahwa ritual berhasil dilakukan dan diartikan bahwa padi yang ditanam akan berbuah baik, jauh dari hama dan bencana alam.

Dari berbagai literasi, dalam upacara itu juga, warga memainkan tetabuhan. Gendang panjang yang dipasang menembus lantai balok, dibunyikan bersama dengan gong dan kenong. Tamu bisa menari bersama, asal berani memanjat tangga yang tingginya sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Warga juga mempersiapkan makanan yang bisa disantap secara gratis.

Tengkorak Manusia yang akan dimandikan. (sumber: Merah Putih)

Para tetua adat memandikan batok kepala manusia yang disimpan dalam rumah Bulug ke sebuah kotak bersama kalung babi hutan. Kepala manusia merupakan simbol harga diri. Kemudian, demi menjaga keamanan desa, dipotonglah seekor anjing yang darahnya digunakan untuk melumuri tiang penyangga di setiap rumah warga. Tujuannya untuk menolak roh jahat dan segala bencana yang akan datang. Setelah semua selesai, dilanjutkan dengan mandi bersama dengan air yang telah dimantrai.

Dilansir oleh Merah Putih (22/11/2018), upacara ini sebagai bentuk penghormatan para tetua pada tengkorak musuk yang mereka penggal kepalanya, sekaligus membangun solidaritas sosial. Selain itu, nilai menghargai perbedaan dan ketaatan terhadap aturan dan adat istiadat juga terdapat dalam upacara ini.


Referensi:

Mongabay

Merah Putih

PDBI – Nyobeng

Previous post

PEREMPUAN SEBAGAI CERITA TARI KREASI BARU

Next post

PADUAN HARMONI DUA TARI PAPUA

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.