#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Ruwahan, Megengan, dan Lempar Apem Untuk Arwah

Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang mempunyai tradisi budaya unik untuk menyambut Ramadhan. Tradisi ini telah dilakukan selama bertahun-tahun yang menggabungkan antara kepercayaan adat dan ajaran agama Islam. Tradisi penyambutan tersebut dikenal dengan sebutan ‘ruwahan’ yang berasal dari kata Ruwah yang berarti Arwah. Adapun tradisi lainnya yang terkenal ialah Lempar Apem, yaitu melempar Kue Apem ke atas sebagai bentuk menyambut arwah-arwah yang telah meninggal kembali selama bulan Ramadhan.

Tradisi Ruwahan dijalankan dengan mengunjungi makam leluhur atau anggota keluarga yang telah meninggal. Setelah itu, dilanjutkan dengan penggelaran pengajian yang dihadiri oleh warga-warga setempat. Pengajian sendiri berupa pembacaan surah Al-Qur’an, diikuti dengan doa-doa dan sholawat kepada Nabi. Kemudian pembagian makanan dan bekal untuk di bulan Ramadhan kepada warga yang hadir dan acara ditutup dengan harapan-harapan baik.

Upacara Megengan (sumber: Google)

Acara Ruwahan sendiri diadakan selama bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah, yaitu satu bulan sebelum bulan Ramadhan. Waktu pelaksanaannya sendiri bervariasi, meski yang pada umumnya diketahui ialah dilakukan 10 hari menjelang puasa.

Seiring perubahan masa Tradisi Ruwahan sendiri mengalami pergeseran di antaranya tradisi pelemparan kue apem untuk menyambut arwah yang sudah jarang ditemui di kalangan masyarakat. Kue Apem sendiri merupakan simbolis dari tali silaturahmi antar masyarakat.

Tradisi lainnya yang kental di wilayah Surabaya adalah Megengan. Perayaan Megengan diisi dengan makan Apem, yaitu serabi tebal yang berdiameter sekitar 15 cm yang dibuat dari tepung beras. Kue Apem yang diadaptasi dari kata dalam bahasa Arab, yaitu ‘afwan’ yang berarti maaf yang memberikan arti pada perayaan Megengan. Di perayaan Megengan ini semua yang hadir, bersama-sama melakukan selamatan dan tahlilan yang ditujukan untuk mendoakan keluarga dan kerabat yang telah berpulang ke Rahmatullah serta, baik keluarga, teman, kerabat untuk saling memaafkan.


Sumber:

Pewarta Nusantara

Kumparan

Wawancara

Info Lanjut:

PDBI – Upacara Adat Ruwahan

PDBI – Sambut Bulan Suci dengan Megengan

Artikel Sebelumnya

Sosok Wanita dalam Mitologi Jawa dan Sunda

Artikel Selanjutnya

Dugderan: Tradisi Khas Semarang Menyambut Ramadan

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.