#KodeNusantaraBeritaBlog

Jejak Tradisi Nyepi di Sumatera Utara

INFOBUDAYA.NET Mayoritas umat Hindu di Indonesia menetap di provinsi Bali. Ternyata, ada jejak keberadaan masyarakat Bali di Sumatera Utara!

Terletak di Dusun VI, Desa Paya Tusam, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, yang lebih dikenal dengan Kampung Bali. Menurut catatan sejarah, masyarakat Bali yang mendiami desa ini awalnya hanya terdiri dari 5 kepala keluarga (KK). Kelima KK tersebut adalah generasi pertama yang mendiami wilayah Paya Tusam pada tahun 1974. Dua tahun berikutnya, sebagian masyarakat Bali lain yang bekerja sebagai buruh di perkebunan Tanjung Garbus, Deli Serdang, datang ke desa ini dengan jumlah lebih besar. Hingga akhirnya, kini puluhan keluarga tinggal di Kampung Bali.Pada generasi kedua yang mendiami Kampung Bali, terdapat hanya 36 KK dari 74 KK merupakan suku Bali. Sisa 38 KK lainnya adalah suku Jawa yang datang dalam kurun tahun 1980 sampai 1990-an.

Sumber: visitlangkat.wordpress.com

Saat satu hari menjelang peringatan Nyepi yang biasa disebut nilem (hari tilem atau gelap bulan), para suku Bali berbenah menyiapkan perayaan besar agama Hindu. Pada hari tilem ini diadakan upacara mecaru, yang pada intinya mensucikan alam sekitar tempat tinggal dari gangguan roh jahat (Buthakala) agar tidak mengganggu kehidupan warga. Upacara mecaru dilaksanakan di pintu gerbang masuk Kampung Bali, lengkap dengan sebuah sanggah bambu yang digunakan sebagai tempat penampahan dan sejumlah sajen lainnya sebagai pelengkap ritual sembahyang. Segala rupa bahan-bahan sajen ini dipersiapkan secara bersama-sama oleh warga di Pura. Menjelang sore pukul 5, para warga berkumpul di tempat upacara mecaru, ritual dipimpin oleh seorang pemangku adat dengan khusyuk. Selama pelaksanaan ritual, para warga sekitar menyaksikan sembahyang umat Hindu ini dengan sikap tertib. Selepas pembacaan mantra, sajen yang telah dipersiapkan sebagai persembahan dihanyutkan oleh jemaah ke aliran sungai sekitar desa. Sungai telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Bali di Langkat. Setelah persembahan tersebut, jemaah dipersilakan pulang ke rumah masing-masing untuk melakukan ritual keliling rumah sambil membawa dupa pembakaran. Untuk selanjutnya, mereka berkumpul kembali ke Pura untuk melakukan ritual sembahyang Pengrupukan/Pangidaran.

Keesokan harinya, tepat pada hari perayaan Nyepi, maka umat Hindu Kampung Bali akan melakukan ritual Nyepi yang bermakna hari tanpa kesibukan (puasa). Selama hari Nyepi ini, kegiatan-kegiatan yang dilarang antara lain, amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak berpergian), serta amati lelanguan (tidak menghidupkan hiburan). Amalan baik yang bisa dilakukan antara lain, membaca kitab Weda. Ketika hari Nyepi ini umat Hindu Kampung Bali hanya berdiam diri di rumah, dan perkampungan akan menjadi sepi (kecuali aktifitas yang dilakukan oleh suku lainnya).

Patut dihargai bagaimana suku Bali di Langkat terus mempertahankan tradisi dan budaya luhur mereka di tanah perantauan. Saat ini, pemerintah Kabupaten Langkat telah menetapkan Kampung Bali menjadi salah satu objek wisata.

 

 

Sumber:

Visit Langkat

 

Info lebih lanjut:

Ogoh-Ogoh

Megoak-Goakan

Omed-Omedan

Megoak-goakan

Ritual Melasti

Previous post

Serba-Serbi Nyepi di Sulawesi

Next post

Fenomena Langka Saraswati di Hari Raya Nyepi

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.