Berita

Misteri Ebu Gogo: Antara Fakta dan Legenda Kanibalisme dari Tanah Flores

 

Tak banyak memang orang-orang Indonesia yang mendengar sekelumit kisah tentang Ebu Gogo, cerita rakyat dari Nagekeo, Flores, yang sangat melegenda. Meskipun tak setenar kisah Sangkuriang dari tanah Jawa atau kisah Malin Kundang di ranah Minang, kisah tentang Ebu Gogo ternyata telah mendunia melalui film dokumenter The Cannibal in the Jungle dan novel Legends of the Ebu Gogo.

Ebu Gogo, yang berarti ‘nenek pemakan daging’, dianggap sebagai makhluk mitos yang memiliki perawakan mirip manusia yang berdiri tegak, tidak berekor, memiliki tubuh yang dipenuhi bulu, dan berwajah mirip kera dengan gigi taringnya yang besar. Dilansir dari Ancient Origins, Ebu Gogo memiliki tubuh yang kecil dan tinggal di Gua Lia ‘Ua yang berjarak satu kilometer dari kampung asli ‘Ua. Wanita Ebu Gogo dikakatan memiliki payudara yang terjumbai panjang dan mereka bahkan menyangkutkannya ke bahu. Ebu Gogo berlari sangat cepat. Dikisahkan juga bahwa mereka kaum yang sangat rakus dan mampu menelan semuanya, termasuk anak anjing, anak babi, dan bahkan anak kecil.

Mungkin kisah tentang Ebu Gogo hanya dianggap sebagai isapan jempol belaka atau mitos untuk menakuti anak-anak sebelum tidur. Namun, adanya penemuan fosil Homo Floresiensis yang berusia 13.000 tahun di Liang Bua pada tahun 2003 dan kesaksian seorang peneliti asal Amerika bernama Dr. Timothy Darrow tentang sekelompok makhluk kanibal menyerupai manusia di Pulau Flores, telah membuka kemungkinan fakta tentang keberadaan Ebu Gogo yang sebenarnya.

Film dokumenter The Cannibal in the Jungle mengangkat kesaksian dr. Timothy Darrow mengenai sosok Ebu Gogo pada tahun 1977. Pada saat itu dr. Darrow bersama dua rekannya, dr. Gary Ward dan Drajat Saputra, peneliti asal Indonesia, sedang melakukan ekspedisi pengamatan mengenai spesies burung di hutan Flores Tengah. Dalam perjalanannya, mereka mengabadikan momen-momen saat salah satu Ebu Gogo berjalan di salah satu lembah dan melompat dari atas pohon saat sekelompok Ebu Gogo bermunculan dari balik bukit yang jauh di dalam hutan. Tak lama kemudian, sekelompok Ebu Gogo menyerang dr. Darrow dan kedua rekannya. Dr. Darrow sempat merekam peristiwa tersebut dengan kamera yang sebelumnya diletakkan di atas pohon untuk mengamati spesies burung langka. Ia menyaksikan bagaimana kedua rekannya tewas dicabik-cabik dan dimakan oleh Ebu Gogo. Sementara dr. Darrow berhasil melarikan diri dan diselamatkan penduduk sekitar.

Dr. Timothy Darrow (kiri), dr. Gray Ward (tengah), Drajat Saputra (kanan)

 

Cerita ini dianggap kontroversial karena tidak ada saksi atau bukti terkait peristiwa tersebut. Dr. Darrow dipenjarakan di LP Krobokan atas tuduhan pembunuhan dan memakan dua orang rekannya. Hingga tanggal 3 Februari 2013 silam, Dr. Darrow meninggal dunia di lapas tersebut, dan beberapa bulan setelahnya barang bukti berupa rekaman pembantaian itu pun ditemukan. Kesaksian ini kemudian didukung dengan adanya penemuan 9 fosil manusia kerdil Homo Floresiensis, salah satunya kerangka perempuan yang diperkirakan setinggi 100 cm. Namun, penemuan ini pun masih menjadi kontroversi akan kebenarannya di kalangan para ahli arkeologi terkait masalah isolasi dan evolusi.

Kerangka Homo Floresiensis

 

Meskipun demikian, terlepas dari apakah Ebu Gogo merupakan fakta atau legenda, sudah selayaknya kisah tentang Ebu Gogo tetap perlu kita lestarikan sebagai salah satu ekspresi budaya yang kita miliki.

sumber:

Kompasiana.com

Intisari Online

Inilah Dunia Kita

Previous post

Gohu Ikan : Sashimi Ala Ternate

Next post

Serba-Serbi Nyepi di Sulawesi

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.