BeritaBlog

Indahnya Bulan Di Malam Festival Kue Bulan

Setiap tanggal 15 bulan 8 tahun Imlek, masyarakat Tionghoa akan beramai-ramai memperingati hari raya Zhongqiu-jie ( 中秋節 )atau lebih dikenal oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia dengan Festival Kue Bulan. Beberapa daerah di Indonesia, seperti Bangka Belitung, Singkawang, dan Semarang lebih akrab mengenal hari ini sebagai hari ” Pat Ngiat Pan”. Menurut cerita masyarakat pada malam tersebut bulan akan bersinar paling terang dan besar dalam 1 tahun, mereka akan kumpul bersama dengan keluarga atau teman-teman untuk menikmati indahnya bulan pada malam hari itu.

Hal ini bermula pada kepercayaan masyarakat Cina tentang legenda “Dewi Bulan”. Konon pada zaman dahulu bumi dikelilingi oleh 10 matahari yang secara bergantian menerangi bumi. Namun pada suatu ketika, ke-10 matahari ini keluar secara bersamaan yang menyebabkan laut dan sungai menjadi kering, pohon dan tanaman menjadi layu, dan orang di bumi menderita akibat kemarau yang berkepanjangan.

Dikisahkan di kayangan hiduplah seorang dewa pemanah yg hebat, bernama Houyi 后羿, dia mempunyai istri yang memiliki paras sanagt cantik bernama Chang’e, mereka hidup dengan bahagia di kahyangan. Chang’e yang memiliki sifat penuh welas kasih, tidak tega melihat orang di bumi menderita akibat kekeringan, oleh karena itu ia meminta suaminya Houyi untuk memanah 9 matahari yang kemudian hanya menyisahkan 1 matahari saja, dan diperintahkan menyinari bumi secara bergiliran dengan bulan.

Ke-9 matahari yg dipanah turun itu ternyata adalah anak dari Mahadewa Dijun, yang kemudian menyebabkan Dijun sangat murka maka Houyi dan Chang’e diusir dari kayangan lalu diturunkan ke bumi dan hidup sebagai manusia biasa. Sesampai di bumi, Houyi dielu-elukan orang di bumi karena telah memanah turun 9 matahari yg berbuat masalah tersebut, maka mereka mengangkat Houyi sebagai raja.

Setelah menjadi raja, sifat Houyi menjadi angkuh dan serakah. Ia memaksa banyak orang di bumi untuk bekerja keras, melihat hal tersebut Chang’e sangatlah sedih. Pada suatu saat Houyi mendapat obat panjang umur yang didapat dari Mahadewi Xiwangmu. Diceritakan bahwa jika mereka berdua memakan obat tersebut maka mereka akan memiliki umur panjang, namun jika yang memakannya hanya satu orang saja maka orang tersebut akan menjadi seorang dewa.

Chang’e berpikir jika ia memakan obat itu bersama Houyi maka Houyi akan panjang umur dan hidup abadi yang mana penderitaan rakyat juga akan berlanjut, karena ketamakan sifat Houyi, maka pada malam hari tanggal 15 bulan 8 tahun Imlek, Chang’e diam-diam memakan habis obat panjang umur tersebut. Setelah makan obat tersebut, tubuh Chang’e menjadi ringan dan dia pun terbang, melihat hal tersebut Houyi berusaha untuk memanah Chang’e.

Untuk menghindari anak panah Houyi, maka Chang’e bersembunyi di bulan, dan akhirnya Chang’e menjadi penunggu istana Guang Han Gong di Bulan. Untuk mengenang jasa baik Chang’e yang menyelamatkan banyak orang, maka masyarakat Tionghoa pada malam tanggal 15 Bulan 8 Imlek akan melakukan ritual sembahyang bulan. Disiapkan kue bulan, buah-buahan, tebu, dll sebagai sajian ritual. Bagi yang memiliki anak gadis, maka mereka akan menaruh bedak di altar tersebut, hal ini bertujuan untuk memohon agar diberikan kecantikan dan kebaikan hati seperti Dewi Chang’e. Menurut cerita, pada malam tersebut bulan akan lebih besar dan terang, dan samar-samar terlihat Chang’e bersama seekor kelinci main di istana Guang Han Gong.

Dewi Bulan – Chang’e

Tradisi tersebut sampai hari ini masih dilakukan sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia. Biasanya pada malam tersebut masyarakat Tionghoa akan pergi ke kelenteng untuk sembahyang dan berdoa kepada para Dewa penjuru. Hal ini bertepatan karena pada hari tersebut juga merupakan hari lahir Dewa Tanah atau Thu Ti Pak Kung dan di beberapa kelenteng biasanya akan diadakan ritual “Lok-thung” yang merupakan permainan memanggil arwah sejenis Jailangkung.

Seiring dengan waktu tradisi sembahyang, festival bulan berubah menjadi hari wajib untuk berkumpul bersama sanak keluarga untuk menikmati keindahan bulan sembari menyantap Kue Bulan atau “Ngiat Kong Pan” dalam bahasa Hakka. Malam Pat Ngiat Pan juga identik dengan pemasangan lampion-lampion untuk merayakan hari raya musim gugur tersebut.

 

 

Sumber: wikipedia.org


Lebih jauh tentang:

Kue Bulan

Pat Ngiat Pan

Tionghoa

Previous post

Sikerei; Tradisi Unik Suku Mentawai

Next post

Rahasia Kecantikan Para Putri Keraton

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.