Berita

Kisah – Kisah Romantis dalam Budaya Indonesia

Siapa sih yang ngga tau tentang drama Korea? Kisah romantis Han Ji-eun (Song Hye- Kyo) dan Lee Yeong-jae (Rain) di Full House atau Yoo Si-jin (Song Joong-ki) dan Dr. Kang Mo-yeon (Song Hye-kyo) di Descendants of The Sun. Apa kalian tau bahwa Indonesia juga punya lho kisah romantis dari berbagai daerah. Beberapa memang berakhir manis namun tak sedikit juga yang berakhir tragis. Yuk kita simak bersama tiga cerita romantisme dari Budaya Indonesia.

 

Rara Mendut dan Panacitra

Kisah pertama ada Rara Mendut dan Panacitra. Kisah ini berasal dari Pati. Rara Mendut merupakan perempuan yang sangat cantik kala itu dan semua orang mengagumi kecantikannya dari penguasa kadipaten hingga panglima perang. Ketika itu yang secara terang–terangan menyatakan akan mempersunting Rara Mendut adalah Tumenggung Wiraguna. Namun, Rara Mendut  menolak lamaran tersebut dan lebih memilih pemuda yang dicintainya yaitu Panacitra. Karena penolakannya, Tumenggung Wiraguna pun mewajibkan Rara Mendut untuk membayar pajak. Untuk membayar pajak, Rara Mendut pun berjualan rokok. Bahkan rokok hisapan rokok Rara Mendut pun laku keras.

Singkat cerita, upaya Rara Mendut dan Panacitra untuk menjalin hidup bersama kandas. Ketika mereka ingin melarikan diri dari Mataram, rencana tersebut gagal. Kemudian Rara Mendut dipisahkan dari Panacitra. Hingga akhirnya Panacitra dibunuh oleh sang Panglima. Memilih untuk tetap setia kepada Panacitra, saat dipaksa untuk kembali ke Istana oleh Tumenggung Wiraguna, Rara Mendut mencabut keris yang ada di pinggang Wiraguna dan memilih untuk menghabisi nyawanya  sendiri diatas makam Panacitra. Mereka pun akhirnya dimakamkan bersama.

 

Datu Museng dan Maipa Deapati

Kisah kedua ada Datu Museng dan Maipa Deapati. Kisah ini berasal dari Makassar. Kisah ini juga salah satu kisah manis namun harus berakhir tragis. Datu Museng, pemuda asal Gowa, harus tumbuh di tanah Sumbawa bersama kakeknya karena tanah Gowa sedang bergejolak. Di Pondok Pengajian Mompewa, Datu Museng bertemu dengan Maipa Deapati yang merupakan putri bangsawan Sumbawa. Namun, cinta mereka berdua menjadi cinta terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran Kesultanan Sumbawa, Pangeran Mangalasa.

Singkat cerita, keduanya berhasil untuk menikah dan Datu Museng kembali ke tanah Sulawesi dengan membawa serta Maipa Deapati. Namun, perjalanan cinta mereka tidak selesai sampai disana. Kapten Belanda ternyata juga menaruh hati pada Maipa Deapati, dan melancarkan berbagai serangan kepada Datu Museng untuk merebut Maipa Deapati. Pada akhirnya, Datu Museng harus menuruti permintaan Maipa Deapati untuk membunuhnya, karena Maipa Deapati merasa lebih baik mati dari pada harus menyerahkan dirinya kepada Belanda.

 

Jayaprana dan Layonsari

Kisah ketiga ada Jayaprana dan Layonsari. Kisah ini berasal dari Bali. Jayaprana seorang anak yatim piatu yang diangkat menjadi abdi kerajaan dan lantas menjadi abdi kesayangan Raja Kalianget. Ketika sudah diharuskan untuk menikah, Jayaprana memilih calon dari luar kerajaan yang bernama Layonsari. Layonsari anak seorang Jero Bendesa. Mereka pun menikah. Namun ternyata, Raja Kalianget menaruh hati kepada Layonsari karena parasnya yang menawan. Lantas Raja Kalianget melakukan rencana jahat dengan cara membunuh Jayaprana. Setelahnya, Raja Kalianget menemui Layonsari dan mencoba merayunya agar menjadi permaisuri. Namun Layonsari Menolak. Mendengar penolakan tersebut. Raja Kalianget memaksa Lanyonsari untuk ikut bersamanya ke Istana. Namun Layonsari dengan cepatnya mencabut keris yang ada di pinggang Raja Kalianget. Layonsari pun menikam dirinya sendiri menggunakan keris itu.

Begitulah drama romantisme yang ada di Budaya Indonesia. Setia ya wanita–wanita di Indonesia. Memang, tidak semuanya berakhir tragis, ada pula yang berakhir dengan manis. Kalau cerita rakyat dari daerahmu seperti apa?


Cerita Rakyat

Rara Mendut

Maipa Deapati

Layonsari

Artikel Sebelumnya

Ritual – Ritual Unik Mensyukuri Hasil Panen di Indonesia

Artikel Selanjutnya

Hari - Hari Yang Wajib di Hindari Menurut Kalender Batak

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.