#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Nyadran, Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Bulan Suci Ramadan

Nyadran terdiri dari serangkaian kegiatan seperti besik kuburan (membersihkan kuburan), ziarah kubur dan kondangan atau kenduri atau kenduren. Biasanya dilakukan di hari ke-sepuluh bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Meskipun tidak harus tepat harinya, tetapi orang Jawa biasanya mengambil hari tersebut.

Ritual Nyadran dimulai dengan datang ke kuburan untuk resik-resik atau membersihkan kuburan baik dari rumput liar, kotoran daun kering atau ranting kering. Jaman dahulu, di desa, kami biasa datang bersamaan, biasanya orangtua dan  anak-anaknya diajak untuk ikut membersihkan kuburan. Bisa kuburan nenek/kakek, saudara atau leluhur lainnya. Biasanya masyarakat membawa gathul (sejenis cangkul tapi hanya seukuran sabit) untuk mencabuti rumput, dan sapu lidi. Saat membersihkan kuburan biasanya tidak sendirian, karena hampir semua warga desa yang mempunyai leluhur di kuburan akan datang dan ikut resik-resik.

Kemudian akan dilanjutkan dengan nyekar/ziarah kubur, menaburkan bunga dan mendoakan arwah nenek moyang yang telah tiada.

Nah, biasanya 2 atau 3 hari kemudian (tergantung kesepakatan tetua dusun), setelah bersih-bersih kuburan, warga desa akan melakukan ritual selanjutnya, yaitu kenduri atau kenduren di area kuburan tersebut. Akan dipilih tempat di antara kuburan yang cukup lapang untuk ditata alas tikar yang bisa menampung warga dusun. Karena hampir semua warga dusun, tua muda, besar kecil akan datang dan ikut kenduren. Tetapi kenduren tidak hanya di area kuburan tetapi bisa di area sumur agung (di desa biasanya ada sumber air yang airnya menjadi andalan warga saat kemarau). Tetapi  kenduren juga bisa dilakukan di rumah salah satu warga desa. Intinya pilihan tempat untuk kenduren terserah warga desa tersebut.

Menu yang dibawa untuk kenduren biasanya nasi gurih (nasi yang dimasak dengan santan kental) yang ditaburi kacang kedelai goreng, dengan lauk ayam, tempe, sayur Lombok ijo (jangan Lombok ijo), perkedel, kering tempe, mie goreng,  telur rebus, dilengkapi dengan rempeyek kedelai. Tak lupa ada makanan kecil yang menjadi makanan khas, yaitu apem (kue dari campuran tepung beras, santan yang dimasak dengan disangan).

Semua makanan diletakkan di atas tampah kecil, atau di tenongan (tempat nasi terbuat dari bambu) nasinya dibuat kerucut atau tumpeng kemudian di atas nasi ditancapi cabe dan bawang putih yang ditusuk sodho atau ditusuk lidi. Setiap rumah akan membawa satu buah nasi kenduren lengkap dengan lauk-pauknya. Kemudian semua makanan tersebut akan diletakkan di tengah-tengah warga yang duduk bersila. Selepas Pak Kyai atau Mbah Modin mengucapkan doa yang diamini oleh warga, lalu langsung menyerbu makanan yang tersedia. Biasanya warga tidak mengambil makanan yang dibawa sendiri, tetapi memilih mengambil makanan yang dibawa tetangga. Dan begitulah, semua yang hadir makan bersama menikmati berkah yang ada sambil tak luap mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber:

Kompasiana

Info Lanjut:

PDBI – Nyadran

Previous post

Balimau, Tradisi Menjelang Ramadan di Minangkabau

Next post

Bentuk Pertahanan Diri dalam Tari Kancet Papatai

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.