Blog

Sembilan Sastrawan Legendaris Indonesia dan Puisi Karyanya

Puisi-puisi yang indah dan melegenda lahir dari sastrawan-sastrawan hebat dan fenomenal. Indonesia memiliki sastrawan melegenda yang tidak kalah dari sastrawan asing. Karya-karyanya sangat berpengaruh terhadap kesusastraan Indonesia. Sejumlah judul puisinya melekat pada ingatan para penikmat sajak. Berikut adalah sastrawan legendaris dari Indonesia.

 

1. Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai Bapak Hujan Bulan Juni. Puisi-puisinnya mampu menderaskan rindu dan tulus terhadap hal apapun. Diksi-diksi yang dipakainya dalam puisi selalu tepat pada setiap sajaknya. Lirik-liriknya sederhana tetapi memiliki makna yang dalam. Contoh karya monumentalnya adalah “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin”.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

2. Chairil Anwar

Chairil Anwar dijuluki dengan Si Binatang Jalang. Dia dinobatkan sebagai pelopor sastrawan angkatan 45. Karya legendarisnya berjudul “Aku”. Dia mampu melahirkan karya yang heroik dan menggugah kehidupan. Ia menggubah puisi-puisi bertajuk pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga multi-interpretasi. Dia meninggal pada usia 26 tahun.

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

 

3. Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad biasa disingkat GM. Dia adalah sastrawan sekaligus budayawan yang berpandangan liberal. Pemikirannya terbuka dan berpengaruh terhadap karya-karyanya. Selain sajak, dia banyak menulis karya sastra lain. Dia menulis sejak usia 17 tahun. Dia pendiri majalah Tempo dan sekarang menjadi komisarisnya. Dia masih aktif menulis Catatan Pinggir di Majalah Tempo.

Yang tak menarik dari mati
adalah kebisuan sungai
ketika aku menemuinya.
Yang menghibur dari mati
adalah sejuk batu-batu,
patahan-patahan kayu pada arus itu

 

4. Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji berhasil mengeluarkan puisi dari pakemnya karena dia menggubah puisi seperti mantra. Dia banyak menggunakan bahasa figuratif. Puisinya yang berjudul “Tragedi Winka Sihka” memunculkan tafsiran yang berlainan.

di luar wiski
di halaman
anak-anak bermain
bayangkan kalau tak ada anak-anak di bumi
aku kan lupa bagaimana menangis katanya

 

5. Sitor Situmorang

Sitor Situmorang adalah penyair dari Batak yang memulai karirnya sebagai jurnalis. Selain puisi, dia juga menulis esai dan cerita pendek. Larik-larik puisinya menyiratkan makna yang mendalam.

Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di
…Sisik samudra.

 

6. Joko Pinurbo

Joko Pinurbo mengemukakan bahwa jarak tidak pernah ada karena pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Dia melahirkan karya-karyanya yang memadukan unsur naratif, ironi refleksi diri, dan tak jarang membubuhkan unsur ‘nakal’. Dia telah menggeluti puisi sejak remaja dan mulai menulis pada usia 20-an.

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
tapi Insyaallah suatu saat
bisa kutemukan sebuah kiblat
di ufuk barat tubuhmu.

 

7. Remy Silado

Remy Silado bernama asli Yepi Panda Abdiel Tambayong. Tulisannya lekat dengan kritik terhadap berbagai persoalan termasuk sosial dan budaya. Dalam menulis puisi, dia kerap menggunakan kata-kata arkais. Dia juga menulis drama, novel, buku, dan lainnya.

Di celah-celah sudut sempit terhimpit
Manusia seperti sandal jepit menjerit-jerit
Pohon-pohon pun tertawa
Tertawa melihat manusia

ia kembali bersujud

Jiwa terasing dalam dunia bising
Diinjak, remak, permak
Lalu kiamat
Ia tamat

 

8. Widji Thukul

Widji Thukul adalah penyuara aspirasi kaum akar rumput. Lewat karyanya, dia mengorasikan perlawanannya terhadap rezim Orde Baru.  Tulisannya menggugah semangat para kaum tertindas. Namun dia dinyatakan hilang pada usia 34 tahun.

mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

disedot
sampai pucat

 

9. W.S. Rendra

W.S. Rendra adalah sastrawan dari Solo. Karya-karyanya punya pengaruh besar terhadap kesusastraan Indonesia. Namun tidak termasuk pakem ’45, ’60, atau ’70-an. Karyanya hasil dari kebebasannya sendiri. Dia menggubah karyanya dengan kata-kata yang apik dibaca dan didengar.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

 

Sumber: Idntimes

Previous post

Mengenal Jenis Tari Bali di Momen Hari Tari Sedunia

Next post

Belajar dari Falsafah Hidup Masyarakat Bugis Makassar

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *