BeritaBlog

Mengenal Lebih Jauh Bahasa Tegal

Jum’at 7 April 2017, diskusi online “Omongan Budayo” yang diadakan oleh Sobat Budaya membahas mengenai Bahasa Tegal. Pembahasan kali ini menghadirkan Irwan Suswandi sebagai narasumber.

Materi dari Narasumber

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Bahasa, Bahasa Tegal disebut sebagai dialek. Badan bahasa membagi bahasa di Pantura (pantai utara Jawa) menjadi dua, yaitu DBJPUB (Dialek Bahasa Jawa Pesisir Utara Jawa bagian Barat) dan DBJPUT (Dialek Bahasa Jawa Pesisir Utara Jawa bagian Timur). DBJPUB inilah yang disebut sebagai dialek Tegal.
Unhlenbeck, seorang ahli linguistik dari Belanda membagi Bahasa Jawa menjadi empat dialek dan tiga belas subdialek. Satu dari empat dialek itu adalah dialek Banyumasan yang di dalamnya terdapat subdialek Tegal. Oleh sebab itu, jika didasarkan pada kategori penyebutan bahasa dalam ranah akademis, Tegal bukanlah sebuah bahasa yang berdiri seniri, melainkan masuk ke dalam Bahasa Jawa.
Perlu digarisbawahi bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat di kabupaten dan kota yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, sebagian Kebumen, Cilacap, dan Banjarnegara adalah bahasa yang jauh lebih tua daripada bahasa Jawa ‘standar’. Bahasa Jawa standar itu adalah bahasa yang digunakan di wilayah Solo dan Jogja. Dikatakan lebih tua karena memang bahasa yang digunakan oleh seperti masyarakat Tegal dan sekitarnya, masih ada warisan dari bahasa Jawa kuno. Terutama dari segi sistem fonologi dan imperatifnya. Akan tetapi karena politik dan untuk legitimasi kerajaan yang dipindahkan ke Mataram, kemudian dibuatlah bahasa ‘baru’, yaitu bahasa Jawa standar.
Oleh karena wilayah Tegal dan sekitarnya jauh dari pusat Mataram dan juga masih intens berinteraksi dengan masyarakat Sunda, oleh karenanya bahasa yang digunakan masyarakat Tegal bukanlah menggunakan bahasa standar tersebut. Jadi, masih menggunakan sistem fonologi atau pelafalan seperti bahasa Jawa Kuno. Jika dalam bahasa Jawa standar untuk menyebutkan /lunga/ itu dengan fonem /a/ yang dibunyi [O] bulat. Adapun dalam bahasa Jawa Tegalan, kata /lunga/ akan tetap dibunyikan [lunga], tidak dengan bunyi [O]. Untuk diketahui, bahasa Tegalan adalah bahasa komunikasi verbal atau lisan. Istilahnya itu adalah basa kanggo sesrawungan atau ‘bahasa untuk pergaulan’, bukan bahasa tulis. Sehingga memang belum ada aturan baku di dalamnya. Di setiap wilayah yang dianggap ‘serumpun’ dengan bahasa Tegalan memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing. Seperti misalnya, bahwa kata inyong itu tidak digunakan oleh masyarakat Tegal. Melainkan oleh masyarakat kebudayaan Kebumen, Banyumas, dan sebaginya.

Sesi Tanya Jawab

Penanya 1:

  1. Apa betul sudah ada kamus bahasa Tegal yang telah dibukukan?
  2.  Bagaimana kelas dalam subdialek Tegal? Apakah tetap berlaku seperti bahasa Jawa ala Solo/ Jogja? Krama-ngoko, dll.
  3. Adakah pengaruh kultural, atau lingkungan sosial politik ketika subdialek Tegal muncul?

Jawaban

  1. Sejauh ini Pak Hadi Utomo sudah membuatnya. Beliau telah mendaftar etima atau kosakata-kosakata dalam bahasa Tegalan, dari yang masih dikenal oleh masyarakat Tegal saat ini maupun yang sudah tidak dikenal lagi.
  2. Dulu saat belum ada bahasa Jawa standar, dalam masyarakat Jawa Tegalan sudah mengenal tingkatan dalam berbahasa. Meskipun tidak sebegitu rapi dan jelas sebagaimana dalam bahasa Jawa standar. Melainkan hanya dalam segi pemilihan kosakata saja. Untuk saat ini, karena bahasa Jawa Solo – Jogja dijadikan sebagai bahasa ‘nasional’, maka pengaruh ragam Krama dan Ngoko itu pun digunakan oleh masyarakat Tegal.
  3. Pengistilahan bahasa Tegalan sebagai subdialek itu adalah dari Uhlenbeck. Didasarkan pada sebuah penelitian Dialektologi. Hal ini karena dari segi kosakata, Tegal masih mempunyai banyak kesamaan dengan bahasa Jawa standar. Terdapat faktor diakronis dan sinkronis. Lingkungan kultural dan artifisial sangat berpengaruh dalam pembentukan kosakata dan pelafalan.

Penanya 2:

  1. Politik yang seperti apakah yang mempengaruhi bahasa tersebut?
  2. Sejak kapan dialek-dialek tersebut ada dan bagaimana penyebarannya sehingga bisa sampai ke pesisir Jawa Barat Banten?

Jawaban

  1. Dulu sebelum ada kerajaan Mataram, terdapat kerajaan Majapahit. Wilayah kekuasaan Majapahit itu dari wilayah Timur Jawa sampai ke wilayah Barat, yang dipisahkan oleh Sungai Pemali yang menjadi batas dengan kerajaan Padjajaran. Begitulah ketika kerajaan akhirnya berpindah pusat dari Trowulan ke Surakarta, namun daerah pinggirannya, yaitu Tegal dan sekitarnya, masih terdapat pengaruh bahasa Jawa saat kerajaan Majapahit.
  2. Dialek itu ada ketika munculnya kajian ilmu Dialektologi. Jadi, dengan adanya Dialektologi itu, dapat dilihat bahasa-bahasa mana yang termasuk bahasa, dialek, subdialek, atau hanya sekadar variasi. Berkenaan dengan penyebaran dialek itu, sehingga dikenal juga dialek Serang di Banten, karena tidak lepas dari adanya transmigrasi dan sistem kerja rodi dan romusha pada saat penjajahan. Oleh karena banyak pendatang, serta kemampuan orang Jawa beradaptasi, maka bahasa Jawa lah yang menjadi bahasa utama dalam komunikasi. Dengan berinteraksi dengan bahasa lokal yang sudah ada sebelumnya, maka muncullah dialek-dialek atau subdialek-subdialek atau variasi-variasi bahasa.

Penanya 3:
Selama ini bahasa Tegal sering kali dinilai lebih kasar dari bahasa Jawa Solo ataupun Surakarta. Bagaimana menyikapi pemikiran tersebut? Bukankah untuk bahasa Tegal tersebut nilainya sama luhurnya?

Jawaban
Sebetulnya tidak ada yang namanya bahasa kasar atau bahasa tidak sopan. Pengistilahan bahasa kasar muncul dari pelabelan orang yang mendengar bahasa Tegalan secara langsung. Tentang bagaimana ekspresifnya orang Tegal dalam berbicara, sehingga nada dan intonasi terdengar keras dan kencang. Lalu juga tentang bagaimana lugas dan apa adanya orang Tegal, sehingga umumnya sering menggunakan bahasa ragam Ngoko (jika meminjam istilah dalam bahasa Jawa standar).

Penanya 4:

  1. Subdialek Tegal itu lebih kuna/tua dari bahasa standar. Jika dilihat dari sisi diakronis, apakah ada perubahan pelafalan pada bahasa Jawa kuna/tua (yang dulu) dengan subdialek Tegal (sekarang), dan bagaimana membuktikannya?
  2. Untuk sistem vokal “O”, apakah vokal “A” pada bahasa Jawa kuna/tua (yang sekarang disebut subdialek Tegal) diubah seluruhnya menjadi vokal “O” sehingga tercipta bahasa Jawa standar saat ini?
  3. Apakah ada hubungan antara subdialek Tegal dan bahasa Sunda? Melihat pelafalannya banyak kemiripan pada vokal /A/?

Jawaban

  1. Secara diakronis, atau perubahan yang dilihat antarera, terdapat perubahan bahasa Jawa Kuno, begitupun bahasa Tegalan. Meskipun salah satu yang masih terwariskan adalah fonologi dalam membunyikan fonem /a/ di morfem atau kata yang terbuka, yaitu morfem atau kata yang terakhirnya adalah fonem vokal, namun ada juga fonologi dalam bahasa Jawa Kuno yang sudah tidak ada lagi dalam subdialek Tegal. Contohnya adalah alofon atau variasi bunyi [s]. Jika dalam bahasa Jawa Kuno ada tiga variasi atau alofon,maka di subdialek Tegal hanya dikenal satu bunyi tanpa variasi. Jika pada Jawa Kuno terdapat vokal pendek dan panjang, maka dalam subdialek Tegal hanya terdapat vokal biasa saja.
  2. Bahasa itu konvensi, artinya berdasarkan pada kesepakatan. Jaid, pasti terdapat kesepakatan-kesepakatan yang ada pada saat perumusan bahasa Jawa standar. Adapun apakah Jawa standar itu hanya mengubah bunyi [o] saja pada setiap bunyi [a] dalam subdialek Tefal, tentu terdapat pertimbangan-pertimbangan.
  3. Pada intinya ada, karena wilayah Tegal berbatasan sangat dekat dengan wilayah Sunda. Selain pelafalan bunyi [a], persamaan lainnya adalah antara subdialek Tegal dan bahasa Sunda, sama-sama tidak mengenal fonem /dh/ dan fonem /th/.

Penanya 5:

Pertanyaan
Sebelum pindahnya pusat kerajaan Mataram, wilayah pengguna bahasa Jawa standar sekarang, apakah dulu juga menggunakan bahasa subdialek Tegal?

Jawaban
Ketika munculnya kerajaan Mataram, mulai digunakanlah bahasa standar tersebut. Maksud dari ‘pembuatan’ bahasa ini bukanlah sepenuhnya dibuat dari nol. Tetapi dengan penambahan atau variasi-variasi dari bahasa Jawa sebelumnya yang ada di wilayah Surakarta. Bahasa antara Jawa Kuna sampai akhirnya menjadi Jawa Baru yang dipakai menjadi bahasa standar sekarang ini, dikenal dengan Jawa Pertengahan. Jadi dalam masyarakat kebudayaan Surakarta pada saat itupun masih terdapat pengaruh Jawa Kuno. Meskipun sekarang jejak itu tidak lagi begitu tampak seperti bahasa Tegalan sekarang ini.

 

Moderator dan Notulen: Bella Yuningsih (Sobat Budaya)

Previous post

Ekskursi Techno Culture Tour #KodeNusantara: Edisi Situs Megalitikum Gunung Padang

Next post

Bincang #KodeNusantara bersama “Global Month of Service” Starbucks Indonesia “Experience and Living Your Culture Everyday”

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.