#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Nilai-Nilai di Balik Tradisi Merti Bumi

Tradisi merti bumi bukan hanya membicarakan soal aspek hubungan manusia dengan Tuhan dan alam tetapi juga hubungan manusia dengan manusia. Banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi merti bumi, yaitu: nilai gotong royong, nilai ini terlihat dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan yang dilakukan bersama-sama antar masyarakat. Misalnya dalam hal biaya penyelenggaraan ditanggung bersama. Demikian pula dalam hal gotong royong yang dilakukan masyarakat pada waktu diadakan kerja bakti di tempat penyelenggaraan upacara.

Pada waktu pembuatan gunungan salak gung rinenggo, nilai kegotongroyongan jelas terlihat, mereka dengan suka rela membantu sampai selesai. Mereka membantu secara suka rela, sehingga merasa puas, dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat yang dapat dilestarikan atau dipertahankan.

Nilai persatuan, tradisi merti bumi dapat berperan untuk menggalang persatuan dan kesatuan antar masyarakat. Persatuan dan kesatuan masyarakat tersebut dinyatakan adanya pembagian makanan dan makan bersama yang dilakukan pejabat desa, tamu undangan dan masyarakat. Oleh karena itu, dorongan untuk melaksanakan tradisi merti bumi merupakan dasar yang kuat bagi masyarakat dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Sebagai contoh dalam membuat sesaji, dalam kerja bakti dan persiapan minuman atau makanan untuk suatu pelaksanaan upacara. Bahkan pada saat pelaksanaan upacara telah selesai, mereka bersama-sama membersihkan tempat-tempat yang telah digunakan dan mengembalikan ke tempat semula

Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, mempunyai anggapan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian, tetapi selalu tergantung kepada sesamanya. Oleh karena itu, tradisi merti bumi yang menyangkut kegiatan seluruh warga ditujukan untuk kepentingan bersama. Hal ini disebabkan pada dasarnya tradisi tersebut untuk kepentingan bersama, memberikan kesejahteraan, ketenteraman dan keselamatan masyarakat. Nilai persatuan dan kesatuan yang ada sehubungan dengan adanya tradisi merti bumi dapat pula dilihat pada waktu pelaksanaan upacara. Masyarakat sekitar tempat pelaksanaan tradisi merti bumi dilaksanakan dengan senang hati membuka pintu rumahnya dan menyediakan makan dan minum bagi siapa saja yang mampir di rumahnya untuk istirahat sejenak.

Nilai musyawarah, tradisi merti bumi sangat menjunjung tinggi nilai musyawarah. Hal ini ditunjukkan dalam pelaksanaan tradisi merti bumi. Sebelum diselenggarakan, dibentuk panitia secara musyawarah, yang dinamakan rembug desa, antara masyarakat dengan aparat desa. Dalam musyawarah tersebut dibicarakan bagaimana cara mencari dana untuk penyelenggaraan.

Nilai pengendalian sosial, tradisi merti bumi selain merupakan suatu upaya masyarakat memberikan penghormatan dan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga merupakan upaya pelestarian tradisi yang sangat besar manfaatnya. Berbagai pantangan yang berlaku dalam penyelenggaraan tradisi tersebut membuktikan ketaatan masyarakat terhadap tradisi merti bumi yang telah diyakininya.

Nilai kearifan lokal, tradisi merti bumi yang dilakukan masyarakat mempunyai kearifan lokal yang dapat dilestarikan. Hal ini ditujukan pada waktu pengambilan air di Sendhang Pancuran. Sebelum prosesi Pancuran, diadakan kerja bakti membersihkan lingkungan. Air dari Sendhang Pancuran diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Jadi Sendhang Pancuran harus dijaga kebersihannya supaya dapat lestari. Selain itu, air dari Sendhang Pancuran ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya.

Tradisi merti bumi berkaitan dengan kepercayaan dan merupakan salah satu bentuk warisan budaya leluhur yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan. Pada hakikatnya tradisi tersebut merupakan kegiatan sosial yang melibatkan seluruh masyarakat dalam usaha bersama untuk mendapatkan keselamatan, ketenteraman bersama.


Data diolah dari berbagai sumber.

Data Terkait:

PDBI – Yogyakarta

Artikel Sebelumnya

Tonya, Hantu “Berbudaya” dari Bali

Artikel Selanjutnya

Segudang Manfaat dari Keluak, Si Buah “Mabuk Kepayang”

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.