#KodeNusantaraBlog

Sosok Wanita dalam Mitologi Jawa dan Sunda

Pasti pernah dengar Dewi Athena (yunani kuno), Dewi Isis (Mesir Kuno) atau Dewi Kwan Im (Budha). Nama mereka cukup familiar mengisi film box office ataupun serial TV yang bertemakan peradaban kuno Eropa, Mesir Kuno dan Asia. Dalam mitologi kuno para Dewi ini menjadi simbol, contohnya Dewi Athena diakui sebagai dewi kebijaksanaan, strategi dan perang, sedangkan Dewi Isis dikenal sebagai dewi alam dan sihir. Dalam mitologi Nusantara pun dikenal beberapa sosok wanita yang menjadi simbol dalam kehidupan masyarakat. Siapa sajakah mereka?

Dewi Sri / Nyi Pohaci

Foto: Tropenmuseum Bell Van

Dewi Sri / Nyi Pohaci merupakan Dewi yang menjadi perwujudan sakti Wisnu yang selalu dihubungkan dengan unsur keberuntungan dan kemakmuran. Konon katanya Dewi Sri ini adalah Dewi yang menguasai dunia bawah tanah juga bulan. Dipercayai bahwa Dewi Sri dapat mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi, ia juga berperan sebagai dewi yang mengatur kehidupan kekayaan dan kemakmuran. Berkahnya terutama padi yang melimpah dan dimuliakan sejak zaman kerajaan Majapahit dan Padjajaran. Yang menarik, dewi Sri dalam mitologi nusantara memiliki beberapa versi. Salah satu versi kisah Dewi Sri / Nyi pohaci diceritakan dalam Wawacan Sulanjana.

Dalam Wawacan Sulanjana (Naskah Kuno Sunda) diceritakan bahwa Nyi Pohaci ini terlahir dari air mata Dewa Anta yang jatuh ke tanah, dengan ajaib tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau-kilau bagai permata, ternyata mustika itu merupakan telur yang memiliki cangkang yang indah. Kemudian Dewa Anta berusaha mempersembahkan ketiga telur itu untuk sang penguasa kahyangan, yaitu Batara Guru, sebagai persembahan permohonan maafnya atas ketidakmampuannya membangun istana di kahyangan karena ia tak memiliki tangan dan kaki.

Dewa Anta membawa telur itu dengan memasukannya ke dalam mulutnya, namun ketika di perjalanan menuju Batara Guru berada ia bertemu dengan seekor gagak, gagak tersebut menyapanya namun Dewa Anta tidak menjawabnya lantaran mulutnya dipenuhi oleh ketiga telur yang akan dipersembahkan kepada Batara Guru. Sang Gagak pun sangat marah karena merasa Dewa Anta berlaku sombong kepadanya, akhirnya sang gagak menyerang Dewa, akibat serangan gagak tersebut pecahlah dua telur mustika yang dibawanya. Akhirnya Dewa Anta mempersembahkan telur itu kepada sang penguasa kahyangan. Batara Guru pun merasa senang dengan persembahannya lalu memerintahkan Dewa Anta untuk mengerami telur tersebut. Secara ajaib telur itu menetaskan seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi perempuan itu segera diangkat anak oleh Batara Guru dan permaisurinya. Nyi Pohaci Sanghyang Sri adalah nama yang diberikan kepada putri itu.

Seiring waktu berlalu, Nyi Pohaci tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi. Bahkan kecantikan nyi pohaci ini mengalahkan kecantikan para bidadari dan dewi lainnya di kahyangan, akhirnya Batara Guru pun jatuh cinta kepada anak angkatnya. Namun, para dewa di kahyangan khawatir apabila Nyi Pohaci sampai dipersunting oleh Batara Guru maka akan dapat merusak keselarasan di kahyangan, maka para dewa pun bersepakat untuk membunuh Nyi pohaci dengan menggunakan racun yang mematikan.

Lenyapnya Dewi Sri dari kahyangan membuat Batara Guru, Anta, dan segenap dewata pun berduka. Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi sang dewi, maka dari dalam kuburannya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia.

  • Dari kepalanya muncul pohon kelapa.
  • Dari hidung, bibir, dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah-rempah wangi dan sayur-mayur.
  • Dari rambutnya tumbuh rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum
  • Dari payudaranya tumbuh buah buahan yang ranum dan manis.
  • Dari lengan dan tangannya tumbuh pohon jati, cendana, dan berbagai pohon kayu yang bermanfaat; dari alat kelaminnya muncul pohon aren atau enau bersadap nira manis.
  • Dari pahanya tumbuh berbagai jenis tanaman bambu.
  • Dari kakinya mucul berbagai tanaman umbi-umbian dan ketela; akhirnya dari pusaranya muncullah tanaman padi, bahan pangan yang paling berguna bagi manusia.

Cerita Dewi Sri ini memiliki berbagai macam versi, namun satu hal yang menjadi kesamaan adalah simbol dewi padi dan kemakmuran bagi pangan di Nusantara ini, berbagai macam ritual dilakukan oleh rakyat di Nusantara untuk berterima kasih atas keberkahan yang diberikan oleh Dewi Sri / Nyi Pohaci.

Nyi Roro Kidul

Foto: Gunawan Kartapranata

Nyi Roro Kidul dipercayai sebagai penguasa pantai selatan Jawa. Ia kerap disebut nama dengan Ratu Laut Selatan atau Gusti Kanjeng Ratu Kidul. Namanya sering menghiasi cerita rakyat jawa atau sunda sebagai Ratu lelembut tanah Jawa. Kisah Nyi Roro Kidul ini memiliki versi yang beragam di kalangan Masyarakat di pulau Jawa.

Salah satunya adalah legenda di zaman kerajaan Padjajaran, Prabu Siliwangi yang merupakan raja Padjajaran memiliki seorang selir yang cantik jelita, arif dan bijaksana bernama Putri Kandita. Prabu Siliwangi pun sangat menyayanginya, hal ini membuat pada selir lainnya iri, hingga pada suatu hari para selir yang iri meminta bantuan kepada seorang dukun untuk mengguna gunai sang putri. Tidak berselang lama, setelah si dukun menjampi-jampi, tubuh Putri Kandita penuh borok, bahkan Ibu Putri Kandita pun terkena juga. Bau dari luka-luka itu sangat menyengat. Sang Prabu menitahkan para tabib dari manapun untuk mengobati penyakit tersebut. Hingga Sang Permaisuri atau Ibu Putri Kandita mangkat atas penyakit itu. Kematian itu membuat Sang Prabu terpukul. Selama berhari-hari, ia tercenung sendirian.

Hal ini tidak disia-siakan oleh para selir dan para putrinya. Mereka memberikan hasutan-hasutan supaya Sang Prabu mengusir Putri Kandita. Awalnya, Sang Prabu tidak mau, tapi karena mereka menyampaikan ketakutan-ketakutan akan ketularan, Sang Prabu dengan berat hati menyetujui usulan tersebut. Termakan sudah umpan.

Terbuang sia-sia, Putri Kandita berjalan tanpa tentu arah, hingga sampai di Pantai Selatan. Sebuah suara menuntun Putri Kandita untuk menceburkan diri ke dalam laut.

“Ceburkanlah dirimu ke dalam laut, Putri Kandita, jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu. Kulitmu akan mulus seperti sedia kala.” Meyakini suara itu sebuah wangsit, Putri Kandita segera melakukan yang diperintahkan. Ajaib! Ketika menyentuh air, seluruh tubuh Putri Kandita yang dihinggapi borok berangsur-angsur hilang dan menjadi mulus kembali. Bahkan, Putri Prabu Siliwangi itu menjadi sakti.

Walaupun telah sembuh dari penyakit guna-guna, Putri Kandita tidak kembali lagi ke istana. Ia memilih untuk menetap di pantai selatan wilayah Padjajaran itu. Sejak menetap disana, banyak orang-orang sakti yang datang untuk melamarnya. Putri Kandita mengajukan syarat bahwa orang yang menjadi suaminya haruslah orang sakti. Tapi, tidak ada satu pun orang yang mengalahkan kesaktian Sang Putri. Yang terjadi malah orang-orang sakti itu menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa yaitu Nyai Roro Kidul, atau dalam sebutan lain Kanjeng Ratu Kidul 

Kedua kisah dewi dari mitologi ini menandai peranan wanita yang cukup vital dalam mitologi di Pulau Jawa dan Bali. Keduanya menggambarkan kebaikan dan keihklasan seorang wanita dalam menjalani kehidupan meski dihadapkan dalam sebuah kenyataan yang sulit namun tetap berwelas asih dalam berperilaku.

Masih banyak cerita rakyat lainnya di Perpustakaan Digital Budaya Indonesia yang berlatar tentang kegigihan, kebaikan dan kesabaran wanita.

Sumber:

Wikipedia

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Previous post

Sambal Ganja Khas Aceh Tidak Berbahan Ganja

Next post

Ruwahan, Megengan, dan Lempar Apem Untuk Arwah

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.