#KodeNusantaraBlog

Bukan Halloween Tapi Dongkrek dari Madiun

Tradisi dengan mengenakan topeng seram apa cuma Hallowen? Ternyata Indonesia pun memiliki tradisi dengan atribut topeng yang menyeramkan. Tradisi kesenian ini dikenal warga Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun Jawa Timur dengan sebutan Dongkrek.

Asal mula nama Dongkrek berasal dari bunyi-bunyian yang menggiringinya, teridiri dari bunyian ‘dung’ berasal dari beduk atau kendang dan ‘krek’ ini dan alat musik yang disebut korek. Alat korek ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar, di satu ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang saat digesek berbunyi krek. Dari bunyi dung pada kendang dan krek pada korek itulah muncul nama kesenian Dongkrek.

Kesenian Dongkrek merupakan seni perpaduan antara seni tari, seni, musik, seni topeng, dan seni ceritera (drama) yang biasanya dipertunjukan dengan arak-arakan keliling kampung. Kesenian Dongkrek dicipta oleh oleh Raden Bei Lo Prawirodipura yang saat itu menjadi demang (jabatan setingkat kepala desa) yang membawahi lima desa di daerah Caruban yang sekarang menjadi Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun.

Menurut legenda pada tahun 1879-an daerah Caruban yang kini berganti nama jadi Kecamatan Mejayan mengalami krisis pangan (pageblug) dan terjangkit wabah penyakit mematikan. Dalam situasi dan kondisi yang memprihatikan ini, Raden Prawirodipuro melakukan ikhtiar dengan cara meditasi atau bertapa di gunung kidul Caruban. Ia kemudian mendapatkan wangsit bahwa krisis pangan dan wabah penyakit yang terjadi akibat bala dan ulah dari kerajaan makhluk halus yang jahat atau pasukan gendruwo. Oleh sebab itu dilawan dengan cara mengusirnya. Untuk menolak bala dan mengusir makhluk halus yang jahat dan pasukan gendruwa perlu alat maka dari itu diciptakan kesenian yang melukiskan pengusiran roh halus jahat atau gendruwa.

sumber: kampusundip.com

Komposisi pertunjukan satu babak pengusiran roh halus terdiri dari barisan butha (dari bahasa Jawa yang berarti buto atau raksasa), orang tua sakti, dan dua perempuan paruh baya. Perempuan ini menyimbolkan kondisi rakyat yang lemah karena dikepung oleh para pasukan butha Kala. Sebelum pasukan butha berhasil mematikan para perempuan, muncul sesosok lelaki tua sakti yang dengan tongkatnya berhasil mengusir para barisan roh halus untuk pergi menjauh. Selanjutya terjadi peperangan cukup sengit antara rombongan butha dengan orang tua sakti, yang dimenangkan oleh si lelaki sakti. Rombongan butha yang kalah akhirnya menurut dan patuh. Si orang tua sakti yang didampingi dua perempuan menggiring pasukan butha kala keluar dari Desa Mejayan dan sirnalah pageblug.

Saat ini sanggar kesenian Dongkrek yang masih mempertahankan pakem atau keaslian seni Dongkrek tanpa adanya perubahan adalah sanggar Dongkrek “Krido Sakti” pimpinan Walgito. Sanggar Krido Sakti merupakan sanggar yang dulunya dibentuk dan diketuai oleh almarhum Doerakim selaku keturunan Raden Lo Prawirodipuro.

Apabila kamu berkunjung ke madiun sempatkan untuk mampir ke Sanggar Krido sakti di Dusun Gendoman Desa Mejayan Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun.

Sumber:
Perpustakaan Digital Budaya Idnonesia – Tari Dongkrek
ejurnal.unipma.ac.id

Previous post

Mengenal Doli-Doli Hagita Alat Musik Membranophone dari Nias

Next post

Mengenal Aksara Jawa Honocoroko

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.