#KodeNusantaraBlog

Tari Bambangan Cakil, Tarian Tradisional Khas Jawa Tengah

Jawa Tengah merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Kota Semarang yang menjadi ibu kota dari Provinsi ini. Pulau Jawa memiliki beragam kebudayaan yang masih terbilang cukup kental. Warisan dari para leluhur masih amat sangat masyarakat Jawa jaga dan terus dilestarikan sampai sekarang. Sehingga sampai saat ini mereka masih tetap melakukan berbagai adat istiadat kebudayaan yang mulai dari upacara-upacara tradisi, pergelaran kesenian, tari-tarian dan sebagainya. Berbicara mengenai Pulau Jawa dan kesenian, Provinsi Jawa Tengah memiliki tari tradisional khasnya yang bernama Tari Bambangan Cakil. Ingin tahu lebih lengkap mengenai kesenian khas Jawa Tengah ini? Yuk kita simak ulasannya!

Tari Bambangan Cakil merupakan tarian tradisional khas Jawa Tengah. Tarian ini diadaptasi dari salah satu adegan dalam pergelaran wayang kulit, di mana adegan tersebut bernama Perang kembang. Dalam penampilan pewayangan, Tari Bambangan Cakil ini akan keluar di tengah-tengah proses pertunjukan. Biarpun tarian ini diadaptasi dari pewayangan, tetapi tarian ini tidak memiliki percakapan dan hanya disampaikan melalui gerakan. Tarian ini menceritakan tentang sosok ksatria yang berperang melawan raksasa, serta menjelaskan peperangan antara kebaikan melawan kejahatan. Tokoh pewayangan yang memerankan Tari Bambangan ini adalah Arjuna sebagai kesatria dan Cakil sebagai raksasanya.

Untuk mengetahui bagaimana cerminan karakter Ksatria dan Cakil adalah dengan melihat gestur tubuh penari, serta atribut yang mereka kenakan. Digambarkan bahwa Ksatria memiliki sifat baik yang terlihat dari gerakan tariannya yang lembut dan lemah gemulai, sedangkan raksasa Cakil sendiri memiliki sifat kasar dan beringas yang terlihat dari gerakan tariannya sangat lincah dan luwes, ditambah atribut topeng menyeramkan yang penari gunakan.

Sumber: videomix.cz

Pemilihan pemeran dalam Tari Bambangan ini juga harus melalui berbagai syarat yang meliputi fisik penari, sifat dari penari, serta gerakan dari penari itu sendiri. Untuk pemeran Ksatria, pemain harus memiliki wajah rupawan dan gerakan yang lembut dan luwes, sedangkan pemeran Cakil diharuskan memiliki perawakan lincah karena Ia akan menampilkan kesan kasar, serta beringas. Pemeran Cakil juga harus luwes karena gerakan tokoh Cakil cenderung atraktif.

Pertunjukan Tari Bambangan Cakil tidak hanya dimainkan oleh 2 orang saja melainkan ada beberapa peran pendukung yang berperan sebagai pasukan raksasa, serta penari wanita sebagai pasangan dari Kesatria. Para pemain pendukung ini muncul pada saat awal pertunjukkan, agar pertunjukkan menjadi lebih menarik dan tidak terkesan kaku. Tarian ini diiringi musik gending srempengan, Ladrang Cluntang Sampak Laras Slendro. Tidak lupa juga bahwa gerakan tarian ini harus selaras dengan musik pengiringnya, sama seperti tarian khas Jawa pada umumnya.

Mengikuti perkembangan zaman saat ini, Tari Bambangan Cakil semakin dikembangkan dengan cara penambahan penari atau improve dalam gerakan. Tari Bambangan Cakil ini sering ditampilkan pada berbagai acara budaya, baik acara penyambutan tamu kehormatan atau festival budaya karena gerakan tarinya yang begitu artistik dan nilai-nilai di dalamnya yang begitu khas. Tari Bambangan Cakil memiliki makna bahwa segala bentuk kejahatan dan keangkaramurkaan pasti kalah dengan kebaikan. Tarian ini harus selalu dilestarikan, agar generasi penerus dapat mengetahui bahwa Indonesia memiliki kesenian tari yang unik dan beraneka ragam.


Sumber:

Wikipedia – Tari Bambangan Cakil

negerikuindonesia.com – Tari Bambangan Cakil Tarian Tradisional

Info Lanjut:

PDBI – Jawa Tengah

Previous post

Mengenal Kudapan ‘Nendang’ Bernama Lenggang

Next post

Mengenal Smong, Pengetahuan Tentang Tsunami Masyarakat Simeulue

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.