#KodeNusantaraBlog

Ratu Zaleha Pejuang Perempuan Dari Banjar

Mungkin kita sering mendengar nama Cut Meutia dan Cut Nyak Dien ketika kita berbicara tentang pahlawan perempuan yang berjuang melawan penjajahan. Namun ternyata Indonesia memiliki banyak pahlawan perempuan di antaranya Marta Christina tahun 1817 di Maluku, Nyi Ageng Serang (1752-1828) Jawa Tengah, Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung Jabar, Rohana Kudus (1884-1972) di Padang, namun masih banyak pahlawan perempuan lainnya yang mungkin tidak banyak diketahui, salah satunya ialah Ratu Zaleha.

Nama asli Ratu Zaleha ialah Gusti Zaleha. Ratu Zaleha atau Djaleha lahir di Muara Lawung, tahun 1880. Dia adalah putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari, yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar, melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Kakeknya berpesan bahwa perempuan Banjar harus berjiwa patriot dengan semboyan “Waja Sampai Kaputing” yang artinya “tetap bersemangat dan kuat bagaikan baja dari awal sampai akhir”. Ketika mulai beranjak dewasa, dia bersama ayahnya gencar mengusir penjajah dan selalu dikejar Belanda sampai masuk hutan ke luar hutan.

Sebelum ayahnya meninggal Gusti Zaleha sempat diberi cincin kerajaan dari ayahnya. Sejak saat itu dia menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi kemudian diberi gelar Ratu Zaleha. Bersama suaminya Gusti Muhammad Arsyad terus melanjutkan perjuangan ayahnya melawan penjajahan Belanda.

Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai dan Suku Banjar bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah bernama Bulan Jihad, seorang perempuan yang sangat pemberani yang selalu bahu membahu di medan pertempuran.

Selama masa perjuangan fisik Ratu Zaleha bersama Bulan Jihad (masuk Islam) memberikan pelajaran baca tulis (Arab Melayu) dan ajaran agama Islam kepada anak-anak Banjar serta memberikan penyuluhan kepada perempuan-perempuan Banjar tentang peranan perempuan, ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan.

Ratu Zaleha sangat murka manakala suami dan pasukannya dilumpuhkan Belanda. Suaminya ditangkap lalu diasingkan ke Bogor pada tahun 1904. Tetapi ia pantang menyerah dan terus mengadakan perlawanan yang tinggi mempertahankan Benteng Manawing dan Tambang Batu Bara Oranje Nassau atas gempuran Belanda yang lengkap persenjataannya.

Ratu Zaleha dianggap macan wanita yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Kiprahnya dalam Perang melawan Belanda berjalan 5 tahun. Tetapi karena kondisi fisik Ratu Zaleha mulai menurun karena kelelahan dan pasukannya juga satu persatu gugur dalam suatu pertempuran yang sangat tidak berimbang. Pada bulan Juni tahun 1905, pasukan Ratu Zaleha dilumpuhkan dan dia ditangkap kemudian bersama Ibunya Nyai Salmah diasingkan ke Bogor bersama-sama suaminya Gusti Muhammad Arsyad.

Setelah tertawannya Ratu Zaleha maka berakhirlah “Perang Banjar” yang dimulai tahun 1859. Dan Belanda dengan leluasa menjajah di bumi Kalimantan ini.

Ratu Zaleha

Selama 31 tahun Ratu Zaleha bersama keluarganya di pengasingan kemudian diizinkan kembali ke Banjarmasin, 1937. Dan pada tanggal 24 September 1953 Ratu Zaleha berpulang ke rahmatullah, dimakamkan di komplek Makam raja-raja Banjar di Banjarmasin.

Ratu Zaleha adalah sosok ibu bangsa yang berjuang  untuk kemerdekaan yang patut kita teladani perjuangannya.


Sumber:

Sastra Banjar

Previous post

Kandaure, Aksesoris Khas Toraja

Next post

Ikan Opudi, Ikan Endemik Sulawesi Selatan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.