#KodeNusantaraBlog

Jangan Merusak Alam, Nanti Kena Bobeto!

Di Tidore, Maluku Utara alam seperti bukit dan gunung adalah tempat keramat yang harus dihormati. Maka dari itu, orang-orang Tidore sangat merawat alamnya. Bahkan dalam merawat alam, mereka memiliki tradisi seperti Paca Goya. Untuk memperkuat aturan agar tidak merusak alam, mereka juga mengenal istilah Bobeto.

Bobeto semacam fatwa atau perjanjian oleh lembaga adat di Kalaodi. Warga menaati, sebagai hukum yang tak melanggar. Bunyi Bobeto dalam bahasa Tidore, yakni nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon. Artinya, siapa merusak alam, nanti dirusak alam (Aghary, 2018). Bobeto dipegang kuat masyarakat Kalaodi. Dalam tradisi setempat, ada kepercayaan tak bisa menebang atau merusak pohon-pohon tertentu, karena diyakini bisa kena dampak buruk, seperti sakit. Ada juga lembah dan bukit tak bisa dirusak karena diyakini ada penjaganya.

Dalam hal menjaga alam,  warga Tidore memiliki tradisi tidak merusak dan tidak mengambil secara berlebihan. Ada semacam pamali, jika melanggar tradisi  dengan merusak atau menebang pohon secara sembarangan (EH, 2016). Sumpah Bobeto ini diucapkan oleh Bobato  adat atau pemimpin adat  yang dikenal dengan Sowohi. 


Sumber:

  • Aghary, A. (2018, Mare 17). PDBI Ritual. Retrieved from PDBI: https://budaya-indonesia.org/Bobeto/
  • EH, A. (2016, Desember 24). Kabar Pulau Kabar Kota Pulau. Retrieved from Kabar Pulau: http://kabarpulau.com/detail-berita-kalaodi-kampung-penjaga-tradisi-tidore-page-3.html
Previous post

Lada Katokkon, Si Pedas Banyak Manfaat

Next post

Perang untuk Bertoleransi?

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.